SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER. KAMI AKAN MENYEDIAKAN BERITA DAN KONTEN ISLAMI TERUPDATE SETIAP MINGGUNYA
Post Yang Belum Di Upload

23-25. BERDEKATANNYA ZAMAN (SINGKATNYA WAKTU). BERDEKATANNYA PASAR. MUNCULNYA KEMUSYRIKAN

Waktu Terasa Pendek Waktu Di Akhir Zaman Mengapa Waktu Semakin Cepat Waktu Terasa Semakin Cepat Waktu Begitu Cepat
TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
23. BERDEKATANNYA ZAMAN (SINGKATNYA WAKTU)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى… يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ.
‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga… zaman berdekatan.’” [1]
Dan diriwayatkan dari beliau Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.”[2]
Ada beberapa pendapat para ulama tentang makna berdekatannya zaman, di antaranya:
Pertama : Maksudnya adalah sedikitnya keberkahan di dalam waktu.[3]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hal ini telah didapati pada zaman kita sekarang ini. Karena kita telah menjumpai cepatnya waktu berlalu yang tidak pernah kita temukan pada zaman sebelum kita.” [4]
Kedua : Maksudnya adalah apa yang akan terjadi pada zaman al-Mahdi dan Nabi ‘Isa Alaihissallam, di mana manusia menikmati kehidupannya, adanya jaminan keamanan, juga keadilan. Saat itu manusia merasakan singkatnya masa-masa kemakmuran padahal waktunya lama, dan masa-masa sulit dirasakan lama padahal singkat.[5]
Ketiga : Maksudnya adalah kedekatan (kemiripan) keadaan penghuninya dalam hal sedikitnya ilmu agama. Sehingga, tidak ada amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah mereka karena mendominasinya kefasikan dan para pelakunya. Secara khusus hal itu terjadi ketika upaya mencari ilmu ditinggal-kan serta ridha dengan kebodohan. Karena sesungguhnya manusia tidak sama dalam keilmuannya, dan beragamnya tingkatan ilmu mereka, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“… Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]
Dan mereka dikatakan sama hanya ketika dalam kebodohan.
Keempat : Maksudnya adalah berdekatannya orang-orang pada zaman tersebut karena banyaknya sarana-sarana perhubungan dan transportasi darat maupun udara yang mendekatkan jarak yang jauh.[6]
Kelima : Maknanya adalah singkatnya waktu, cepat secara hakiki, hal itu terjadi di akhir zaman.
Peristiwa ini belum terjadi sampai sekarang, hal itu diperkuat oleh riwayat yang menjelaskan bahwa hari-hari ketika Dajjal datang terasa lama, sehingga satu hari bagaikan satu tahun, bagaikan satu bulan dan bagaikan satu pekan. Sebagaimana hari-hari itu terasa lama, maka ia pun bisa terasa singkat [7]. Ini terjadi karena rusaknya tatanan alam, dan telah dekatnya kehancuran dunia.
Ibnu Abi Jamrah rahimahullah[8] berkata, “Kemungkinan yang dimaksud dengan dekatnya zaman adalah singkatnya (waktu) sesuai dengan yang diungkap dalam sebuah hadits:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga satu tahun bagaikan satu bulan.”
Oleh karenanya, maka singkatnya waktu bisa berupa sesuatu yang dapat dirasakan oleh indra atau sesuatu yang maknawi.
Adapun yang bisa dirasakan indra sama sekali belum nampak, mungkin hal itu terjadi sebagai tanda dekatnya Kiamat.
Adapun yang maknawi, hal itu sering terjadi. Hal itu dirasakan oleh para ulama dan orang-orang yang memiliki kecerdasan dalam ilmu dunia. Mereka mendapati diri mereka tidak mampu melakukan pekerjaan persis seperti yang dilakukan sebelumnya, mereka mengeluhkannya dan tidak mengetahui alasan akan hal itu, kemungkinan hal itu terjadi karena lemahnya keimanan yang disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran syari’at dalam berbagai hal, terutama pelanggaran dalam hal makanan. Tidak diragukan di dalamnya ada sesuatu yang murni haram dan yang syubhat, dan kebanyakan manusia tidak berhenti mengkonsumsi hal itu, walaupun ia sanggup untuk mendapatkan sesuatu yang halal, akan tetapi dia tetap mengambilnya tanpa mau peduli.
Dan kenyataannya bahwa keberkahan dalam waktu, rizki, dan tumbuhan hanya dapat diwujudkan dengan kekuatan iman, mengikuti perintah, dan menjauhi larangan, dalil akan hal itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” [Al-A’raaf: 96][9]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiihul Bukhari, kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fath).
[2]. Musnad Ahmad (II/537-538, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz), dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas, lihat Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab az-Zuhd bab Ma Jaa-a fii Taqaarubiz Zamaan wa Qashril Amal (VI/624, 625, Tuhfatul Ahwadzi).
Ibnul Katsir berkata, “Isnadnya berdasarkan syarat Muslim,” an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Al-Haitsami berkata, “Perawinya adalah perawi ash-Shahiih,” Majma’uz Zawaa-id (VII/231).
Al-Albani berkata, “Shahih,” lihat kitab Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/175, no. 7299).
[3]. Lihat Ma’aalimus Sunan (VI/141-142, dengan catatan pinggir Mukhtashar Sunan Abi Dawud, karya al-Mundziri), Jaami’ul Ushuul, karya Ibnul Atsir (X/409), dan Fat-hul Baari (XIII/16).
[4]. Fat-hul Baari (XIII/16)
[5]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/16)
[6]. Lihat Ithaaful Jamaa’ah (I/497), dan al-‘Aqaa-idul Islaamiyyah (hal. 247), karya Sayyid Sabiq.
[7]. Mukhtashar Sunan Abi Dawud (VI/142), Jaami’ul Ushuul (X/409) tahqiq Muhammad ‘Abdul Qadir al-Arna-uth.
[8]. Beliau adalah al-‘Allamah Abu Muhammad ‘Abdullah bin Sa’d bin Sa’id bin Abi Jamrah al-Azdi al-Andalusi al-Maliki, seorang alim di bidang hadits dan memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Jam’un Nihaayah merupakan ringkasan kitab Shahiih al-Bukhari, beliau pun memiliki kitab al-Maraa-il Hasan yaitu kitab tentang hadits dan tafsir mimpi.
Ibnu Katsir mengomentari beliau dengan perkataannya, “Al-Imam, al-alim, ahli ibadah… dia adalah orang yang selalu mengatakan kebenaran, memerintah yang ma’ruf dan melarang kemunkaran.”
Wafat di Mesir pada tahun 695 H t.
Lihat biografinya dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (XIII/346), al-A’laam (IV/ 89).
[9]. Fat-hul Baari (XIII/17).
24. BERDEKATANNYA PASAR
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ، وَيَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ.
“Tidak akan datang hari Kiamat hingga muncul berbagai fitnah, banyaknya kebohongan, dan berdekatannya pasar.” [1]
Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah [2] berkata, “Adapun berdekatannya pasar, maka telah ada sebuah riwayat yang menjelaskannya di dalam sebuah hadits dha’if, yaitu kelesuan pasar dan sedikitnya keuntungan, yang jelas -wallaahu a’lam- bahwa hal itu merupakan isyarat terhadap apa yang terjadi di zaman kita sekarang ini berupa berdekatannya penduduk bumi; hal itu karena adanya alat transportasi udara atau darat, alat-alat elektronik yang bisa mengirim suara, seperti siaran radio, dan telepon, yang dengannya pasar-pasar di berbagai belahan dunia menjadi dekat. Maka tidaklah terjadi perubahan harga di suatu negara kecuali para pedagang -atau kebanyakan dari mereka- di negeri-negeri lain mengetahuinya, maka hal itu bisa menambah harga jika (di tempat lain pun bertambah), dan bisa menguranginya jika (di tempat lain pun) berkurang, para pedagang dengan kendaraannya pergi ke pasar-pasar di perkotaan yang perjalanan sebelumnya membutuhkan beberapa hari, lalu dia memenuhi kebutuhannya di sana dan kembali hanya dalam satu hari atau kurang, seseorang pergi menggunakan pesawat ke pasar di berbagai kota yang sebelumnya perjalanan tersebut membutuhkan sebulan atau lebih, dia memenuhi kebutuhannya di sana dan kembali hanya dalam waktu satu hari atau kurang.
Berdekatannya pasar ditinjau dari tiga sisi:
Pertama : Cepatnya berita terhadap apa yang akan terjadi di dalamnya berupa bertambah dan berkurangnya harga.
Kedua : Cepatnya perjalanan dari satu pasar ke pasar lain, walaupun per-jalanannya sangat jauh.
Ketiga : Persaingan harga antara yang satu dengan yang lain dan persaingan pedagang dalam menaikkan atau menurunkan harga, wallaahu a’lam. [3]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (II/519, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
[2]. Beliau adalah al-‘Allamah Syaikh Hamud bin ‘Abdillah at-Tuwaijiri an-Najdi, salah seorang ulama kontemporer, sekarang beliau bertempat tinggal di Riyadh. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Ithaaful Jamaa’ah bima Jaa-a fil Fitan wal Malaahim wa Asyraatus Saa’ah dalam dua jilid, beliau memiliki beberapa risalah kecil dan bantahan, seperti ash-Shaarimul Masluul ‘ala Ahlit Tabarruj was Sufuur, at-Tanbiihaat ‘ala Risaalatil Albani fish Shalaah dan Fashlul Khitaab fir Radd ‘ala Abi Turab juga yang lainnya.
[3]. Ithaaful Jamaa’ah (I/498-499).
25. MUNCULNYA KEMUSYRIKAN PADA UMAT INI
Ini adalah di antara tanda-tanda Kiamat yang telah nampak dan akan semakin bertambah. Telah terjadi kemusyrikan pada umat ini, dan berbagai kabilah dari umat ini mengikuti kaum musyrikin, mereka menyembah ber-hala, membangun berbagai macam bangunan di atas kuburan dan menyembah-nya selain kepada Allah dengan tujuan mengambil keberkahan dan mengagungkannya, memberikan berbagai nadzar, dan merayakan berbagai perayaan, kebanyakan darinya (kubur-kubur) mempunyai kedudukan seperti Latta, Uzza, Manat bahkan lebih besar lagi kemusyrikannya.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari Tsauban Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي؛ لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي اْلأَوْثَانَ.
‘Jika pedang telah diletakkan pada umatku, maka ia tidak akan pernah diangkat darinya sampai hari Kiamat, dan tidak akan tiba hari Kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.’”[1]
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ.
‘Tidak akan datang hari Kiamat hingga pantat-pantat para wanita Daus bergoyang di sekitar Dzil Khalashah.’”[2]
Dzul Khalashah adalah thaghut kabilah Daus yang mereka sembah pada masa Jahiliyyah. [3]
Apa-apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini telah terjadi. Karena sesungguhnya kabilah Daus dan sekitarnya dari kalangan Arab telah terkena fitnah Dzul Khalashah ketika kebodohan kembali masuk ke negeri-negeri mereka. Kemudian mereka mengulang sejarah mereka, menyembah selain Allah, hingga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah menegakkan dakwah tauhid dan memperbaharui segala macam syi’ar-syi’ar agama yang telah tenggelam. Akhirnya kembalilah Islam ke Jazirah Arab, demikian pula yang dilakukan oleh al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Saud rahimahullah. Beliau mengutus beberapa orang da’i ke daerah Dzul Khalashah, mereka menghancurkannya dan merobohkan sebagian bangunan yang ada di sana, lalu ketika pemerintahan keluarga Saud berakhir atas Hijaz pada masa tersebut, maka orang-orang kembali kepada peribadahannya. Kemudian ketika raja ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdirrahman Alu Su’ud rahimahullah naik tahta, beliau menugaskan wakilnya di tempat itu dan mengirim beberapa pasukan untuk menghancurkannya dan menghilangkan semua bekas-bekasnya. Hanya milik Allah-lah segala puji.[4]
Kemusyrikan akan senantiasa ada di berbagai negeri. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى، فَقاَلَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُـولَ اللهِ! إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِيْـنَ أَنْزَلَ اللهُ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيْحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُوْنَ إِلَى دِيْنِ آبَائِهِمْ.
“Tidak akan hilang malam dan siang hingga Latta dan Uzza (kembali) disembah.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengira bahwa ketika Allah menurunkan ayat, ‘Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.’ [5] Semuanya telah sempurna (berakhir).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hal itu (kemusyrikan) akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Dia mengutus angin yang lembut, lalu mewafatkan setiap orang yang memiliki keimanan seberat biji sawi dalam hatinya, sementara orang yang tidak memiliki kebaikan akan tetap ada, selanjutnya mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.” [6]
Bentuk-bentuk kemusyrikan sangat banyak, tidak terbatas hanya menyembah bebatuan, pepohonan dan kubur saja, bahkan sampai kepada menjadikan thaghut (orang yang disembah dan dia ridha) sebagai ilah yang disembah selain Allah Ta’ala, mereka membuat syari’at sendiri, dan mewajibkan manusia untuk mengambil hukum darinya dengan meninggalkan syari’at Allah, dengan itu mereka telah menempatkan diri mereka sebagai ilah bersama Allah dan mensucikannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai ilah selain Allah….” [At-Taubah: 31]
Maknanya adalah mereka telah menjadikan ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai ilah yang membuat hukum bagi mereka, dan mereka mengikutinya dalam segala hal yang mereka halalkan (apa yang diharamkan Allah) dan yang mereka haramkan (apa yang dihalalkan Allah).[7]
Jika hal ini hanya dalam hal menghalalkan dan mengharamkan, maka bagaimana pula orang-orang yang melemparkan (membuang ajaran) Islam, dan memeluk paham-paham menyimpang dan yang sesat, seperti sekulerisme, komunisme, sosialisme, dan nasionalisme, kemudian mereka mengaku sebagai kaum muslimin?!!
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Sunan Abi Dawud (XI/322-324, ‘Aunul Ma’buud), Jaami’ at-Tirmidzi (VI/466), at-Tirmidzi ber-kata, “Hadits ini shahih.”
[2]. (الْخَلَصَةُ) dengan huruf kha yang difathahkan sementara lam setelahnya berharakat, inilah yang lebih masyhur di dalam keabsahan harakatnya. Khalashah adalah pohon dengan biji berwarna merah, bagaikan marjan akik.
Dzul Khalashah adalah nama bagi sebuah rumah yang di dalamnya ada berhala. Ada juga yang mengatakan bahwa Khalashah adalah nama rumah, sementara Dzul Khalashah nama berhala.
Dzhul khalashah nama untuk dua berhala yang masing-masing dari keduanya disebut Dzul Kha-lashah, salah satunya milik Daus, dan yang milik Khats’am juga yang lainnya dari kalangan bangsa Arab.
Adapun berhala Daus, maka ialah yang dimaksud dalam hadits. Tempat berhala ini terkenal sampai saat ini di negeri Zahran (sebelah selatan Tha-if), tegasnya pada sebuah tempat yang bernama Tsaruq dari perkampungan Daus. Dzul Khalashah terletak dekat dengan sebuah perkampungan dari beberapa perkampungan yang diberi nama (رَمَسُ) dengan huruf ra dan mim yang difathahkan. Sebelumnya Dzhul Khalashah ada pada reruntuhan batu tinggi yang dibatasi dari sebelah timur oleh perkampungan Dzil Khalashah dan dari sebelah barat oleh Tihamah. Sebagian batu besar bekas bangunan tetap ada di atas reruntuhan tersebut. Ini menunjukkan adanya bangunan kuat pada tempat tersebut.
Lihat Fat-hul Baari (VIII/71), dan kitab Surrat Ghaamidin wa Jahraan (hal. 336-340), karya Hamd Jasir.
Adapun berhala Khats’am dinamakan pula Dzul Khalashah, ia adalah sebuah rumah yang dibangun oleh dua kabilah dari Arab. Keduanya adalah Khats’am dan Bahilah, keduanya ingin menandingi Ka’bah dengan bangunan tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali dengan membawa seratus lima puluh pasukan berkuda, lalu mereka menghancurkannya dan membakarnya.
Kisah tentang penghancurannya diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahiihnya (VIIII/ 70-7, al-Fat-h) kitab al-Maghaazi, bab Ghazwatu Dzil Khalashah.
Sedangkan berhala Khats’am terletak di Tibalah, daerah yang terletak di antara Makkah dan Yaman dengan perjalanan tujuh malam dari Makkah. Telah dibangun di tempat itu sebuah masjid jami untuk sebuah negeri dari tanah Khats’am yang bernama al-‘Abalat.
Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/80), dan kitab Fi Surraat Ghaamid wa Zahraan (hal. 343-344) Mansyurat Darul Yamamah, Riyadh, th. 1391 H.
[3]. Shahiihul Bukhari, kitab al-Fitan, bab Taghayyuriz Zamaan hatta Tu’badul Autsaan (XIII/76, al-Fat-h) (no. 7116), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/32-33, Syarh an-Nawawi).
[4]. Lihat kitab Ithaaful Jamaa’ah (I/522-533), dan Surrat Ghaamid wa Zahraan (hal. 347-349).
[5]. Ash-Shaff: 9.
[6]. Shahiih Muslim syarh an-Nawawi, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XXXIII/ 18, Syarh an-Nawawi).
[7]. Lihat Tafsiir Ibni Katsir (IV/77).


Sumber: https://almanhaj.or.id/3180-23-25-berdekatannya-zaman-singkatnya-waktu-berdekatannya-pasar-munculnya-kemusyrikan.html

TANDA TANDA KIAMAT

23-25. BERDEKATANNYA ZAMAN (SINGKATNYA WAKTU). BERDEKATANNYA PASAR. MUNCULNYA KEMUSYRIKAN

Waktu Terasa Pendek Waktu Di Akhir Zaman Mengapa Waktu Semakin Cepat Waktu Terasa Semakin Cepat Waktu Begitu Cepat
TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
23. BERDEKATANNYA ZAMAN (SINGKATNYA WAKTU)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى… يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ.
‘Tidak akan tiba hari Kiamat hingga… zaman berdekatan.’” [1]
Dan diriwayatkan dari beliau Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ فَتَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ، وَيَكُونَ الشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ، وَتَكُونَ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ، وَيَكُونَ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ، وَتَكُونَ السَّاعَةُ كَاحْتِرَاقِ السَّعَفَةِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma.”[2]
Ada beberapa pendapat para ulama tentang makna berdekatannya zaman, di antaranya:
Pertama : Maksudnya adalah sedikitnya keberkahan di dalam waktu.[3]
Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hal ini telah didapati pada zaman kita sekarang ini. Karena kita telah menjumpai cepatnya waktu berlalu yang tidak pernah kita temukan pada zaman sebelum kita.” [4]
Kedua : Maksudnya adalah apa yang akan terjadi pada zaman al-Mahdi dan Nabi ‘Isa Alaihissallam, di mana manusia menikmati kehidupannya, adanya jaminan keamanan, juga keadilan. Saat itu manusia merasakan singkatnya masa-masa kemakmuran padahal waktunya lama, dan masa-masa sulit dirasakan lama padahal singkat.[5]
Ketiga : Maksudnya adalah kedekatan (kemiripan) keadaan penghuninya dalam hal sedikitnya ilmu agama. Sehingga, tidak ada amar ma’ruf dan nahi munkar di tengah-tengah mereka karena mendominasinya kefasikan dan para pelakunya. Secara khusus hal itu terjadi ketika upaya mencari ilmu ditinggal-kan serta ridha dengan kebodohan. Karena sesungguhnya manusia tidak sama dalam keilmuannya, dan beragamnya tingkatan ilmu mereka, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“… Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]
Dan mereka dikatakan sama hanya ketika dalam kebodohan.
Keempat : Maksudnya adalah berdekatannya orang-orang pada zaman tersebut karena banyaknya sarana-sarana perhubungan dan transportasi darat maupun udara yang mendekatkan jarak yang jauh.[6]
Kelima : Maknanya adalah singkatnya waktu, cepat secara hakiki, hal itu terjadi di akhir zaman.
Peristiwa ini belum terjadi sampai sekarang, hal itu diperkuat oleh riwayat yang menjelaskan bahwa hari-hari ketika Dajjal datang terasa lama, sehingga satu hari bagaikan satu tahun, bagaikan satu bulan dan bagaikan satu pekan. Sebagaimana hari-hari itu terasa lama, maka ia pun bisa terasa singkat [7]. Ini terjadi karena rusaknya tatanan alam, dan telah dekatnya kehancuran dunia.
Ibnu Abi Jamrah rahimahullah[8] berkata, “Kemungkinan yang dimaksud dengan dekatnya zaman adalah singkatnya (waktu) sesuai dengan yang diungkap dalam sebuah hadits:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَكُونَ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ.
“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga satu tahun bagaikan satu bulan.”
Oleh karenanya, maka singkatnya waktu bisa berupa sesuatu yang dapat dirasakan oleh indra atau sesuatu yang maknawi.
Adapun yang bisa dirasakan indra sama sekali belum nampak, mungkin hal itu terjadi sebagai tanda dekatnya Kiamat.
Adapun yang maknawi, hal itu sering terjadi. Hal itu dirasakan oleh para ulama dan orang-orang yang memiliki kecerdasan dalam ilmu dunia. Mereka mendapati diri mereka tidak mampu melakukan pekerjaan persis seperti yang dilakukan sebelumnya, mereka mengeluhkannya dan tidak mengetahui alasan akan hal itu, kemungkinan hal itu terjadi karena lemahnya keimanan yang disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran syari’at dalam berbagai hal, terutama pelanggaran dalam hal makanan. Tidak diragukan di dalamnya ada sesuatu yang murni haram dan yang syubhat, dan kebanyakan manusia tidak berhenti mengkonsumsi hal itu, walaupun ia sanggup untuk mendapatkan sesuatu yang halal, akan tetapi dia tetap mengambilnya tanpa mau peduli.
Dan kenyataannya bahwa keberkahan dalam waktu, rizki, dan tumbuhan hanya dapat diwujudkan dengan kekuatan iman, mengikuti perintah, dan menjauhi larangan, dalil akan hal itu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” [Al-A’raaf: 96][9]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiihul Bukhari, kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fath).
[2]. Musnad Ahmad (II/537-538, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz), dan diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas, lihat Jaami’ at-Tirmidzi, bab-bab az-Zuhd bab Ma Jaa-a fii Taqaarubiz Zamaan wa Qashril Amal (VI/624, 625, Tuhfatul Ahwadzi).
Ibnul Katsir berkata, “Isnadnya berdasarkan syarat Muslim,” an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/181), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Al-Haitsami berkata, “Perawinya adalah perawi ash-Shahiih,” Majma’uz Zawaa-id (VII/231).
Al-Albani berkata, “Shahih,” lihat kitab Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/175, no. 7299).
[3]. Lihat Ma’aalimus Sunan (VI/141-142, dengan catatan pinggir Mukhtashar Sunan Abi Dawud, karya al-Mundziri), Jaami’ul Ushuul, karya Ibnul Atsir (X/409), dan Fat-hul Baari (XIII/16).
[4]. Fat-hul Baari (XIII/16)
[5]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/16)
[6]. Lihat Ithaaful Jamaa’ah (I/497), dan al-‘Aqaa-idul Islaamiyyah (hal. 247), karya Sayyid Sabiq.
[7]. Mukhtashar Sunan Abi Dawud (VI/142), Jaami’ul Ushuul (X/409) tahqiq Muhammad ‘Abdul Qadir al-Arna-uth.
[8]. Beliau adalah al-‘Allamah Abu Muhammad ‘Abdullah bin Sa’d bin Sa’id bin Abi Jamrah al-Azdi al-Andalusi al-Maliki, seorang alim di bidang hadits dan memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Jam’un Nihaayah merupakan ringkasan kitab Shahiih al-Bukhari, beliau pun memiliki kitab al-Maraa-il Hasan yaitu kitab tentang hadits dan tafsir mimpi.
Ibnu Katsir mengomentari beliau dengan perkataannya, “Al-Imam, al-alim, ahli ibadah… dia adalah orang yang selalu mengatakan kebenaran, memerintah yang ma’ruf dan melarang kemunkaran.”
Wafat di Mesir pada tahun 695 H t.
Lihat biografinya dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (XIII/346), al-A’laam (IV/ 89).
[9]. Fat-hul Baari (XIII/17).
24. BERDEKATANNYA PASAR
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْكَذِبُ، وَيَتَقَارَبَ اْلأَسْوَاقُ.
“Tidak akan datang hari Kiamat hingga muncul berbagai fitnah, banyaknya kebohongan, dan berdekatannya pasar.” [1]
Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah [2] berkata, “Adapun berdekatannya pasar, maka telah ada sebuah riwayat yang menjelaskannya di dalam sebuah hadits dha’if, yaitu kelesuan pasar dan sedikitnya keuntungan, yang jelas -wallaahu a’lam- bahwa hal itu merupakan isyarat terhadap apa yang terjadi di zaman kita sekarang ini berupa berdekatannya penduduk bumi; hal itu karena adanya alat transportasi udara atau darat, alat-alat elektronik yang bisa mengirim suara, seperti siaran radio, dan telepon, yang dengannya pasar-pasar di berbagai belahan dunia menjadi dekat. Maka tidaklah terjadi perubahan harga di suatu negara kecuali para pedagang -atau kebanyakan dari mereka- di negeri-negeri lain mengetahuinya, maka hal itu bisa menambah harga jika (di tempat lain pun bertambah), dan bisa menguranginya jika (di tempat lain pun) berkurang, para pedagang dengan kendaraannya pergi ke pasar-pasar di perkotaan yang perjalanan sebelumnya membutuhkan beberapa hari, lalu dia memenuhi kebutuhannya di sana dan kembali hanya dalam satu hari atau kurang, seseorang pergi menggunakan pesawat ke pasar di berbagai kota yang sebelumnya perjalanan tersebut membutuhkan sebulan atau lebih, dia memenuhi kebutuhannya di sana dan kembali hanya dalam waktu satu hari atau kurang.
Berdekatannya pasar ditinjau dari tiga sisi:
Pertama : Cepatnya berita terhadap apa yang akan terjadi di dalamnya berupa bertambah dan berkurangnya harga.
Kedua : Cepatnya perjalanan dari satu pasar ke pasar lain, walaupun per-jalanannya sangat jauh.
Ketiga : Persaingan harga antara yang satu dengan yang lain dan persaingan pedagang dalam menaikkan atau menurunkan harga, wallaahu a’lam. [3]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (II/519, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
[2]. Beliau adalah al-‘Allamah Syaikh Hamud bin ‘Abdillah at-Tuwaijiri an-Najdi, salah seorang ulama kontemporer, sekarang beliau bertempat tinggal di Riyadh. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Ithaaful Jamaa’ah bima Jaa-a fil Fitan wal Malaahim wa Asyraatus Saa’ah dalam dua jilid, beliau memiliki beberapa risalah kecil dan bantahan, seperti ash-Shaarimul Masluul ‘ala Ahlit Tabarruj was Sufuur, at-Tanbiihaat ‘ala Risaalatil Albani fish Shalaah dan Fashlul Khitaab fir Radd ‘ala Abi Turab juga yang lainnya.
[3]. Ithaaful Jamaa’ah (I/498-499).
25. MUNCULNYA KEMUSYRIKAN PADA UMAT INI
Ini adalah di antara tanda-tanda Kiamat yang telah nampak dan akan semakin bertambah. Telah terjadi kemusyrikan pada umat ini, dan berbagai kabilah dari umat ini mengikuti kaum musyrikin, mereka menyembah ber-hala, membangun berbagai macam bangunan di atas kuburan dan menyembah-nya selain kepada Allah dengan tujuan mengambil keberkahan dan mengagungkannya, memberikan berbagai nadzar, dan merayakan berbagai perayaan, kebanyakan darinya (kubur-kubur) mempunyai kedudukan seperti Latta, Uzza, Manat bahkan lebih besar lagi kemusyrikannya.
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari Tsauban Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي؛ لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي بِالْمُشْرِكِينَ، وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِي اْلأَوْثَانَ.
‘Jika pedang telah diletakkan pada umatku, maka ia tidak akan pernah diangkat darinya sampai hari Kiamat, dan tidak akan tiba hari Kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.’”[1]
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ.
‘Tidak akan datang hari Kiamat hingga pantat-pantat para wanita Daus bergoyang di sekitar Dzil Khalashah.’”[2]
Dzul Khalashah adalah thaghut kabilah Daus yang mereka sembah pada masa Jahiliyyah. [3]
Apa-apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits ini telah terjadi. Karena sesungguhnya kabilah Daus dan sekitarnya dari kalangan Arab telah terkena fitnah Dzul Khalashah ketika kebodohan kembali masuk ke negeri-negeri mereka. Kemudian mereka mengulang sejarah mereka, menyembah selain Allah, hingga Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab rahimahullah menegakkan dakwah tauhid dan memperbaharui segala macam syi’ar-syi’ar agama yang telah tenggelam. Akhirnya kembalilah Islam ke Jazirah Arab, demikian pula yang dilakukan oleh al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Saud rahimahullah. Beliau mengutus beberapa orang da’i ke daerah Dzul Khalashah, mereka menghancurkannya dan merobohkan sebagian bangunan yang ada di sana, lalu ketika pemerintahan keluarga Saud berakhir atas Hijaz pada masa tersebut, maka orang-orang kembali kepada peribadahannya. Kemudian ketika raja ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdirrahman Alu Su’ud rahimahullah naik tahta, beliau menugaskan wakilnya di tempat itu dan mengirim beberapa pasukan untuk menghancurkannya dan menghilangkan semua bekas-bekasnya. Hanya milik Allah-lah segala puji.[4]
Kemusyrikan akan senantiasa ada di berbagai negeri. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى، فَقاَلَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُـولَ اللهِ! إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِيْـنَ أَنْزَلَ اللهُ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللهُ رِيْحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُوْنَ إِلَى دِيْنِ آبَائِهِمْ.
“Tidak akan hilang malam dan siang hingga Latta dan Uzza (kembali) disembah.” ‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh aku mengira bahwa ketika Allah menurunkan ayat, ‘Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.’ [5] Semuanya telah sempurna (berakhir).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hal itu (kemusyrikan) akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, kemudian Dia mengutus angin yang lembut, lalu mewafatkan setiap orang yang memiliki keimanan seberat biji sawi dalam hatinya, sementara orang yang tidak memiliki kebaikan akan tetap ada, selanjutnya mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka.” [6]
Bentuk-bentuk kemusyrikan sangat banyak, tidak terbatas hanya menyembah bebatuan, pepohonan dan kubur saja, bahkan sampai kepada menjadikan thaghut (orang yang disembah dan dia ridha) sebagai ilah yang disembah selain Allah Ta’ala, mereka membuat syari’at sendiri, dan mewajibkan manusia untuk mengambil hukum darinya dengan meninggalkan syari’at Allah, dengan itu mereka telah menempatkan diri mereka sebagai ilah bersama Allah dan mensucikannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai ilah selain Allah….” [At-Taubah: 31]
Maknanya adalah mereka telah menjadikan ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai ilah yang membuat hukum bagi mereka, dan mereka mengikutinya dalam segala hal yang mereka halalkan (apa yang diharamkan Allah) dan yang mereka haramkan (apa yang dihalalkan Allah).[7]
Jika hal ini hanya dalam hal menghalalkan dan mengharamkan, maka bagaimana pula orang-orang yang melemparkan (membuang ajaran) Islam, dan memeluk paham-paham menyimpang dan yang sesat, seperti sekulerisme, komunisme, sosialisme, dan nasionalisme, kemudian mereka mengaku sebagai kaum muslimin?!!
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Sunan Abi Dawud (XI/322-324, ‘Aunul Ma’buud), Jaami’ at-Tirmidzi (VI/466), at-Tirmidzi ber-kata, “Hadits ini shahih.”
[2]. (الْخَلَصَةُ) dengan huruf kha yang difathahkan sementara lam setelahnya berharakat, inilah yang lebih masyhur di dalam keabsahan harakatnya. Khalashah adalah pohon dengan biji berwarna merah, bagaikan marjan akik.
Dzul Khalashah adalah nama bagi sebuah rumah yang di dalamnya ada berhala. Ada juga yang mengatakan bahwa Khalashah adalah nama rumah, sementara Dzul Khalashah nama berhala.
Dzhul khalashah nama untuk dua berhala yang masing-masing dari keduanya disebut Dzul Kha-lashah, salah satunya milik Daus, dan yang milik Khats’am juga yang lainnya dari kalangan bangsa Arab.
Adapun berhala Daus, maka ialah yang dimaksud dalam hadits. Tempat berhala ini terkenal sampai saat ini di negeri Zahran (sebelah selatan Tha-if), tegasnya pada sebuah tempat yang bernama Tsaruq dari perkampungan Daus. Dzul Khalashah terletak dekat dengan sebuah perkampungan dari beberapa perkampungan yang diberi nama (رَمَسُ) dengan huruf ra dan mim yang difathahkan. Sebelumnya Dzhul Khalashah ada pada reruntuhan batu tinggi yang dibatasi dari sebelah timur oleh perkampungan Dzil Khalashah dan dari sebelah barat oleh Tihamah. Sebagian batu besar bekas bangunan tetap ada di atas reruntuhan tersebut. Ini menunjukkan adanya bangunan kuat pada tempat tersebut.
Lihat Fat-hul Baari (VIII/71), dan kitab Surrat Ghaamidin wa Jahraan (hal. 336-340), karya Hamd Jasir.
Adapun berhala Khats’am dinamakan pula Dzul Khalashah, ia adalah sebuah rumah yang dibangun oleh dua kabilah dari Arab. Keduanya adalah Khats’am dan Bahilah, keduanya ingin menandingi Ka’bah dengan bangunan tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali dengan membawa seratus lima puluh pasukan berkuda, lalu mereka menghancurkannya dan membakarnya.
Kisah tentang penghancurannya diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahiihnya (VIIII/ 70-7, al-Fat-h) kitab al-Maghaazi, bab Ghazwatu Dzil Khalashah.
Sedangkan berhala Khats’am terletak di Tibalah, daerah yang terletak di antara Makkah dan Yaman dengan perjalanan tujuh malam dari Makkah. Telah dibangun di tempat itu sebuah masjid jami untuk sebuah negeri dari tanah Khats’am yang bernama al-‘Abalat.
Lihat Mu’jamul Buldaan (IV/80), dan kitab Fi Surraat Ghaamid wa Zahraan (hal. 343-344) Mansyurat Darul Yamamah, Riyadh, th. 1391 H.
[3]. Shahiihul Bukhari, kitab al-Fitan, bab Taghayyuriz Zamaan hatta Tu’badul Autsaan (XIII/76, al-Fat-h) (no. 7116), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/32-33, Syarh an-Nawawi).
[4]. Lihat kitab Ithaaful Jamaa’ah (I/522-533), dan Surrat Ghaamid wa Zahraan (hal. 347-349).
[5]. Ash-Shaff: 9.
[6]. Shahiih Muslim syarh an-Nawawi, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XXXIII/ 18, Syarh an-Nawawi).
[7]. Lihat Tafsiir Ibni Katsir (IV/77).


Sumber: https://almanhaj.or.id/3180-23-25-berdekatannya-zaman-singkatnya-waktu-berdekatannya-pasar-munculnya-kemusyrikan.html




CERAMAH USTAD ABDUL SOMAD TENTANG AKHIR ZAMAN







CERAMAH USTAD ABDUL SOMAD TENTANG AKHIR ZAMAN




game online


Misteri Tulisan 'Allah' di Pakaian Jenazah Bangsa Viking





Liputan6.com, Stockholm - Tim peneliti Swedia menemukan kata Allah, dalam huruf Arab yang terajut, pada pakaian jenazah bangsa Viking. Temuan itu memicu tanya mengenai potensi pengaruh Islam di kawasan Skandinavia, Eropa.
Sebelumnya, artefak yang sudah diamankan dan disimpan selama lebih dari 100 tahun itu dianggap sebagai pakaian jenazah bangsa Viking pada umumnya.
Namun, penyelidikan baru pada pakaian itu --yang ditemukan di pekuburan dari Abad ke-9 atau ke-10-- menghasilkan sebuah terobosan baru bagi bidang sains-historis, khususnya terkait aspek kebudayaan Viking dan penyebaran Islam di dunia. Demikian seperti dilansir BBC, Kamis (12/10/2017).
Penyelidikan terbaru itu menemukan rajutan benang sutra dan perak yang menyusun kata 'Allah' dan 'Ali' dalam bahasa Arab.
Terobosan itu ditemukan oleh arkeolog yang ahli bidang artefak tekstil asal Swedia, Annika Larsson dari Uppsala University. Ia memeriksa kembali pakaian jenazah, baik laki-laki dan perempuan, dari pekuburan kuno Viking di Birka dan Gamla Uppsala --yang digali pertama kali pada Abad ke-19 atau pertengahan Abad ke-20.
Larsson tertarik pada salah satu fragmen kain artefak itu, setelah menyadari bahwa bahan penyusunnya berasal dari Asia tengah, Persia, dan China. Ia juga sadar bahwa desain geometris rajutan mungil itu --yang berukuran tak lebih dari 1,5 cm-- tak seperti yang pernah dia temukan di Skandinavia sebelumnya.
"Awalnya, saya tak dapat memahami rajutan itu. Kemudian saya ingat di mana saya pernah melihat desain serupa, yaitu di Spanyol, pada tekstil bangsa Moor," ujar Larsson.
Arkeolog itu lantas menyadari pola itu adalah kaligafi Arab Kufic dan ada dua kata yang terus berulang.
Kaligrafi Arab Kufic diketahui sebagai salah satu teknik penulisan pertama yang digunakan untuk naskah Alquran.
Salah satu yang berhasil diidentifikasi --dengan bantuan seorang kolega Larsson dari Iran-- adalah nama 'Ali', Khalifah Rasyidin ke-empat Islam pasca-kepemimpinan Nabi Muhammad.
Satu kata lagi, yang bersebelahan dengan 'Ali', cukup sulit untuk diuraikan. Apakah itu?

Allah dan Ali


Setelah berbagai usaha, dengan melihat sisi depan dan belakang, akhirnya, "Saya tiba-tiba melihat kata 'Allah' yang ditulis dari sisi yang berlawanan, yang baru jelas jika dipantulkan lewat cermin. Ternyata penulisannya terbalik," jelas Larsson.
Sejauh ini, si peneliti itu telah menemukan dua kata tersebut pada 10 dari total 100 kain artefak. Dan, kedua kata itu selalu muncul bersama.
Temuan itu memicu tanya dan sejumlah kemungkinan baru bagi bidang sains-historis terkait aspek kebudayaan Viking serta Islam.
"Ada kemungkinan jika salah satu jasad itu merupakan pemeluk Islam. Penelitian terdahulu juga telah menyebut bahwa ada beberapa jenazah yang berasal dari Persia yang dimakamkan di pekuburan Viking," jelas sang arkeolog.
"Mungkin juga, prosesi pemakaman Viking dipengaruhi atau meniru kebudayaan serta gagasan Islam, seperti surga dan kehidupan setelah kematian."
Saat ini, Larrson dan rekan bekerja sama dengan Departemen Imunologi, Genetika, dan Patologi Uppsala University tengah mencari tahu, asal-usul geografis para jenazah yang dimakamkan dengan mengenakan pakaian itu.
Apa yang membuat temuan Larsson begitu menarik adalah untuk kali pertama, ada artefak di Skandinavia yang menyebut soal Ali bin Abi Thalib. Sehingga turut muncul pula kemungkinan keterkaitan artefak itu dengan kebudayaan Islam Syiah.
"Nama Ali diulang-ulang di samping Allah. Saya tahu Ali merupakan figur yang sangat dihormati oleh kelompok Muslim Syiah. Maka muncul tanya, apakah temuan itu ada hubungannya," jelas Larsson.

2 dari 3 halaman

Pengaruh Islam Syiah?

Pada kesempatan yang berbeda, ilmuwan lain yang mengomentari temuan itu berpendapat bahwa ada kemungkinan artefak itu dipengaruhi oleh nuansa kebudayaan Islam Syiah.
"Kata Ali saja sudah cukup menunjukkan korelasi dengan Islam Syiah," jelas Amir de Martino, kepala program Studi Islam di Islamic College London, Inggris.
"Namun, jika tidak dilengkapi dengan frasa lanjutannya 'wali Allah', kata Ali dalam artefak itu mungkin tidak berasal dari kebudayaan Islam Syiah arus utama. Mungkin saja itu berasal dari kebudayaan Islam lain di luar konteks Syiah. Atau mungkin juga hanya kesalahan dalam proses pembuatan," tambahnya.
Kata Allah dan Ali yang dituliskan dengan teknik penulisan yang sulit diuraikan sering ditemukan di dalam kuil, makam, dan naskah Syiah, khususnya aliran Alevis (di Turki dan Balkan) dan Bektashis (di Albania dan Balkan). Namun, tak seperti temuan Larsson, kedua kata itu kerap ditemukan seara utuh dan lengkap sesuai dengan maknanya.
Terlepas dari itu semua, bagi Larsson, temuan teranyar itu menjadi titik terang untuk perkembangan ilmu pengetahuan, terkhusus arkeologi kebudayaan Viking dan Islam, untuk ke depannya.
"Usai temuan itu, saya yakin saya akan menemukan lebih banyak prasasti Islam dalam fragmen-fragmen yang tersisa dari penggalian ini, dan tekstil dari era-Viking lainnya."
"Siapa yang tahu? Mungkin kaligrafi semacam itu ditemukan pula di artefak non-tekstil."
Kontak antara bangsa Viking dan etnis Eropa lain dengan Islam telah lama termaktub dalam catatan sejarah, lewat sejumlah temuan artefak bercorak agama yang disebarluaskan oleh Nabi Muhammad itu. Misalnya, koin-koin kuno peninggalan masa khalifah rasyidin dan cincin perak bertuliskan 'untuk Allah' dalam kaligrafi Arab Kufic.

BERITA HARI INI


Misteri Tulisan 'Allah' di Pakaian Jenazah Bangsa Viking





Liputan6.com, Stockholm - Tim peneliti Swedia menemukan kata Allah, dalam huruf Arab yang terajut, pada pakaian jenazah bangsa Viking. Temuan itu memicu tanya mengenai potensi pengaruh Islam di kawasan Skandinavia, Eropa.
Sebelumnya, artefak yang sudah diamankan dan disimpan selama lebih dari 100 tahun itu dianggap sebagai pakaian jenazah bangsa Viking pada umumnya.
Namun, penyelidikan baru pada pakaian itu --yang ditemukan di pekuburan dari Abad ke-9 atau ke-10-- menghasilkan sebuah terobosan baru bagi bidang sains-historis, khususnya terkait aspek kebudayaan Viking dan penyebaran Islam di dunia. Demikian seperti dilansir BBC, Kamis (12/10/2017).
Penyelidikan terbaru itu menemukan rajutan benang sutra dan perak yang menyusun kata 'Allah' dan 'Ali' dalam bahasa Arab.
Terobosan itu ditemukan oleh arkeolog yang ahli bidang artefak tekstil asal Swedia, Annika Larsson dari Uppsala University. Ia memeriksa kembali pakaian jenazah, baik laki-laki dan perempuan, dari pekuburan kuno Viking di Birka dan Gamla Uppsala --yang digali pertama kali pada Abad ke-19 atau pertengahan Abad ke-20.
Larsson tertarik pada salah satu fragmen kain artefak itu, setelah menyadari bahwa bahan penyusunnya berasal dari Asia tengah, Persia, dan China. Ia juga sadar bahwa desain geometris rajutan mungil itu --yang berukuran tak lebih dari 1,5 cm-- tak seperti yang pernah dia temukan di Skandinavia sebelumnya.
"Awalnya, saya tak dapat memahami rajutan itu. Kemudian saya ingat di mana saya pernah melihat desain serupa, yaitu di Spanyol, pada tekstil bangsa Moor," ujar Larsson.
Arkeolog itu lantas menyadari pola itu adalah kaligafi Arab Kufic dan ada dua kata yang terus berulang.
Kaligrafi Arab Kufic diketahui sebagai salah satu teknik penulisan pertama yang digunakan untuk naskah Alquran.
Salah satu yang berhasil diidentifikasi --dengan bantuan seorang kolega Larsson dari Iran-- adalah nama 'Ali', Khalifah Rasyidin ke-empat Islam pasca-kepemimpinan Nabi Muhammad.
Satu kata lagi, yang bersebelahan dengan 'Ali', cukup sulit untuk diuraikan. Apakah itu?

Allah dan Ali


Setelah berbagai usaha, dengan melihat sisi depan dan belakang, akhirnya, "Saya tiba-tiba melihat kata 'Allah' yang ditulis dari sisi yang berlawanan, yang baru jelas jika dipantulkan lewat cermin. Ternyata penulisannya terbalik," jelas Larsson.
Sejauh ini, si peneliti itu telah menemukan dua kata tersebut pada 10 dari total 100 kain artefak. Dan, kedua kata itu selalu muncul bersama.
Temuan itu memicu tanya dan sejumlah kemungkinan baru bagi bidang sains-historis terkait aspek kebudayaan Viking serta Islam.
"Ada kemungkinan jika salah satu jasad itu merupakan pemeluk Islam. Penelitian terdahulu juga telah menyebut bahwa ada beberapa jenazah yang berasal dari Persia yang dimakamkan di pekuburan Viking," jelas sang arkeolog.
"Mungkin juga, prosesi pemakaman Viking dipengaruhi atau meniru kebudayaan serta gagasan Islam, seperti surga dan kehidupan setelah kematian."
Saat ini, Larrson dan rekan bekerja sama dengan Departemen Imunologi, Genetika, dan Patologi Uppsala University tengah mencari tahu, asal-usul geografis para jenazah yang dimakamkan dengan mengenakan pakaian itu.
Apa yang membuat temuan Larsson begitu menarik adalah untuk kali pertama, ada artefak di Skandinavia yang menyebut soal Ali bin Abi Thalib. Sehingga turut muncul pula kemungkinan keterkaitan artefak itu dengan kebudayaan Islam Syiah.
"Nama Ali diulang-ulang di samping Allah. Saya tahu Ali merupakan figur yang sangat dihormati oleh kelompok Muslim Syiah. Maka muncul tanya, apakah temuan itu ada hubungannya," jelas Larsson.

2 dari 3 halaman

Pengaruh Islam Syiah?

Pada kesempatan yang berbeda, ilmuwan lain yang mengomentari temuan itu berpendapat bahwa ada kemungkinan artefak itu dipengaruhi oleh nuansa kebudayaan Islam Syiah.
"Kata Ali saja sudah cukup menunjukkan korelasi dengan Islam Syiah," jelas Amir de Martino, kepala program Studi Islam di Islamic College London, Inggris.
"Namun, jika tidak dilengkapi dengan frasa lanjutannya 'wali Allah', kata Ali dalam artefak itu mungkin tidak berasal dari kebudayaan Islam Syiah arus utama. Mungkin saja itu berasal dari kebudayaan Islam lain di luar konteks Syiah. Atau mungkin juga hanya kesalahan dalam proses pembuatan," tambahnya.
Kata Allah dan Ali yang dituliskan dengan teknik penulisan yang sulit diuraikan sering ditemukan di dalam kuil, makam, dan naskah Syiah, khususnya aliran Alevis (di Turki dan Balkan) dan Bektashis (di Albania dan Balkan). Namun, tak seperti temuan Larsson, kedua kata itu kerap ditemukan seara utuh dan lengkap sesuai dengan maknanya.
Terlepas dari itu semua, bagi Larsson, temuan teranyar itu menjadi titik terang untuk perkembangan ilmu pengetahuan, terkhusus arkeologi kebudayaan Viking dan Islam, untuk ke depannya.
"Usai temuan itu, saya yakin saya akan menemukan lebih banyak prasasti Islam dalam fragmen-fragmen yang tersisa dari penggalian ini, dan tekstil dari era-Viking lainnya."
"Siapa yang tahu? Mungkin kaligrafi semacam itu ditemukan pula di artefak non-tekstil."
Kontak antara bangsa Viking dan etnis Eropa lain dengan Islam telah lama termaktub dalam catatan sejarah, lewat sejumlah temuan artefak bercorak agama yang disebarluaskan oleh Nabi Muhammad itu. Misalnya, koin-koin kuno peninggalan masa khalifah rasyidin dan cincin perak bertuliskan 'untuk Allah' dalam kaligrafi Arab Kufic.

KISAH TA'ARUF (SAMBIL MENYELAM MENCARI MUTIARA)
DIKUTIP DARI: KUMPULAN CERITA DAN KISAH TELADAN



Kisah ini menceritakan tentang kisah Ta’aruf seseorang, unik dan menarik.

Akhir bulan maret lalu, Ali mendapat banyak ucapan “selamat ulang tahun”, “happy birthday” atau “met milad” dari kawan – kawannya di Facebook (FB). Hal itu dikarenakan profilnya disitus jejaring sosial tersebut menampilkan tanggal lahir sehingga otomatis ketika hari itu tiba, semua kawan – kawan mengetahuinya di Beranda/Home FB mereka.Biasanya, ucapan selamat selalu ditambahi “kata – kata bersayap” berupa do’a maupun harapan pada Ali ditahun mendatang.
Kata – kata bersayap tadi kebanyakan intinya sama yaitu mendo’akan Ali agar panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki dan … segera mendapat jodoh !
Harusnya hari ulang tahun jadi hari yang membahagiakan, namun bagi Ali tidak. Ba’da dzuhur ia masih menyendiri di masjid memegang tasbih sambil berdzikir menyebut asma Allah. Setelahnya ia berdo’a seraya bersyukur karena telah diberi umur panjang, badan yang sehat serta rezeki yang cukup. Ia juga memohon ampun pada Allah atas dosa maupun kesalahannya dimasa lalu.
Tiba – tiba ia teringat tulisan teman – temannya yang berharap ia segera mendapat jodoh. Ia pun lalu menambahi do’anya dengan ucapan,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Do’a yang diucapkan Ali tersebut merupakan ayat ke 74 dari surat Al – Furqon dalam Al Quran. Ia pernah mendengar dalam ceramah Aa Gym jika ingin segera mendapat jodoh, ucapkanlah ayat tersebut saat ba’da shalat wajib dan tahajud. Sudah berulang kali Ali berdo’a namun hingga usianya kini telah mendekati kepala tiga, belum ada tanda – tanda akan datangnya “bidadari” pendamping hidupnya.
Tiba – tiba dari sebelah Ali terdengar suara orang mengucapkan salam,“assalammu’alaikum”, katanya. Ali pun segera membalikkan badan dan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan sambil menjawab,”wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”.
Ternyata yang menghampiri Ali adalah sahabatnya yang bernama Rahmat Solihin, namun biasa dipanggil Mamat.
Ia membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Ali sambil berkata,”Li, ada undangan pengajian bulanan dari Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan. Kamu mau ikut, nggak ?”. Sejenak Ali membaca surat undangan pengajian bulanan tersebut lalu menjawab,”Ustadz Soefyan yang sering mengisi pengajian rutin dimasjid ini mengajak kita ke Pesantrennya ya.wah aku harus ikut nih, lagipula aku pengen banget merasakan suasana pengajian di Pesantren”, jawab Ali penuh semangat.
“kalau kamu mau ikut, nanti sore kita berangkat bersama Ustadz Yayat”, kata Rahmat.
”wah … kalau Ustadz Yayat ikut, aku tambah semangat nih pengen segera pergi ke Kota Hujan. Mat, tolong antar aku kerumah Ustadz Yayat sekarang ya”, kata Ali dengan semangat membara.
“mau ngapain ke rumah Ustadz Yayat sekarang ?”, Tanya Rahmat yang penasaran melihat tingkah Ali .”aku mau membicarakan sesuatu yang penting bersama beliau … hehe”, kata Ali lagi.
Setelah mengendarai Jupiter MX biru selama sepuluh menit, mereka berdua tiba dirumah Ustadz Yayat. Tuan rumah segera mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya yang sederhana lalu mereka berbicara enam mata diruang tamu.
Ali menceritakan keinginannya untuk ikut menghadiri pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan sambil meminta bantuan Ustadz Yayat membantunya mencarikan jodoh disana.
“jadi tujuan utama kamu kesini pengen minta dicarikan jodoh disana, Li ?”,tanya Ustadz Yayat.
“iya Pak Ustadz. Hari ini tak terasa usia saya sudah mendekati kepala tiga dan ingin segera punya istri”, jawab Ali.
Ia pun mulai menceritakan masa lalunya yang suka memendam perasaan cinta jika menyukai lawan jenisnya. Hingga akhirnya wanita yang dicintainya itu pun menikah dengan laki – laki lain. Ali sedih dan sering menyalahkan dirinya yang kurang berani namun disatu sisi yang lain ia pun sadar mungkin sudah takdirnya harus begitu.
Ustadz Yayat pun berkata bahwa ia punya seorang teman yang merupakan pengurus di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan. Temannya itu memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah dan masih menunggu laki – laki yang hendak meminangnya. Nama temannya itu adalah Ustadz Arifin, ia memiliki 8 anak dan anak keenamnya lah yang akan coba dikenalkan pada Ali.
Ali pun merasa beruntung.
Keinginannya dicarikan jodoh bisa terlaksana berkat bantuan Ustadz Yayat.
“Li, walaupun kamu hendak mencari jodoh atau taaruf disana, tetap tujuan utama adalah mengikuti pengajian bulanan Ustadz Soefyan. jangan lupa itu ya”, pinta Ustadz Yayat.
“iya Pak. Ibaratnya sambil menyelam, minum air … pengajiannya diikuti, sekalian cari jodoh.hehe”, jawab Ali sambil tersenyum lebar.
“Dasar, kamu ini. Kalau begini caranya sih bukan menyelam sambil minum air. Tapi lebih tepatnya sambil menyelam, cari mutiara ! hehehe … “, kata Ustadz Yayat sambil tertawa. Ali dan Rahmat pun ikut tertawa mendengar ucapan beliau tersebut.
Ba’da ashar mereka bertiga berangkat ke Kota Hujan dengan mengendarai motor. Karena Ali tidak memiliki motor, ia pun dibonceng Rahmat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan menjelang shalat magrib. Setelah mengikuti shalat berjamaah, mereka bertiga diajak keliling Pesantren oleh Ustadz Arifin. Secara pribadi Ali merasa kagum dengan suasana Pesantren tersebut. Dimana – mana terdengar lantunan ayat suci Al quran yang sedang dibaca para santri dan santriwati.
Ba’da isya mereka mengikuti pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan. Subhanallah jemaahnya banyak sekali, rupanya selain santri dan santriwati yang belajar di Pesantren tersebut, ikut hadir pula masyarakat setempat serta para alumni lulusan Pesantren yang telah menyebar ke berbagai kota.
Selesai pengajian bulanan, mereka bertiga dipersilahkan Ustadz Arifin untuk beristirahat diruang khusus tamu Pesantren.
Sebelum pamit pulang, Ustadz Arifin berkata pada Ustadz Yayat,”Pak Ustadz, besok sekitar jam 10 pagi ada orang yang akan mengantar kalian ke rumah saya. Tolong datang ya, kita silaturahim sekalian menjalankan proses taaruf saudara Ali”, katanya.
“insya Allah”, jawab Ustadz Yayat.
Keesokan harinya, diruang khusus tamu Pesantren nampak Ali beserta Rahmat dan Ustadz Yayat sedang menikmati kopi panas ditemani roti kukus yang disediakan pengurus Pesantren untuk mereka.
Tak lama kemudian datanglah lelaki seumuran Ali datang menjemput mereka bertiga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Arifin, Ali tak henti – hentinya berdo’a agar proses taaruf yang akan dilaksanakan hari ini berjalan lancar.
“Yaa Allah, lancarkanlah hari ini … jangan sampai gagal karena aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu dengan jodohku … amin”, bisik Ali dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Setelah melewati areal persawahan yang hijau kekuningan serta jalan yang berkelak – kelok naik turun, akhirnya mereka sampai di depan rumah Ustadz Arifin yang asri nan rindang. Ketika melihat rumah Ustadz Arifin, Ali jadi teringat kondisi rumah kakek dan neneknya di Kota Intan yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah tersebut. Rumah bercat hijau dikelilingi pagar bambu berlantaikan keramik putih dan memiliki halaman luas yang ditanami aneka pepohonan pasti membuat penghuni rumah betah mendiaminya.
Sesaat Ali menghirup sejuknya udara pagi itu, lalu tiba – tiba Ustadz Yayat menepuk pundaknya seraya berkata,”sudah siap bertemu calon bidadarinya ?”, Tanya sang Ustadz. “insya Allah siap Pak”, jawab Ali dengan mantap.
Dag … dig … dug …
Begitu memasuki gerbang rumah Pak Arifin, detak jantung didada Ali makin berdegup kencang. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
“kamu kenapa, Li ? tanya Rahmat.
“nggak Mat. Tapi kok aneh ya tubuhku tiba – tiba gemeteran seperti ini”, jawab Ali.
“nyantai saja … kamu kan nggak akan masuk kedalam kandang singa … cuma masuk kerumah camer alias calon mertua … hihihi ,” kata Rahmat sambil tertawa melihat kegugupan Ali.
“wajar kalau gugup, itu biasa. Niatkan saja kedatangan kita kesini untuk ibadah, silaturahim. pasti langkah kakimu akan jadi ringan”, seru Ustadz Yayat sambil memegang pundak Ali.
“iya Pak. Sudah aku putuskan untuk terus maju. Sekarang atau tidak sama sekali !”, jawab Ali dengan serius.
“nah gitu dong, baru itu Ali yang saya kenal”, balas Ustadz Yayat sambil tersenyum.
Dalam hati Ali berbisik,”semoga saja Allah nanti melancarkan lidahku saat berhadapan dengan Pak Ustadz Arifin … amin”.
“Assalammu’alaikum”, seru Ustadz Yayat sambil mengetuk pintu rumah.
“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, balas seorang laki – laki kira – kira usianya 30 tahunan. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk duduk diruang tamu.
“mungkin yang tadi membukakan pintu adalah kakaknya calonmu, Li”, bisik Rahmat.
“iya”, jawab Ali pendek.
Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan berjilbab warna biru menyuguhkan teh manis dan kue kering pada mereka bertiga.
Ali menatapnya dan hatinya berbisik lagi,”biasanya kalau taarufan, calonnya suka disuruh membawakan minuman pada tamu. Apa mungkin perempuan tadi, ya ? ah, kayaknya bukan. Kalau dilihat secara kasat mata, usia perempuan tadi mungkin sekitar 28 tahunan. Sedangkan kata Ustadz Yayat usia calonku antara 20 – 22 tahun”.
Saat yang mendebarkan pun dimulai.
Pak Ustadz Arifin datang menemui mereka dan duduk dikursi panjang bersama istrinya.
Dengan ramah beliau mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang baru saja disuguhkan.
Ustadz Yayat pun lalu memperkenalkan dua orang yang dibawanya saat itu, yaitu Ali dan sahabatnya, Rahmat.
“nak Ali sudah berapa kali ke Kota Hujan ? kata Ustadz Arifin membuka percakapan.
“sudah dua kali dengan sekarang, Pak”, jawab Ali.
Dulu, Ali pernah ke Kota Hujan mengantar pamannya yang menikah dengan santriwati dari Pesantren yang sama. Namun itu sudah lama sekali, waktu Ali masih duduk dibangku kelas 2 SMP.
Lalu percakapan pun berlanjut dengan saling memberi informasi tentang keadaan pribadi dan kedua keluarga.
Awalnya Ali merasa minder juga mengetahui keluarga Pak Arifin ternyata keluarga besar yang kental agamanya. Bahkan Pak Ustadz Arifin dan istrinya sudah menunaikan ibadah haji tahun lalu. Bandingkan dengan keadaan keluarga Ali yang biasa – biasa saja. Ayahnya hanya buruh bangunan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Jika Pak Ustadz Arifin seorang kyai, ayah Ali jauh dari itu.
Namun kemudian ia berpikir, mungkin ada hikmah dibalik semua ini.
“nak Ali kerja dimana ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya kerja di restoran bu”
“Sudah lama ?”
“iya bu, kurang lebih 2,5 tahun”
“wah, berarti nak Ali pintar masak dong ?”
“nggak juga bu, soalnya saya bukan koki … tapi … ah, saya malu menyebutkannya”, jawab Ali sambil memerah wajahnya.
“lantas sebagai apa ?” tanya istri Pak Ustadz Arifin makin penasaran.
“kalau kata teman – teman sih bu, kerjaan saya ini mirip seorang DJ (disc Jockey) di diskotik … tapi … sebenarnya bukan itu, bu”
“astagfirullahaladzim … jadi nak Ali tukang nyetel musik itu ya ?” tanya bu Arifin makin penasaran.
“bukan bu … saya bilang tadi cuma mirip … kalau di restoran itu, saya kerja sebagai tukang cuci piring. Kerjaannya kan mirip DJ, Cuma kalo DJ yang diputarnya piringan hitam musik, sedangkan saya memutar piring kotor yang belepotan bumbu dan sisa makanan … hehe”, kata Ali sambil tertawa kecil dan menundukkan kepalanya.
“oh begitu ya … kira ibu DJ yang suka nyetel musik di diskotik. nak Ali, ada – ada aja nih”, kata ibu sambil senyum melirik Ustadz Arifin.
Pak Ustadz pun berkata,”nak Ali nggak usah malu mengakui kerja seperti itu. kalau kerja keras terus, insya Allah nanti bakal naik jabatan jadi tukang masak di dapur. Bapak punya saudara yang kerja di Kota Kembang. Dulu ia kerja sebagai cleaning service di restoran, sekarang ia jadi koki karena rajin belajar masak pada koki disana kalau lagi ada waktu istirahat. Bapak tidak mempermasalahkan kerja nak Ali sebagai apa di Kota Kembang, asalkan bersumber dari yang halal dan dibelanjakan untuk tujuan halal, bapak ridha nak Ali jadi calon menantu bapak”.
Ali merasa lega mendengar ucapan Ustadz Arifin seperti itu. Di Kota Kembang banyak wanita yang memandang sebelah mata padanya karena ia kerja sebagai tukang cuci piring bergaji kecil.
“insya Allah Li, kalau kamu sudah menikah rezekimu pasti akan berlipat ganda. Bukan begitu Pak Ustadz “, tanya Ustadz Yayat pada Ustadz Arifin.
“Betul sekali. Dengan menikah, rezeki tidak hanya datang melalui kamu sendiri, tapi bisa juga datang dari istri, keluarganya bahkan banyak rezeki yang tak disangka – sangka akan menghampirimu. Hal itu sudah dijamin Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 32 yang artinya,” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Ah, kegugupan Ali semakin hilang mendengar Pak Ustadz Arifin berkata seperti itu. Tak jarang seorang pemuda yang siap menikah gagal mewujudkan pernikahannya karena saat taaruf keluarga sang istri materialistis. Mereka ingin memiliki calon menantu yang kaya, kerja mapan dan berkendaraan bagus, minimal punya motor.
“nak Ali sendiri punya kriteria calon istrinya seperti apa ?”, tanya Ustadz Arifin.
Ali terdiam cukup lama, kemudian berkata,”saya tidak punya kriteria calon istri harus seperti apa, namun saya ingin mengikuti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menyarankan kita untuk memilih calon pasangan hidup dari agamanya yang baik”, jawab Ali setengah diplomatis.
“namun dalam hati, saya juga punya keinginan bahwa seorang istri saya nanti haruslah berjilbab panjang, taat pada suaminya dan siap hidup sederhana. Begitu saja Pak”, sambung Ali.
“oh begitu. Nak Ali nggak pingin punya istri yang cantik ?”, tanya Ustadz Arifin hendak menguji Ali.
“bagi saya cantik akhlak lebih penting daripada sekedar cantik fisik. Di Kota Kembang banyak perempuan yang cantik fisiknya, namun saya kesulitan mencari yang cantik agama dan akhlaknya”, jawab Ali dengan mantap.
“jadi Ali rela jauh – jauh datang kemari demi mencari wanita shalehah ya ? subhanallah. Semoga Allah meridhai niat sucimu,nak”. Kata Ustadz Arifin terharu.
Dikaca jendela, Ali melihat sekumpulan wanita berjilbab berwarna biru yang duduk dibangku panjang. Ada yang sedang memegang bayi, balita dan seorang sedang membaca buku. Ali jadi penasaran, kira – kira calon istrinya yang mana, ya ?
Rupanya tingkah Ali yang sedang menengok jendela terlihat Pak Ustadz Arifin, beliau lalu bertanya,”nak Ali sudah tak sabar ya ingin bertemu anak bapak yang nantinya insya Allah jadi calon istrimu ?”
“iya Pak, kalau boleh saya ingin bertemu dengannya walau sebentar”, jawab Ali sambil tersipu malu.
“hehehe … ia tidak ada diantara perempuan yang duduk diluar itu, mereka itu kakak – kakaknya. Bapak kan punya 8 anak, 6 perempuan dan 2 laki – laki. Calonmu itu anak yang keenam”, katanya.
“lalu kalau calon saya ada dimana,Pak ?”, tanya Ali yang jadi penasaran.
“sebelumnya, memang nak Ali kenapa penasaran sekali ingin melihat calonnya ? takut anak bapak tidak cantik ya ? atau takut ia benjol atau gepeng gitu ya ? hahaha”, katanya sambil tertawa.
Ali tak bisa berkata apa – apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiba – tiba istri Pak Ustadz Arifin beranjak dari kursi lalu masuk ke ruang tengah rumah, tak lama kemudian ia datang lagi bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang warna putih dan bergamis pink alias merah jambu.
“ini anak bapak yang nantinya jadi calon istri nak Ali, coba lihat sekarang”, kata Pak Ustadz Arifin.
Ali yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebelah kiri. Dilihatnya sesosok perempuan anggun dan berparas ayu. Saat matanya beradu pandang dengan mata perempuan tersebut, keduanya langsung menundukkan kepalanya.
Desir – desir halus menyusup kedalam relung hati Ali, rasanya damai sekali.
“Yaa Allah, begitu indah perempuan ciptaanMu itu”, bisik hatinya.
“bagaimana nak Ali, sudah puas melihat anak bapak ? taarufnya mau berlanjut atau tidak ?”, Tanya Ustadz Arifin membuyarkan ketenangan hatinya.
“iya Pak, lanjutkan saja”, jawab Ali pendek namun tegas.
“Alhamdulillah”, seru hadirin yang ada diruangan tersebut.
Ali pun diberi tahu bahwa calonnya itu bernama Siti Aminah, usianya baru 22 tahun dan November nanti usianya beranjak jadi 23 tahun. Kesehariannya mengajar di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan.
“nak Ali sudah punya rencana mau menikah kapan ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya sih sudah punya rencana ingin menikah tanggal 10 – 10 – 2010”, jawab Ali
“alhamdulillah waktunya sebentar lagi. kalau boleh tahu kenapa ingin tanggal itu ? apa nak Ali ada perhitungan khusus “, tanyanya lagi.
“tidak bu. Saya tidak percaya pada penanggalan orang tua dulu yang menyebutkan ada anggapan hari baik atau hari buruk. saya memilih tanggal itu karena merasa unik saja, angkanya serba 10”, jawab Ali lagi.
“oh begitu. Syukurlah, ibu tidak mau jika nak Ali memiliki kepercayaan pada hari baik atau hari buruk seperti orang tua dulu. namun jika alasannya karena unik tadi, ibu bisa memahaminya.”
Selesai acara ngobrol perkenalan, mereka pun lantas mengajak Ali dan yang lainnya makan siang bersama. Usai makan, mereka berkumpul lagi diruang tamu.
“Bapak dan ibu, boleh saya memberi sesuatu untuk calon saya ?”, tanya Ali pada Pak Ustadz Arifin bersama istrinya.
“mau memberi apa nak Ali ? tak usah merepotkan nak Ali yang sudah jauh – jauh datang kesini”, jawabnya.
“nggak merepotkan Pak. Ini saya mau memberikan sebuah cerpen atau cerita pendek karya saya yang berjudul “Ustadz kupu – kupu” pada calon istri saya dan sebuah VCD yang didalamnya ada foto – foto saya waktu kecil hingga sekarang termasuk foto saya bersama keluarga di Kota Kembang. Hal ini saya lakukan agar kelak ia bisa lebih mengenal saya lewat karya – karya saya, maklum lah Pak saya punya hobi menulis cerpen dan memotret”, kata Ali sambil mnyerahkan sebuah cerpen dan VCD pada Pak Ustadz Arifin.
“saya terima dengan baik sesuatu dari nak Ali ini, mudah – mudahan bermanfaat dan bisa membuat kalian semakin saling mengenal satu sama lain”, katanya.
“syukurlah kalau nak Ali punya hobi positif menulis, jadikan tulisannya sebagai ladang dakwah lewat media massa. Bapak mendukung dakwah lewat tulisan yang sekarang jadi kegemaran nak Ali”, sambung Pak Ustadz lagi.
“alhamdulillah.terima kasih banyak Pak”.
Adzan dzuhur telah berkumandang, mereka pun segera shalat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sang Ustadz. Usai shalat, Ali dan rahmat yang diwakili Ustadz Yayat berpamitan untuk pulang. Insya Allah mereka akan kembali lagi dilain hari untuk melanjutkan ke tahap khitbah lalu walimah.
Suasana sangat cerah saat itu, secerah hati Ali.
“Alhamdulillah Yaa Rabb … Engkau telah melancarkan pertemuan hari ini”, do’a yang terlantun dari hati Ali yang tulus.
Diperjalanan pulang menuju Kota Kembang, Ustadz Yayat bertanya Pada Ali,”Bagaimana Li, ? puas dengan acara taarufannya ?”
“alhamdulillah, puas banget Pak. Benar – benar ibarat sambil menyelam, cari mutiara. Alhamdulillah keduanya lancar … pengajian bulanan diikuti, cari jodoh berhasil ! hehehe”, jawab Ali sambil tertawa.

Semoga Kita bisa memetik sesuatu yang bermanfaat dari cerita diatas.
Allahu A’lam

CERITA PAGI INI

KISAH TA'ARUF (SAMBIL MENYELAM MENCARI MUTIARA)
DIKUTIP DARI: KUMPULAN CERITA DAN KISAH TELADAN



Kisah ini menceritakan tentang kisah Ta’aruf seseorang, unik dan menarik.

Akhir bulan maret lalu, Ali mendapat banyak ucapan “selamat ulang tahun”, “happy birthday” atau “met milad” dari kawan – kawannya di Facebook (FB). Hal itu dikarenakan profilnya disitus jejaring sosial tersebut menampilkan tanggal lahir sehingga otomatis ketika hari itu tiba, semua kawan – kawan mengetahuinya di Beranda/Home FB mereka.Biasanya, ucapan selamat selalu ditambahi “kata – kata bersayap” berupa do’a maupun harapan pada Ali ditahun mendatang.
Kata – kata bersayap tadi kebanyakan intinya sama yaitu mendo’akan Ali agar panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki dan … segera mendapat jodoh !
Harusnya hari ulang tahun jadi hari yang membahagiakan, namun bagi Ali tidak. Ba’da dzuhur ia masih menyendiri di masjid memegang tasbih sambil berdzikir menyebut asma Allah. Setelahnya ia berdo’a seraya bersyukur karena telah diberi umur panjang, badan yang sehat serta rezeki yang cukup. Ia juga memohon ampun pada Allah atas dosa maupun kesalahannya dimasa lalu.
Tiba – tiba ia teringat tulisan teman – temannya yang berharap ia segera mendapat jodoh. Ia pun lalu menambahi do’anya dengan ucapan,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Do’a yang diucapkan Ali tersebut merupakan ayat ke 74 dari surat Al – Furqon dalam Al Quran. Ia pernah mendengar dalam ceramah Aa Gym jika ingin segera mendapat jodoh, ucapkanlah ayat tersebut saat ba’da shalat wajib dan tahajud. Sudah berulang kali Ali berdo’a namun hingga usianya kini telah mendekati kepala tiga, belum ada tanda – tanda akan datangnya “bidadari” pendamping hidupnya.
Tiba – tiba dari sebelah Ali terdengar suara orang mengucapkan salam,“assalammu’alaikum”, katanya. Ali pun segera membalikkan badan dan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan sambil menjawab,”wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”.
Ternyata yang menghampiri Ali adalah sahabatnya yang bernama Rahmat Solihin, namun biasa dipanggil Mamat.
Ia membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Ali sambil berkata,”Li, ada undangan pengajian bulanan dari Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan. Kamu mau ikut, nggak ?”. Sejenak Ali membaca surat undangan pengajian bulanan tersebut lalu menjawab,”Ustadz Soefyan yang sering mengisi pengajian rutin dimasjid ini mengajak kita ke Pesantrennya ya.wah aku harus ikut nih, lagipula aku pengen banget merasakan suasana pengajian di Pesantren”, jawab Ali penuh semangat.
“kalau kamu mau ikut, nanti sore kita berangkat bersama Ustadz Yayat”, kata Rahmat.
”wah … kalau Ustadz Yayat ikut, aku tambah semangat nih pengen segera pergi ke Kota Hujan. Mat, tolong antar aku kerumah Ustadz Yayat sekarang ya”, kata Ali dengan semangat membara.
“mau ngapain ke rumah Ustadz Yayat sekarang ?”, Tanya Rahmat yang penasaran melihat tingkah Ali .”aku mau membicarakan sesuatu yang penting bersama beliau … hehe”, kata Ali lagi.
Setelah mengendarai Jupiter MX biru selama sepuluh menit, mereka berdua tiba dirumah Ustadz Yayat. Tuan rumah segera mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya yang sederhana lalu mereka berbicara enam mata diruang tamu.
Ali menceritakan keinginannya untuk ikut menghadiri pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan sambil meminta bantuan Ustadz Yayat membantunya mencarikan jodoh disana.
“jadi tujuan utama kamu kesini pengen minta dicarikan jodoh disana, Li ?”,tanya Ustadz Yayat.
“iya Pak Ustadz. Hari ini tak terasa usia saya sudah mendekati kepala tiga dan ingin segera punya istri”, jawab Ali.
Ia pun mulai menceritakan masa lalunya yang suka memendam perasaan cinta jika menyukai lawan jenisnya. Hingga akhirnya wanita yang dicintainya itu pun menikah dengan laki – laki lain. Ali sedih dan sering menyalahkan dirinya yang kurang berani namun disatu sisi yang lain ia pun sadar mungkin sudah takdirnya harus begitu.
Ustadz Yayat pun berkata bahwa ia punya seorang teman yang merupakan pengurus di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan. Temannya itu memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah dan masih menunggu laki – laki yang hendak meminangnya. Nama temannya itu adalah Ustadz Arifin, ia memiliki 8 anak dan anak keenamnya lah yang akan coba dikenalkan pada Ali.
Ali pun merasa beruntung.
Keinginannya dicarikan jodoh bisa terlaksana berkat bantuan Ustadz Yayat.
“Li, walaupun kamu hendak mencari jodoh atau taaruf disana, tetap tujuan utama adalah mengikuti pengajian bulanan Ustadz Soefyan. jangan lupa itu ya”, pinta Ustadz Yayat.
“iya Pak. Ibaratnya sambil menyelam, minum air … pengajiannya diikuti, sekalian cari jodoh.hehe”, jawab Ali sambil tersenyum lebar.
“Dasar, kamu ini. Kalau begini caranya sih bukan menyelam sambil minum air. Tapi lebih tepatnya sambil menyelam, cari mutiara ! hehehe … “, kata Ustadz Yayat sambil tertawa. Ali dan Rahmat pun ikut tertawa mendengar ucapan beliau tersebut.
Ba’da ashar mereka bertiga berangkat ke Kota Hujan dengan mengendarai motor. Karena Ali tidak memiliki motor, ia pun dibonceng Rahmat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan menjelang shalat magrib. Setelah mengikuti shalat berjamaah, mereka bertiga diajak keliling Pesantren oleh Ustadz Arifin. Secara pribadi Ali merasa kagum dengan suasana Pesantren tersebut. Dimana – mana terdengar lantunan ayat suci Al quran yang sedang dibaca para santri dan santriwati.
Ba’da isya mereka mengikuti pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan. Subhanallah jemaahnya banyak sekali, rupanya selain santri dan santriwati yang belajar di Pesantren tersebut, ikut hadir pula masyarakat setempat serta para alumni lulusan Pesantren yang telah menyebar ke berbagai kota.
Selesai pengajian bulanan, mereka bertiga dipersilahkan Ustadz Arifin untuk beristirahat diruang khusus tamu Pesantren.
Sebelum pamit pulang, Ustadz Arifin berkata pada Ustadz Yayat,”Pak Ustadz, besok sekitar jam 10 pagi ada orang yang akan mengantar kalian ke rumah saya. Tolong datang ya, kita silaturahim sekalian menjalankan proses taaruf saudara Ali”, katanya.
“insya Allah”, jawab Ustadz Yayat.
Keesokan harinya, diruang khusus tamu Pesantren nampak Ali beserta Rahmat dan Ustadz Yayat sedang menikmati kopi panas ditemani roti kukus yang disediakan pengurus Pesantren untuk mereka.
Tak lama kemudian datanglah lelaki seumuran Ali datang menjemput mereka bertiga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Arifin, Ali tak henti – hentinya berdo’a agar proses taaruf yang akan dilaksanakan hari ini berjalan lancar.
“Yaa Allah, lancarkanlah hari ini … jangan sampai gagal karena aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu dengan jodohku … amin”, bisik Ali dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Setelah melewati areal persawahan yang hijau kekuningan serta jalan yang berkelak – kelok naik turun, akhirnya mereka sampai di depan rumah Ustadz Arifin yang asri nan rindang. Ketika melihat rumah Ustadz Arifin, Ali jadi teringat kondisi rumah kakek dan neneknya di Kota Intan yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah tersebut. Rumah bercat hijau dikelilingi pagar bambu berlantaikan keramik putih dan memiliki halaman luas yang ditanami aneka pepohonan pasti membuat penghuni rumah betah mendiaminya.
Sesaat Ali menghirup sejuknya udara pagi itu, lalu tiba – tiba Ustadz Yayat menepuk pundaknya seraya berkata,”sudah siap bertemu calon bidadarinya ?”, Tanya sang Ustadz. “insya Allah siap Pak”, jawab Ali dengan mantap.
Dag … dig … dug …
Begitu memasuki gerbang rumah Pak Arifin, detak jantung didada Ali makin berdegup kencang. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
“kamu kenapa, Li ? tanya Rahmat.
“nggak Mat. Tapi kok aneh ya tubuhku tiba – tiba gemeteran seperti ini”, jawab Ali.
“nyantai saja … kamu kan nggak akan masuk kedalam kandang singa … cuma masuk kerumah camer alias calon mertua … hihihi ,” kata Rahmat sambil tertawa melihat kegugupan Ali.
“wajar kalau gugup, itu biasa. Niatkan saja kedatangan kita kesini untuk ibadah, silaturahim. pasti langkah kakimu akan jadi ringan”, seru Ustadz Yayat sambil memegang pundak Ali.
“iya Pak. Sudah aku putuskan untuk terus maju. Sekarang atau tidak sama sekali !”, jawab Ali dengan serius.
“nah gitu dong, baru itu Ali yang saya kenal”, balas Ustadz Yayat sambil tersenyum.
Dalam hati Ali berbisik,”semoga saja Allah nanti melancarkan lidahku saat berhadapan dengan Pak Ustadz Arifin … amin”.
“Assalammu’alaikum”, seru Ustadz Yayat sambil mengetuk pintu rumah.
“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, balas seorang laki – laki kira – kira usianya 30 tahunan. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk duduk diruang tamu.
“mungkin yang tadi membukakan pintu adalah kakaknya calonmu, Li”, bisik Rahmat.
“iya”, jawab Ali pendek.
Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan berjilbab warna biru menyuguhkan teh manis dan kue kering pada mereka bertiga.
Ali menatapnya dan hatinya berbisik lagi,”biasanya kalau taarufan, calonnya suka disuruh membawakan minuman pada tamu. Apa mungkin perempuan tadi, ya ? ah, kayaknya bukan. Kalau dilihat secara kasat mata, usia perempuan tadi mungkin sekitar 28 tahunan. Sedangkan kata Ustadz Yayat usia calonku antara 20 – 22 tahun”.
Saat yang mendebarkan pun dimulai.
Pak Ustadz Arifin datang menemui mereka dan duduk dikursi panjang bersama istrinya.
Dengan ramah beliau mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang baru saja disuguhkan.
Ustadz Yayat pun lalu memperkenalkan dua orang yang dibawanya saat itu, yaitu Ali dan sahabatnya, Rahmat.
“nak Ali sudah berapa kali ke Kota Hujan ? kata Ustadz Arifin membuka percakapan.
“sudah dua kali dengan sekarang, Pak”, jawab Ali.
Dulu, Ali pernah ke Kota Hujan mengantar pamannya yang menikah dengan santriwati dari Pesantren yang sama. Namun itu sudah lama sekali, waktu Ali masih duduk dibangku kelas 2 SMP.
Lalu percakapan pun berlanjut dengan saling memberi informasi tentang keadaan pribadi dan kedua keluarga.
Awalnya Ali merasa minder juga mengetahui keluarga Pak Arifin ternyata keluarga besar yang kental agamanya. Bahkan Pak Ustadz Arifin dan istrinya sudah menunaikan ibadah haji tahun lalu. Bandingkan dengan keadaan keluarga Ali yang biasa – biasa saja. Ayahnya hanya buruh bangunan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Jika Pak Ustadz Arifin seorang kyai, ayah Ali jauh dari itu.
Namun kemudian ia berpikir, mungkin ada hikmah dibalik semua ini.
“nak Ali kerja dimana ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya kerja di restoran bu”
“Sudah lama ?”
“iya bu, kurang lebih 2,5 tahun”
“wah, berarti nak Ali pintar masak dong ?”
“nggak juga bu, soalnya saya bukan koki … tapi … ah, saya malu menyebutkannya”, jawab Ali sambil memerah wajahnya.
“lantas sebagai apa ?” tanya istri Pak Ustadz Arifin makin penasaran.
“kalau kata teman – teman sih bu, kerjaan saya ini mirip seorang DJ (disc Jockey) di diskotik … tapi … sebenarnya bukan itu, bu”
“astagfirullahaladzim … jadi nak Ali tukang nyetel musik itu ya ?” tanya bu Arifin makin penasaran.
“bukan bu … saya bilang tadi cuma mirip … kalau di restoran itu, saya kerja sebagai tukang cuci piring. Kerjaannya kan mirip DJ, Cuma kalo DJ yang diputarnya piringan hitam musik, sedangkan saya memutar piring kotor yang belepotan bumbu dan sisa makanan … hehe”, kata Ali sambil tertawa kecil dan menundukkan kepalanya.
“oh begitu ya … kira ibu DJ yang suka nyetel musik di diskotik. nak Ali, ada – ada aja nih”, kata ibu sambil senyum melirik Ustadz Arifin.
Pak Ustadz pun berkata,”nak Ali nggak usah malu mengakui kerja seperti itu. kalau kerja keras terus, insya Allah nanti bakal naik jabatan jadi tukang masak di dapur. Bapak punya saudara yang kerja di Kota Kembang. Dulu ia kerja sebagai cleaning service di restoran, sekarang ia jadi koki karena rajin belajar masak pada koki disana kalau lagi ada waktu istirahat. Bapak tidak mempermasalahkan kerja nak Ali sebagai apa di Kota Kembang, asalkan bersumber dari yang halal dan dibelanjakan untuk tujuan halal, bapak ridha nak Ali jadi calon menantu bapak”.
Ali merasa lega mendengar ucapan Ustadz Arifin seperti itu. Di Kota Kembang banyak wanita yang memandang sebelah mata padanya karena ia kerja sebagai tukang cuci piring bergaji kecil.
“insya Allah Li, kalau kamu sudah menikah rezekimu pasti akan berlipat ganda. Bukan begitu Pak Ustadz “, tanya Ustadz Yayat pada Ustadz Arifin.
“Betul sekali. Dengan menikah, rezeki tidak hanya datang melalui kamu sendiri, tapi bisa juga datang dari istri, keluarganya bahkan banyak rezeki yang tak disangka – sangka akan menghampirimu. Hal itu sudah dijamin Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 32 yang artinya,” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Ah, kegugupan Ali semakin hilang mendengar Pak Ustadz Arifin berkata seperti itu. Tak jarang seorang pemuda yang siap menikah gagal mewujudkan pernikahannya karena saat taaruf keluarga sang istri materialistis. Mereka ingin memiliki calon menantu yang kaya, kerja mapan dan berkendaraan bagus, minimal punya motor.
“nak Ali sendiri punya kriteria calon istrinya seperti apa ?”, tanya Ustadz Arifin.
Ali terdiam cukup lama, kemudian berkata,”saya tidak punya kriteria calon istri harus seperti apa, namun saya ingin mengikuti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menyarankan kita untuk memilih calon pasangan hidup dari agamanya yang baik”, jawab Ali setengah diplomatis.
“namun dalam hati, saya juga punya keinginan bahwa seorang istri saya nanti haruslah berjilbab panjang, taat pada suaminya dan siap hidup sederhana. Begitu saja Pak”, sambung Ali.
“oh begitu. Nak Ali nggak pingin punya istri yang cantik ?”, tanya Ustadz Arifin hendak menguji Ali.
“bagi saya cantik akhlak lebih penting daripada sekedar cantik fisik. Di Kota Kembang banyak perempuan yang cantik fisiknya, namun saya kesulitan mencari yang cantik agama dan akhlaknya”, jawab Ali dengan mantap.
“jadi Ali rela jauh – jauh datang kemari demi mencari wanita shalehah ya ? subhanallah. Semoga Allah meridhai niat sucimu,nak”. Kata Ustadz Arifin terharu.
Dikaca jendela, Ali melihat sekumpulan wanita berjilbab berwarna biru yang duduk dibangku panjang. Ada yang sedang memegang bayi, balita dan seorang sedang membaca buku. Ali jadi penasaran, kira – kira calon istrinya yang mana, ya ?
Rupanya tingkah Ali yang sedang menengok jendela terlihat Pak Ustadz Arifin, beliau lalu bertanya,”nak Ali sudah tak sabar ya ingin bertemu anak bapak yang nantinya insya Allah jadi calon istrimu ?”
“iya Pak, kalau boleh saya ingin bertemu dengannya walau sebentar”, jawab Ali sambil tersipu malu.
“hehehe … ia tidak ada diantara perempuan yang duduk diluar itu, mereka itu kakak – kakaknya. Bapak kan punya 8 anak, 6 perempuan dan 2 laki – laki. Calonmu itu anak yang keenam”, katanya.
“lalu kalau calon saya ada dimana,Pak ?”, tanya Ali yang jadi penasaran.
“sebelumnya, memang nak Ali kenapa penasaran sekali ingin melihat calonnya ? takut anak bapak tidak cantik ya ? atau takut ia benjol atau gepeng gitu ya ? hahaha”, katanya sambil tertawa.
Ali tak bisa berkata apa – apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiba – tiba istri Pak Ustadz Arifin beranjak dari kursi lalu masuk ke ruang tengah rumah, tak lama kemudian ia datang lagi bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang warna putih dan bergamis pink alias merah jambu.
“ini anak bapak yang nantinya jadi calon istri nak Ali, coba lihat sekarang”, kata Pak Ustadz Arifin.
Ali yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebelah kiri. Dilihatnya sesosok perempuan anggun dan berparas ayu. Saat matanya beradu pandang dengan mata perempuan tersebut, keduanya langsung menundukkan kepalanya.
Desir – desir halus menyusup kedalam relung hati Ali, rasanya damai sekali.
“Yaa Allah, begitu indah perempuan ciptaanMu itu”, bisik hatinya.
“bagaimana nak Ali, sudah puas melihat anak bapak ? taarufnya mau berlanjut atau tidak ?”, Tanya Ustadz Arifin membuyarkan ketenangan hatinya.
“iya Pak, lanjutkan saja”, jawab Ali pendek namun tegas.
“Alhamdulillah”, seru hadirin yang ada diruangan tersebut.
Ali pun diberi tahu bahwa calonnya itu bernama Siti Aminah, usianya baru 22 tahun dan November nanti usianya beranjak jadi 23 tahun. Kesehariannya mengajar di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan.
“nak Ali sudah punya rencana mau menikah kapan ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya sih sudah punya rencana ingin menikah tanggal 10 – 10 – 2010”, jawab Ali
“alhamdulillah waktunya sebentar lagi. kalau boleh tahu kenapa ingin tanggal itu ? apa nak Ali ada perhitungan khusus “, tanyanya lagi.
“tidak bu. Saya tidak percaya pada penanggalan orang tua dulu yang menyebutkan ada anggapan hari baik atau hari buruk. saya memilih tanggal itu karena merasa unik saja, angkanya serba 10”, jawab Ali lagi.
“oh begitu. Syukurlah, ibu tidak mau jika nak Ali memiliki kepercayaan pada hari baik atau hari buruk seperti orang tua dulu. namun jika alasannya karena unik tadi, ibu bisa memahaminya.”
Selesai acara ngobrol perkenalan, mereka pun lantas mengajak Ali dan yang lainnya makan siang bersama. Usai makan, mereka berkumpul lagi diruang tamu.
“Bapak dan ibu, boleh saya memberi sesuatu untuk calon saya ?”, tanya Ali pada Pak Ustadz Arifin bersama istrinya.
“mau memberi apa nak Ali ? tak usah merepotkan nak Ali yang sudah jauh – jauh datang kesini”, jawabnya.
“nggak merepotkan Pak. Ini saya mau memberikan sebuah cerpen atau cerita pendek karya saya yang berjudul “Ustadz kupu – kupu” pada calon istri saya dan sebuah VCD yang didalamnya ada foto – foto saya waktu kecil hingga sekarang termasuk foto saya bersama keluarga di Kota Kembang. Hal ini saya lakukan agar kelak ia bisa lebih mengenal saya lewat karya – karya saya, maklum lah Pak saya punya hobi menulis cerpen dan memotret”, kata Ali sambil mnyerahkan sebuah cerpen dan VCD pada Pak Ustadz Arifin.
“saya terima dengan baik sesuatu dari nak Ali ini, mudah – mudahan bermanfaat dan bisa membuat kalian semakin saling mengenal satu sama lain”, katanya.
“syukurlah kalau nak Ali punya hobi positif menulis, jadikan tulisannya sebagai ladang dakwah lewat media massa. Bapak mendukung dakwah lewat tulisan yang sekarang jadi kegemaran nak Ali”, sambung Pak Ustadz lagi.
“alhamdulillah.terima kasih banyak Pak”.
Adzan dzuhur telah berkumandang, mereka pun segera shalat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sang Ustadz. Usai shalat, Ali dan rahmat yang diwakili Ustadz Yayat berpamitan untuk pulang. Insya Allah mereka akan kembali lagi dilain hari untuk melanjutkan ke tahap khitbah lalu walimah.
Suasana sangat cerah saat itu, secerah hati Ali.
“Alhamdulillah Yaa Rabb … Engkau telah melancarkan pertemuan hari ini”, do’a yang terlantun dari hati Ali yang tulus.
Diperjalanan pulang menuju Kota Kembang, Ustadz Yayat bertanya Pada Ali,”Bagaimana Li, ? puas dengan acara taarufannya ?”
“alhamdulillah, puas banget Pak. Benar – benar ibarat sambil menyelam, cari mutiara. Alhamdulillah keduanya lancar … pengajian bulanan diikuti, cari jodoh berhasil ! hehehe”, jawab Ali sambil tertawa.

Semoga Kita bisa memetik sesuatu yang bermanfaat dari cerita diatas.
Allahu A’lam

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Kalender 2019

Kalender 2019
Perfect World Online Spear Thingy

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER SMKN 2 TEBING TINGGI.AYO SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENGAJI, DIJAMIN LANGSUNG LANCAR MEMBACA AL QUR'AN AYO BACA CERITA MENARIK HANYA DI BLOG INI SETIAP HARI KAMIS DAN SABTU PUKUL 19.00 WIB .
Islam Ornamental Art 2
SELAMAT DATANG DI BLOG MUSLIM CENTER. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT UNTUK ANDA DAN DAPATKAN SELURUH INFORMASI DISINI
AYO LIKE AND SUBSCRIBE DAKWAH STOP MOTION,TAQWA MEDIA DAN MUSLIM CENTER SMK 2 DI YOUTUBE KESAYANGAN ANDA.

back to top