SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER. KAMI AKAN MENYEDIAKAN BERITA DAN KONTEN ISLAMI TERUPDATE SETIAP MINGGUNYA
Post Yang Belum Di Upload

﷽ _Time To Pray_

⏰ _*REMINDER*_


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


*ASHAR*    🌤

*Time*                 ` 人`             ❀  ❀

          ` (_)             ❀

          人│∩│                  ❀

            (_│∩│人

         人        |  | │∩│_)     

     (_) ||=||==|||==||=||    人

       │∩│  [    ^    [  ]    ^    ](_)

 🌳°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°🌳


⏰ *W I B* ⏰


🌙 *Jangan Sampai Rasa Lelah mu Mengalahkan Kewajibanmu Untuk beribadah* 🌙


🕌 Biasakan Shalat Awal waktu.. Dan diutamakan pergi ke masjid bagi Ikhwan.. 


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════•


*ﺣَﺎﻓِﻈُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻮُﺳْﻄَﻰ ﻭَﻗُﻮﻣُﻮﺍ ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ*


_“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) *shalat wusthaa.* Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”_

📚 *( QS. Al-Baqarah [2]: 238 )*


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda,


*ﻟَﻦْ ﻳَﻠِﺞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺃَﺣَﺪٌ ﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ، ﻭَﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭﺑِﻬَﺎ*

 

_“Tidak akan masuk neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat subuh, ) *dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat ashar)”*_

📚 *( HR. Muslim no. 634 )*


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════


 ⚠ *Masih Enggan Mengerjakan Shalat ??* ⚠


*مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ*


_“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya”_

📚 *( HR. Bukhari no. 594 )*


*ﻓَﻮَﻳْﻞٌ ﻟِﻠْﻤُﺼَﻠِّﻴﻦَ . ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻋَﻦْ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻫُﻮﻥَ*


_“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, *(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”*_ 

📚 *( QS. Al-Maa’uun: 4-5 )*


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════•


Semoga Allah selalu memberi keberkahan kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.


آميــــن اللّـهُمَّ آميـــــــن   🌴


وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ    🌳


🍂🍂🍂

🍂🍂      ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

🍂      🌹➖➖➖➖➖➖➖

*Team Admin,*

*SEPUTAR ISLAM* 🌎

*_( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_* 💬💬


📓 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

Time To Pray

﷽ _Time To Pray_

⏰ _*REMINDER*_


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


*ASHAR*    🌤

*Time*                 ` 人`             ❀  ❀

          ` (_)             ❀

          人│∩│                  ❀

            (_│∩│人

         人        |  | │∩│_)     

     (_) ||=||==|||==||=||    人

       │∩│  [    ^    [  ]    ^    ](_)

 🌳°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°🌳


⏰ *W I B* ⏰


🌙 *Jangan Sampai Rasa Lelah mu Mengalahkan Kewajibanmu Untuk beribadah* 🌙


🕌 Biasakan Shalat Awal waktu.. Dan diutamakan pergi ke masjid bagi Ikhwan.. 


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════•


*ﺣَﺎﻓِﻈُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺍﻟْﻮُﺳْﻄَﻰ ﻭَﻗُﻮﻣُﻮﺍ ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻧِﺘِﻴﻦَ*


_“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) *shalat wusthaa.* Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”_

📚 *( QS. Al-Baqarah [2]: 238 )*


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda,


*ﻟَﻦْ ﻳَﻠِﺞَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺃَﺣَﺪٌ ﺻَﻠَّﻰ ﻗَﺒْﻞَ ﻃُﻠُﻮﻉِ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ، ﻭَﻗَﺒْﻞَ ﻏُﺮُﻭﺑِﻬَﺎ*

 

_“Tidak akan masuk neraka seorang pun yang mengerjakan shalat sebelum matahari terbit (yakni shalat subuh, ) *dan sebelum matahari terbenam (yakni shalat ashar)”*_

📚 *( HR. Muslim no. 634 )*


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════


 ⚠ *Masih Enggan Mengerjakan Shalat ??* ⚠


*مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ*


_“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya”_

📚 *( HR. Bukhari no. 594 )*


*ﻓَﻮَﻳْﻞٌ ﻟِﻠْﻤُﺼَﻠِّﻴﻦَ . ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢْ ﻋَﻦْ ﺻَﻠَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻫُﻮﻥَ*


_“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, *(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”*_ 

📚 *( QS. Al-Maa’uun: 4-5 )*


•══════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ══════•


Semoga Allah selalu memberi keberkahan kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.


آميــــن اللّـهُمَّ آميـــــــن   🌴


وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ    🌳


🍂🍂🍂

🍂🍂      ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

🍂      🌹➖➖➖➖➖➖➖

*Team Admin,*

*SEPUTAR ISLAM* 🌎

*_( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_* 💬💬


📓 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

*GARA-GARA MENYIKSA SEEKOR KUCING*

*_________________________*


👤 Ari Wahyudi, Ssi.



📜📚___Hadits berikut jadi pelajaran bagi kita bagaimana seorang muslim diajarkan untuk menebarkan kasih sayang. Walaupun pada seekor binatang seperti kucing harus tetap memberikan kasih. Lihatlah ada yang disiksa di neraka gara-gara menyiksa binatang seperti ini.


Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, _“Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.”_

📚 *(HR. Bukhari dan Muslim)*


📜 *FAIDAH HADITS*


Kaum muslimin yang dirahmati Allah, hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita betapa Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang. Tidak hanya kepada sesama manusia, bahkan kepada seekor binatang sekalipun. Akibat tidak menaruh kasih sayang kepada seekor kucing, perempuan tersebut harus merasakan pedihnya siksa neraka.


Imam Nawawi rahimahullah berkata, _“Hadits ini menunjukkan diharamkannya membunuh kucing dan diharamkan mengurungnya tanpa diberi makanan dan minuman. Adapun dimasukkannya dia ke dalam neraka adalah karena perbuatan itu. Zahir hadits menunjukkan bahwa perempuan tersebut beragama Islam, meskipun demikian dia masuk neraka gara-gara menyiksa seekor kucing.”_

📚 *(lihat Syarh Muslim [7/347])*


Beliau juga menegaskan, _“Maksiat ini bukanlah dosa kecil, bahkan dia bisa berubah menjadi dosa besar apabila dilakukan secara terus-menerus.”_

📚 *(lihatSyarh Muslim [7/348])*


Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sayangilah [sesama] niscaya kalian pun akan disayangi. Berikanlah ampun/maaf maka niscaya kalian pun akan diampuni oleh Allah…”_

📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, _“Tidaklah dicabut rasa kasih sayang kecuali dari orang yang celaka.”_ 📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Dari Jarir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyayanginya.”_ 

📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, _“Di dalamnya terkandung dorongan untuk menaruh kasih sayang kepada segenap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.”_

📚 *(lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad [1/490])*


Sebagian tabi’in mengatakan, _“Barangsiapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!”_ 

📚 *(lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad [1/500])*


Semoga Allah menanamkan jiwa kasih sayang ke dalam diri kita.


—


✍🏻 Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

KAJIAN HARIAN

*GARA-GARA MENYIKSA SEEKOR KUCING*

*_________________________*


👤 Ari Wahyudi, Ssi.



📜📚___Hadits berikut jadi pelajaran bagi kita bagaimana seorang muslim diajarkan untuk menebarkan kasih sayang. Walaupun pada seekor binatang seperti kucing harus tetap memberikan kasih. Lihatlah ada yang disiksa di neraka gara-gara menyiksa binatang seperti ini.


Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, _“Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.”_

📚 *(HR. Bukhari dan Muslim)*


📜 *FAIDAH HADITS*


Kaum muslimin yang dirahmati Allah, hadits yang mulia ini menunjukkan kepada kita betapa Islam sangat menjunjung tinggi kasih sayang. Tidak hanya kepada sesama manusia, bahkan kepada seekor binatang sekalipun. Akibat tidak menaruh kasih sayang kepada seekor kucing, perempuan tersebut harus merasakan pedihnya siksa neraka.


Imam Nawawi rahimahullah berkata, _“Hadits ini menunjukkan diharamkannya membunuh kucing dan diharamkan mengurungnya tanpa diberi makanan dan minuman. Adapun dimasukkannya dia ke dalam neraka adalah karena perbuatan itu. Zahir hadits menunjukkan bahwa perempuan tersebut beragama Islam, meskipun demikian dia masuk neraka gara-gara menyiksa seekor kucing.”_

📚 *(lihat Syarh Muslim [7/347])*


Beliau juga menegaskan, _“Maksiat ini bukanlah dosa kecil, bahkan dia bisa berubah menjadi dosa besar apabila dilakukan secara terus-menerus.”_

📚 *(lihatSyarh Muslim [7/348])*


Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Sayangilah [sesama] niscaya kalian pun akan disayangi. Berikanlah ampun/maaf maka niscaya kalian pun akan diampuni oleh Allah…”_

📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, _“Tidaklah dicabut rasa kasih sayang kecuali dari orang yang celaka.”_ 📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Dari Jarir radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, _“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah ‘azza wa jalla tidak akan menyayanginya.”_ 

📚 *(HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad)*


Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, _“Di dalamnya terkandung dorongan untuk menaruh kasih sayang kepada segenap makhluk, tercakup di dalamnya orang beriman dan orang kafir, serta binatang yang dimilikinya maupun binatang yang bukan miliknya.”_

📚 *(lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad [1/490])*


Sebagian tabi’in mengatakan, _“Barangsiapa yang banyak dosanya hendaklah dia suka memberikan minum. Apabila dosa-dosa orang yang memberikan minum kepada seekor anjing bisa terampuni, maka bagaimana menurut kalian mengenai orang yang memberikan minum kepada seorang beriman lagi bertauhid sehingga hal itu membuatnya tetap bertahan hidup!”_ 

📚 *(lihat Syarh Shahih al-Adab al-Mufrad [1/500])*


Semoga Allah menanamkan jiwa kasih sayang ke dalam diri kita.


—


✍🏻 Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

┏🕋🌹●●━━━━━━━━━━━━━━━┓

             *AGAR TIDAK DENDAM*

┗━━━━━━━━━━━━━━━●●🕋🌹┛



👤 Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.


✍🏻🍒💐 Berikut adalah sejumlah kesadaran yang dapat kita hadirkan dalam hati kita saat seseorang telah berprilaku buruk kepada kita, agar tidak ada dendam yang berkembang dalam hati.


🌻 Ingatlah bahwa perbuatan orang itu kepada kita tidak keluar dari kehendak Allah. Allah menginginkannya itu terjadi dan ada hikmah dibalik itu.


🌹 Ingatlah dosa-dosa kita. Karena tidaklah keburukan menimpa kita melainkan karena sebab dosa-dosa kita. Sibuklah dengan tobat dan istighfar, dari pada sibuk mencela dan mencari-cari cara untuk membalasnya.


🌻 Ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. _“Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.”_ *(QS. Asy Syuuraa: 40)*


🌹 Ingatlah bahwa memaafkan dan berbuat baik akan membuat hati kita bersih dari keinginan-keinginan buruk, hasad dan dendam. Dengan itu hati akan merasakan kelezatan yang jauh lebih lezat dari kelezatan melampiaskan dendam.


🌻 Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. _“Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan”_ *(HR Muslim)*


🌹 Ingatlah bahwa balasan yang kita akan dapatkan sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Kita pun pasti pernah berbuat zalam dan dosa. Jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.


🌻 Ingatlah bahwa menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati menjadi tidak fokus. Sehingga banyak hal-hal bermanfaat kita lewatkan. Maka jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita.


🌹 Ingatlah bahwa Rasulullah tidak pernah sekali pun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?Ingatlah bahwa sabar adalah setengah dari keimanan. Jika kita bersabar, maka kita berarti sedang menjaga keimanan kita.


🌻 Ingatlah bahwa dengan bersabar berarti kita telah mengalahkan dan mengendalikan jiwa kita. Karena jiwa yang tidak dapat kita taklukan akan mengajak kita pada kebinasaan.


🌹 Ingatlah bahwa jika kita bersabar, maka Allah pasti akan menolong kita.


🌻 Ingatlah jika kita bersabar, maka itu akan menjadi sebab orang yang telah berbuat zalim kepada kita menyesal dengan tindakannya, malu dan bisa jadi malah mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. _“Balaslah keburukan itu dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusuhan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.”_ *(QS. Fushilat: 34)*


🌹 Ingatlah bisa jadi jika kita membalas perbuatan buruknya kepada kita, hal itu akan membuatnya semakin bertambah buruk.


🌻 Ingatlah bahwa orang yang biasa mendendam, ia pasti akan terjerumus pada kezaliman. Karena jiwa sulit untuk berbuat adil.


🌹 Ingatlah bahwa kesabaran itu akan menjadi penggugur dosa kita atau pengangkat derajat kita. Dan itu tidak akan kita dapatkan jika kita tidak bersabar dan melampiaskan dendam.


🌻 Ingatlah bahwa sabar dan tidak membalas adalah kebaikan yang akan melahirkan kebaikan yang lain, dan kebaikan itu akan melahirkan kebaikan lagi dan begitu seterusnya. Karena diantara balasan kebaikan itu adalah kebaikan berikutnya.


*_[Disarikan dari risalah “Qaa`idatun fish shabri” Karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah -rahimahullah-, “Jaami’ul Masaa`il” vol. 1, hal. 177-181]_*


✍🏻 Penulis: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

KAJIAN HARIAN

┏🕋🌹●●━━━━━━━━━━━━━━━┓

             *AGAR TIDAK DENDAM*

┗━━━━━━━━━━━━━━━●●🕋🌹┛



👤 Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc.


✍🏻🍒💐 Berikut adalah sejumlah kesadaran yang dapat kita hadirkan dalam hati kita saat seseorang telah berprilaku buruk kepada kita, agar tidak ada dendam yang berkembang dalam hati.


🌻 Ingatlah bahwa perbuatan orang itu kepada kita tidak keluar dari kehendak Allah. Allah menginginkannya itu terjadi dan ada hikmah dibalik itu.


🌹 Ingatlah dosa-dosa kita. Karena tidaklah keburukan menimpa kita melainkan karena sebab dosa-dosa kita. Sibuklah dengan tobat dan istighfar, dari pada sibuk mencela dan mencari-cari cara untuk membalasnya.


🌻 Ingatlah pahala yang sungguh besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. _“Barangsiapa yang memberi maaf dan melakukan kebaikan, maka pahalanya di sisi Allah.”_ *(QS. Asy Syuuraa: 40)*


🌹 Ingatlah bahwa memaafkan dan berbuat baik akan membuat hati kita bersih dari keinginan-keinginan buruk, hasad dan dendam. Dengan itu hati akan merasakan kelezatan yang jauh lebih lezat dari kelezatan melampiaskan dendam.


🌻 Ingatlah bahwa dendam akan membuat jiwa menjadi hina, sedangkan memaafkan akan membuat jiwa menjadi mulia. _“Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan”_ *(HR Muslim)*


🌹 Ingatlah bahwa balasan yang kita akan dapatkan sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan. Kita pun pasti pernah berbuat zalam dan dosa. Jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.


🌻 Ingatlah bahwa menyibukkan diri dengan dendam akan menghabiskan waktu dan membuat hati menjadi tidak fokus. Sehingga banyak hal-hal bermanfaat kita lewatkan. Maka jangan sampai musibah lebih besar menimpa kita.


🌹 Ingatlah bahwa Rasulullah tidak pernah sekali pun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?Ingatlah bahwa sabar adalah setengah dari keimanan. Jika kita bersabar, maka kita berarti sedang menjaga keimanan kita.


🌻 Ingatlah bahwa dengan bersabar berarti kita telah mengalahkan dan mengendalikan jiwa kita. Karena jiwa yang tidak dapat kita taklukan akan mengajak kita pada kebinasaan.


🌹 Ingatlah bahwa jika kita bersabar, maka Allah pasti akan menolong kita.


🌻 Ingatlah jika kita bersabar, maka itu akan menjadi sebab orang yang telah berbuat zalim kepada kita menyesal dengan tindakannya, malu dan bisa jadi malah mencintai kita, setelah sebelumnya membenci kita. _“Balaslah keburukan itu dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang tadinya antara kamu dan dia ada permusuhan, menjadi seolah-olah seperti teman yang dekat.”_ *(QS. Fushilat: 34)*


🌹 Ingatlah bisa jadi jika kita membalas perbuatan buruknya kepada kita, hal itu akan membuatnya semakin bertambah buruk.


🌻 Ingatlah bahwa orang yang biasa mendendam, ia pasti akan terjerumus pada kezaliman. Karena jiwa sulit untuk berbuat adil.


🌹 Ingatlah bahwa kesabaran itu akan menjadi penggugur dosa kita atau pengangkat derajat kita. Dan itu tidak akan kita dapatkan jika kita tidak bersabar dan melampiaskan dendam.


🌻 Ingatlah bahwa sabar dan tidak membalas adalah kebaikan yang akan melahirkan kebaikan yang lain, dan kebaikan itu akan melahirkan kebaikan lagi dan begitu seterusnya. Karena diantara balasan kebaikan itu adalah kebaikan berikutnya.


*_[Disarikan dari risalah “Qaa`idatun fish shabri” Karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah -rahimahullah-, “Jaami’ul Masaa`il” vol. 1, hal. 177-181]_*


✍🏻 Penulis: Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

*CALON-CALON "MUSUH ISLAM"...???*


    😔🕌🤓

_'Celaka kyai Cilaka!!!”_

  Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. 


 Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. 


 Kegelisahanku tiba-tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.


*“Cilaka apanya, Nak?”*

 Tanya Kyai Husain.


_“Pilgub, pilpres!”_

  Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. 

 

 Aku yakin Kyai Husain akan mengerti.


Kyai Husain terkekeh. 

 *“Ndak usah dipikir!”* 

Katanya, *“Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!”*


 Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.


_“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai._

  _Ini sudah genting!_

  _Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini._

  _Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”_


Kyai Husain mengangguk-angguk. 

 Wajahnya tampak prihatin. 

 *“Kamu sudah shalat?”* Tanyanya.


Aku menggelengkan kepala.


*“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.”*

  Kata Kyai Husain.


Pelan-pelan keresahanku ciut.

  Aku malu pada diriku sendiri.

  Betapa bebalnya imanku, aku berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.


Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. 

 Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan.

  Beliau sedang asyik dengan tembakaunya.


Selang sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.


*“Bagaimana shalatmu?”* 

 tanya Kyai Husain tiba-tiba.


Aku terkejut ditanya demikian.

  Bagaimana shalatku?


_“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.”_

 Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata-bata.


*“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?”*

  Kyai Husain bertanya lagi.


Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini.

  Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? 

 Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? 

 Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? 

 Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi?

  Aku tak mungkin mengatakan kepadanya bahwa aku tersinggung.

  Aku juga tak mungkin menjawab, _"Bukan urusan Anda, Kyai!"_

 Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung.


  Jika begitu, celakalah aku. 

 Bisa kualat aku.

  Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. 

 Dari _alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat_ dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.


_“Eh… anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.”_


 _Astagfirullah._

  Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?


Kyai Husain terkekeh. 

 Kemudian agak terbatuk. 

  *“Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya”*

 katanya.


 Lalu beliau menghisap tembakaunya. 

 *“Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin cagub- cagub, copras-capres atau tidak?”*

  sambung Kyai Husan yang kemudian tertawa lebar.


Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.


_“Iya, Kyai.”_

 Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi.

  Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan semacam kebencian.


Khawatir karena elektabilitas cagub/ capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. 


 Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? 


 Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.


*“Coba kamu ingat-ingat lagi,”* kata Kyai Husain,

  *“Cagub capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”*


_“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai!_ 

 _Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing!_

 _Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah!_

  _Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!”_

  Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.


Kyai Husain terkekeh.

 *“Shalatmu begitu berat,”*  katanya.


Aku kebingungan.


*“Shalatmu penuh beban,”*

 lanjut Kyai Husain.

 *“Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban!"*


_“Tapi, Kyai…”_

  Aku berusaha memotong Kyai Husain, 

_“Mohon maaf._ 

 _Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa._ 

 _Pemilihan Gubernur dan pilpres tak lama lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”_


*“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”*


_“Cagub dan capres anu!   Juga orang fasik di belakangnya!”_

  Jawabku dengan penuh semangat.


*“Bukankah dia juga seorang Muslim?”*

 Tanya Kyai Husain.


“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan!

 Keislaman palsu!”


*“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?”*

 Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. 

 Beliau masih menghisap tembakaunya.


_“Eh, Kyai.  Mohon maaf, Kyai.  Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.”_

 

Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. 

 Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman seseorang?


 Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?


*“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?”*

 Tanya Kyai Husain.


Aku makin gelagapan. 

 Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. 

 Hingga hampir kehabisan waktu. 

 Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. 

 Apa hakku mengatur-atur keislaman orang lain? 

 Bagaimana dengan keislamanku sendiri?


Aku tertunduk lesu.

 Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa.

  Aku hanya menggelengkan kepala.


Kyai Husain terkekeh.


*“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pilgub pilguban, pemilu-pemiluan,”*

 jawab Kyai Husain,


 *“Agama ini lebih besar dari sekadar cagub caguban, capres-capresan!”*

 Beliau tampak lebih serius.


Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.


*“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini.*

 *Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk dibanding-bandingkan.* 

 *Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final.* 

 *Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik?*


 *Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan dunia.*


 *Kamu mau membela ummat Islam?*


 *Tanyakan itu sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih?*


 *Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana cagub, capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan?,   dikelompok-kelompokkan?*

  *Agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai?* 

  *Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa?*


  *Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”*


*“Lalu soal mengharam-haramkan.   Soal bahwa memilih cagub capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka?.*


 *Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad SAW pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu!*


 *Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah?*


 *Kamu boleh senang atau tidak senang dengan cagub/capres tertentu atau siapapun saja, tetapi kamu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah-belah.*

  *Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara— kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”*


Aku hanya bisa menunduk. 

 Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.


_“Tapi Kyai…”_ 

 Aku berusaha memberi pembelaan,  

 _“Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”_


Kali ini Kyai Husain tampak marah. 

 

 *“Dengarkan aku!”* Katanya, 


 *“Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik!*

 *Mereka yang dalam luka, baru mengaku saudara!*

 *Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja, baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman!.”*


_“Tapi… tapi…”_

  Aku berusaha memotong Kyai Husain. 

 Tapi beliau tampak benar-benar geram dengan situasi ini.


*“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya*.


 *Gusti Allah tak perlu dibela.* 

 *Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon gubernur, calon presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan agama ini.*

 *Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama?*

  *Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya.*

*Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”*


Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku.

  Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon gubernur, calon presiden anu?

  Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. 

 Aku tak boleh menemuinya lagi.

  Ya, aku tak boleh menemuinya lagi.

  Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.


*“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir!.”*

  Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku.

 Lalu tertawa.


 *“Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu.  Kelak di surgamu yang kamu bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku.*

  *Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar.*

 *Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga?*

  *Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan?*

 *Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”*


Kyai Husain terkekeh.


Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan.

  Aku mulai ragu pada diriku sendiri.

  Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.


_“Maafkan saya, Kyai.”_ 

Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. 

 Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.


Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis. 


 *“Kau tak perlu meminta maaf padaku,”* katanya,

 *“Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon gubernur, calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci, tak akan menentukan apa-apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”*


Aku mengangguk-angguk setuju.


*“Perbaiki shalatmu!,”*

 kata Kyai Husain,

 *“Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”*


_“Tapi kita harus memilih, Kyai.”_


Kyai Husain mengangguk. 

*“Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”*


Aku mengangguk-angguk, _“Terima kasih, Kyai.”_


Magrib hampir tiba.

 Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah.

 Aku menyetujui ajakannya. 

  *“Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,”* 

  Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

  *“Tidak apa-apa,”* katanya, 

 *“Ini sedang masanya.*

  *Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri-sendiri.”*


Aku mengangguk. _“Saya akan memilih calon gubernur, calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”_


*“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.”* Kata Kyai Husain. 


 *“Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”*


Aku tersenyum. 

 Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. 

 Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. 

 Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya.


_“Kyai…”_ 

 tiba-tiba aku ingin memanggilnya.


Kyai Husain menoleh.


_“Siapa yang Kyai pilih?”_


*“Tak ada yang sempurna,”* Jawabnya. 


  “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. 

 Bahkan Muhammad Rosululloh SAW pun tak memiliki suara merdu seperti Nabi Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Nabi Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Nabi Ibrahim atau setangguh Nabi Musa. 

 *Aku akan memilih calon gubernur calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”*


Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.


_“Siapa orangnya, Kyai?”_


Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.


Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. 

 Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. 

 Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.


Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku.

  Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. 

 Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian.


Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. 

 Kepalanya mengangguk-angguk ritmis. 

 Aku belum tahu jawaban Kyai Husein tentang calon pilihannya..

   _Tapi aku mulai *ragu dengan pilihanku sendiri*._  □

*CALON-CALON "MUSUH ISLAM"...???*

*CALON-CALON "MUSUH ISLAM"...???*


    😔🕌🤓

_'Celaka kyai Cilaka!!!”_

  Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. 


 Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. 


 Kegelisahanku tiba-tiba membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.


*“Cilaka apanya, Nak?”*

 Tanya Kyai Husain.


_“Pilgub, pilpres!”_

  Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. 

 

 Aku yakin Kyai Husain akan mengerti.


Kyai Husain terkekeh. 

 *“Ndak usah dipikir!”* 

Katanya, *“Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!”*


 Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.


_“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai._

  _Ini sudah genting!_

  _Jika calon yang didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam di negeri ini._

  _Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”_


Kyai Husain mengangguk-angguk. 

 Wajahnya tampak prihatin. 

 *“Kamu sudah shalat?”* Tanyanya.


Aku menggelengkan kepala.


*“Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.”*

  Kata Kyai Husain.


Pelan-pelan keresahanku ciut.

  Aku malu pada diriku sendiri.

  Betapa bebalnya imanku, aku berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan kewajibanku.


Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. 

 Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan.

  Beliau sedang asyik dengan tembakaunya.


Selang sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.


*“Bagaimana shalatmu?”* 

 tanya Kyai Husain tiba-tiba.


Aku terkejut ditanya demikian.

  Bagaimana shalatku?


_“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.”_

 Aku menjawab pertanyaan itu dengan terbata-bata.


*“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?”*

  Kyai Husain bertanya lagi.


Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini.

  Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku? 

 Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? 

 Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? 

 Tapi, karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi?

  Aku tak mungkin mengatakan kepadanya bahwa aku tersinggung.

  Aku juga tak mungkin menjawab, _"Bukan urusan Anda, Kyai!"_

 Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung.


  Jika begitu, celakalah aku. 

 Bisa kualat aku.

  Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. 

 Dari _alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat_ dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.


_“Eh… anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.”_


 _Astagfirullah._

  Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?


Kyai Husain terkekeh. 

 Kemudian agak terbatuk. 

  *“Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya”*

 katanya.


 Lalu beliau menghisap tembakaunya. 

 *“Tapi, dalam shalatmu, kamu mikirin cagub- cagub, copras-capres atau tidak?”*

  sambung Kyai Husan yang kemudian tertawa lebar.


Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.


_“Iya, Kyai.”_

 Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi.

  Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-kekhawatiran dan semacam kebencian.


Khawatir karena elektabilitas cagub/ capres yang kubenci, yang begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. 


 Maunya apa sih ummat Islam Indonesia ini? 


 Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.


*“Coba kamu ingat-ingat lagi,”* kata Kyai Husain,

  *“Cagub capres mana yang paling membuatmu gelisah dalam shalat?”*


_“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai!_ 

 _Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing!_

 _Jelas dia yang tidak pro kebijakan syariah!_

  _Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!”_

  Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.


Kyai Husain terkekeh.

 *“Shalatmu begitu berat,”*  katanya.


Aku kebingungan.


*“Shalatmu penuh beban,”*

 lanjut Kyai Husain.

 *“Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban!"*


_“Tapi, Kyai…”_

  Aku berusaha memotong Kyai Husain, 

_“Mohon maaf._ 

 _Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa._ 

 _Pemilihan Gubernur dan pilpres tak lama lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”_


*“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”*


_“Cagub dan capres anu!   Juga orang fasik di belakangnya!”_

  Jawabku dengan penuh semangat.


*“Bukankah dia juga seorang Muslim?”*

 Tanya Kyai Husain.


“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan!

 Keislaman palsu!”


*“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?”*

 Dengan tenang Kyai Husain mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. 

 Beliau masih menghisap tembakaunya.


_“Eh, Kyai.  Mohon maaf, Kyai.  Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.”_

 

Tiba-tiba aku merasa malu pada diriku sendiri. 

 Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman seseorang?


 Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu, pencitraan dan harus diragukan?


*“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?”*

 Tanya Kyai Husain.


Aku makin gelagapan. 

 Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. 

 Hingga hampir kehabisan waktu. 

 Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. 

 Apa hakku mengatur-atur keislaman orang lain? 

 Bagaimana dengan keislamanku sendiri?


Aku tertunduk lesu.

 Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa.

  Aku hanya menggelengkan kepala.


Kyai Husain terkekeh.


*“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pilgub pilguban, pemilu-pemiluan,”*

 jawab Kyai Husain,


 *“Agama ini lebih besar dari sekadar cagub caguban, capres-capresan!”*

 Beliau tampak lebih serius.


Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.


*“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini.*

 *Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk dibanding-bandingkan.* 

 *Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah final.* 

 *Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik?*


 *Kamu tak lebih dari mereka yang memperjualbelikan agama untuk urusan dunia.*


 *Kamu mau membela ummat Islam?*


 *Tanyakan itu sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi pemilih?*


 *Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana cagub, capres Islam dan bukan Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan?,   dikelompok-kelompokkan?*

  *Agar syahwat kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai?* 

  *Kamu ini sedang membela Islam, atau siapa?*


  *Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”*


*“Lalu soal mengharam-haramkan.   Soal bahwa memilih cagub capres tertentu diancam berdosa dan bahkan masuk neraka?.*


 *Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah Muhammad SAW pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu!*


 *Apakah kamu sudah merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah?*


 *Kamu boleh senang atau tidak senang dengan cagub/capres tertentu atau siapapun saja, tetapi kamu tidak boleh senang melihat ummat Islam terpecah belah, dipecah-belah.*

  *Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang suara— kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”*


Aku hanya bisa menunduk. 

 Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.


_“Tapi Kyai…”_ 

 Aku berusaha memberi pembelaan,  

 _“Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”_


Kali ini Kyai Husain tampak marah. 

 

 *“Dengarkan aku!”* Katanya, 


 *“Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik!*

 *Mereka yang dalam luka, baru mengaku saudara!*

 *Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja, baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan merasa bahwa dirinya paling beriman!.”*


_“Tapi… tapi…”_

  Aku berusaha memotong Kyai Husain. 

 Tapi beliau tampak benar-benar geram dengan situasi ini.


*“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya*.


 *Gusti Allah tak perlu dibela.* 

 *Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon gubernur, calon presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan agama ini.*

 *Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama?*

  *Kecuali kualitas imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya.*

*Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”*


Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda denganku.

  Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon gubernur, calon presiden anu?

  Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. 

 Aku tak boleh menemuinya lagi.

  Ya, aku tak boleh menemuinya lagi.

  Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.


*“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir!.”*

  Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca pikiranku.

 Lalu tertawa.


 *“Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu.  Kelak di surgamu yang kamu bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku.*

  *Surgamu mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar.*

 *Mungkin perlu juga kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga?*

  *Sebab kebenaran hanya benar menurut dirimu sendiri, bukan?*

 *Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”*


Kyai Husain terkekeh.


Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan.

  Aku mulai ragu pada diriku sendiri.

  Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.


_“Maafkan saya, Kyai.”_ 

Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. 

 Akal sehat dan nuraniku memerintahkannya.


Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir habis. 


 *“Kau tak perlu meminta maaf padaku,”* katanya,

 *“Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa calon gubernur, calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci, tak akan menentukan apa-apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri dengan Gusti Allah.”*


Aku mengangguk-angguk setuju.


*“Perbaiki shalatmu!,”*

 kata Kyai Husain,

 *“Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti pesta demokrasi lima tahunan ini.”*


_“Tapi kita harus memilih, Kyai.”_


Kyai Husain mengangguk. 

*“Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal dan hati nuranimu.”*


Aku mengangguk-angguk, _“Terima kasih, Kyai.”_


Magrib hampir tiba.

 Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah.

 Aku menyetujui ajakannya. 

  *“Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,”* 

  Kyai Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.

  *“Tidak apa-apa,”* katanya, 

 *“Ini sedang masanya.*

  *Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk menyelesaikannya sendiri-sendiri.”*


Aku mengangguk. _“Saya akan memilih calon gubernur, calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”_


*“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.”* Kata Kyai Husain. 


 *“Alasan itu saja yang kau jadikan pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”*


Aku tersenyum. 

 Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain tentang pendapatku. 

 Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari belakang. 

 Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban yang tak lepas dari kepalanya.


_“Kyai…”_ 

 tiba-tiba aku ingin memanggilnya.


Kyai Husain menoleh.


_“Siapa yang Kyai pilih?”_


*“Tak ada yang sempurna,”* Jawabnya. 


  “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. 

 Bahkan Muhammad Rosululloh SAW pun tak memiliki suara merdu seperti Nabi Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti yang dimiliki Nabi Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Nabi Ibrahim atau setangguh Nabi Musa. 

 *Aku akan memilih calon gubernur calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”*


Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.


_“Siapa orangnya, Kyai?”_


Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.


Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. 

 Sepanjang shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam. 

 Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.


Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku.

  Tetapi dalam shalat berjamaah, semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. 

 Aku mulai sadar, kebaikan yang paripurna tak bisa dicapai sendirian.


Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. 

 Kepalanya mengangguk-angguk ritmis. 

 Aku belum tahu jawaban Kyai Husein tentang calon pilihannya..

   _Tapi aku mulai *ragu dengan pilihanku sendiri*._  □

📝🍒﷽            *Gɾσυρ Kαʝιαɳ*

                                *Sҽρυtαɾ Iʂʅαm*

✏ *______*


*_Fatwa Ulama:_* *Jika Ibu Berdoa Kejelekan Terhadap Anaknya Yang Masih Kecil*


👤 _Yulian Purnama_


*_Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah_*


📬 *Pertanyaan :*


📗🍂🌾 Terkadang saya (seorang ibu) berdoa kejelekan terhadap anak saya yang masih kecil, biasanya karena dia membuat kericuhan di dalam rumah. Apakah seorang ibu itu benar mustajab? Perlu diketahui biasanya saya segera sesali doa saya tersebut.


🗣 *Jawaban :*


📚🔎 Bisa jadi doa itu di-ijabah (dikabulkan). Oleh karena itu hendaknya anda berhati-hati. Janganlah mendoakan anak anda kecuali isinya kebaikan. Jangan sampai anda mendoakan keburukan pada mereka. Latih dengan sungguh-sungguh jiwa anda untuk senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka, bukan keburukan. Sampaikanlah hal-hal yang baik. Ini semua memang butuh latihan kesabaran dan kesungguhan jiwa sampai benar-benar bisa senantiasa mendoakan kebaikan bukan keburukan.


🔎 Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/9459


—


📚 Penerjemah: Yulian Purnama


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

Kajian Harian

📝🍒﷽            *Gɾσυρ Kαʝιαɳ*

                                *Sҽρυtαɾ Iʂʅαm*

✏ *______*


*_Fatwa Ulama:_* *Jika Ibu Berdoa Kejelekan Terhadap Anaknya Yang Masih Kecil*


👤 _Yulian Purnama_


*_Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah_*


📬 *Pertanyaan :*


📗🍂🌾 Terkadang saya (seorang ibu) berdoa kejelekan terhadap anak saya yang masih kecil, biasanya karena dia membuat kericuhan di dalam rumah. Apakah seorang ibu itu benar mustajab? Perlu diketahui biasanya saya segera sesali doa saya tersebut.


🗣 *Jawaban :*


📚🔎 Bisa jadi doa itu di-ijabah (dikabulkan). Oleh karena itu hendaknya anda berhati-hati. Janganlah mendoakan anak anda kecuali isinya kebaikan. Jangan sampai anda mendoakan keburukan pada mereka. Latih dengan sungguh-sungguh jiwa anda untuk senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka, bukan keburukan. Sampaikanlah hal-hal yang baik. Ini semua memang butuh latihan kesabaran dan kesungguhan jiwa sampai benar-benar bisa senantiasa mendoakan kebaikan bukan keburukan.


🔎 Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/9459


—


📚 Penerjemah: Yulian Purnama


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

📝🍒﷽            *Gɾσυρ Kαʝιαɳ*

                                *Sҽρυtαɾ Iʂʅαm*

✏ *______*


*Fatwa Ulama:* _Bagaimana Agar Terbebas dari Was-Was?_


👤 Yulian Purnama


_Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah_


📬 *Pertanyaan :*


💐🌻📗 Saya adalah seorang lelaki yang sering was-was dalam berbagai keadaan. Ketika saya mau pergi melewati suatu jalan, rasa was-was menentang keinginan saya dan menyuruh untuk menempuh jalan lain. Ketika saya mau makan suatu makanan, setan membuat saya was-was bahwa makanan itu tidak baik atau makanan itu berbahaya. Sedangkan saya juga orang yang takut bernadzar, karena ragu bisa menunaikannya atau tidak. Tolong beri saya arahan.


🗣 *Jawaban :*


Was-was itu dari setan. Sebagaimana Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman:


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ


_“Katakanlah, aku berlindung kepada Rabb-nya manusia. Yang Merajai manusia. Sesembahan yang haq bagi manusia. Dari kejelekan penyakit was-was yang dihembuskan oleh al khannas“_


al khannas maksudnya setan. Oleh karena itu saudaraku, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan dan waspadalah dari tipu dayanya. Lalu bulatkan tekad dalam melakukan sesuatu.


Jika Anda ingin melewati suatu jalan maka bulatkan tekad lalu jalani, kecuali Anda benar-benar yakin ada hal yang membahayakan di sana maka tinggalkan. Demikian juga dalam makan, jika Anda tidak tahu bahwa di dalamnya terdapat hal yang haram, maka makan saja dan buang rasa was-was. Demikian juga dalam wudhu, jika Anda wudhu makan bulatkan keyakinan dan buang rasa was-was. Katakanlah pada diri Anda, _“Apa yang sudah kuselesaikan itulah yang kulakukan”,_ selama Anda memandang bahwa Anda telah menyempurnakan wudhu anda, walhamdulillah. Demikian juga dalam shalat. Intinya buanglah rasa was-was dari segala sesuatu dan ketahuilah bahwa was-was itu dari setan.


Jika was-was muncul dalam diri anda, mintalah perlindungan dari Allah dari setan dan jalani terus apa yang sedang anda lakukan. Dan bulatkanlah tekad sampai si setan itu terpojok, sampai tidak ada celah baginya untuk mempengaruhi anda sebenarnya yang disebabkan sikap lembek anda padanya. Mari kita sama-sama memohon perlindungan dari kejelekan setan dan tipu dayanya. Semoga Allah memberkahi Anda.


🔎 Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/17056


*Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz adalah mufti kerajaan Saudi Arabia di masa silam, sekaligus menjadi ketua Al Lajnah Ad Daimah (Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)


—


📚 Penerjemah: Yulian Purnama


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

KAJIAN HARIAN

📝🍒﷽            *Gɾσυρ Kαʝιαɳ*

                                *Sҽρυtαɾ Iʂʅαm*

✏ *______*


*Fatwa Ulama:* _Bagaimana Agar Terbebas dari Was-Was?_


👤 Yulian Purnama


_Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah_


📬 *Pertanyaan :*


💐🌻📗 Saya adalah seorang lelaki yang sering was-was dalam berbagai keadaan. Ketika saya mau pergi melewati suatu jalan, rasa was-was menentang keinginan saya dan menyuruh untuk menempuh jalan lain. Ketika saya mau makan suatu makanan, setan membuat saya was-was bahwa makanan itu tidak baik atau makanan itu berbahaya. Sedangkan saya juga orang yang takut bernadzar, karena ragu bisa menunaikannya atau tidak. Tolong beri saya arahan.


🗣 *Jawaban :*


Was-was itu dari setan. Sebagaimana Allah Jalla Wa ‘Alaa berfirman:


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَهِ النَّاسِ * مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ


_“Katakanlah, aku berlindung kepada Rabb-nya manusia. Yang Merajai manusia. Sesembahan yang haq bagi manusia. Dari kejelekan penyakit was-was yang dihembuskan oleh al khannas“_


al khannas maksudnya setan. Oleh karena itu saudaraku, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan dan waspadalah dari tipu dayanya. Lalu bulatkan tekad dalam melakukan sesuatu.


Jika Anda ingin melewati suatu jalan maka bulatkan tekad lalu jalani, kecuali Anda benar-benar yakin ada hal yang membahayakan di sana maka tinggalkan. Demikian juga dalam makan, jika Anda tidak tahu bahwa di dalamnya terdapat hal yang haram, maka makan saja dan buang rasa was-was. Demikian juga dalam wudhu, jika Anda wudhu makan bulatkan keyakinan dan buang rasa was-was. Katakanlah pada diri Anda, _“Apa yang sudah kuselesaikan itulah yang kulakukan”,_ selama Anda memandang bahwa Anda telah menyempurnakan wudhu anda, walhamdulillah. Demikian juga dalam shalat. Intinya buanglah rasa was-was dari segala sesuatu dan ketahuilah bahwa was-was itu dari setan.


Jika was-was muncul dalam diri anda, mintalah perlindungan dari Allah dari setan dan jalani terus apa yang sedang anda lakukan. Dan bulatkanlah tekad sampai si setan itu terpojok, sampai tidak ada celah baginya untuk mempengaruhi anda sebenarnya yang disebabkan sikap lembek anda padanya. Mari kita sama-sama memohon perlindungan dari kejelekan setan dan tipu dayanya. Semoga Allah memberkahi Anda.


🔎 Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/17056


*Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz adalah mufti kerajaan Saudi Arabia di masa silam, sekaligus menjadi ketua Al Lajnah Ad Daimah (Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)


—


📚 Penerjemah: Yulian Purnama


📄 Artikel Muslim.Or.Id


*•════ 🌎 ═══ S I ═══ 🌎 ════•*

🇲🇨🇵🇸       ⓑⓐⓡⓐⓚⓐⓛⓛⓐⓗ

💐       🌹➖➖➖➖➖➖➖

📮 *Published by :*

*Grup Kajian SEPUTAR ISLAM _( Grup Dakwah Inspirasi Dan Motivasi )_*


✍🏻 Semangat *Berdakwah* Karena *Allah*, Jadikan hidupmu Lebih *Bermanfaat* bagi *Orang Lain*. 

▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

https://chat.whatsapp.com/86DCRetG4ERIwXRohuxAVC

*9 WASIAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM*


Dari Abud Darda' radhiallahu'anhu ia berkata,


أَوْصَانِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتِسْعٍ: "لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِّعْتَ أَوْ حُرِّقْتَ، وَلَا تَتْرُكَنَّ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ مُتَعَمِّدًا؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلَا تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دنياك؛ فاخرج لهما، ولاتُنَازِعَنَّ وُلَاةَ الْأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلَا تفرِر مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابُكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَولك عَلَى أَهْلِكَ، وَلَا تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخِفْهُمْ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan aku sembilan perkara : 


[1] Janganlah engkau berbuat syirik terhadap Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. 


[2] Jangan sekali-kali engkau meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, maka Allah berlepas diri darinya. 


[3] Jangan engkau minum khamr, karena khamr adalah kunci segala kejelekan.


[4] Taatilah kedua orang tuamu. Bahkan apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh hartamu, maka serahkanlah kepada keduanya. 


[5] Janganlah memberontak pada ulil amri, walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. 


[6] Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. 


[7] Nafkahkanlah keluargamu dari sebagian harta yang engkau miliki. 


[8] Jangan angkat tongkatmu dari keluargamu (jangan biarkan keluargamu melakukan hal yang dilarang agama)


[9] Ajarkanlah keluargamu untuk takut kepada Allah 'azza wa jalla" (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.8, dihasankan oleh Al Albani)


✍🏻Ustadz Yulian Purnama

9 WASIAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM

*9 WASIAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM*


Dari Abud Darda' radhiallahu'anhu ia berkata,


أَوْصَانِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتِسْعٍ: "لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِّعْتَ أَوْ حُرِّقْتَ، وَلَا تَتْرُكَنَّ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ مُتَعَمِّدًا؛ وَمَنْ تَرَكَهَا مُتَعَمِّدًا بَرِئَتْ مِنْهُ الذِّمَّةُ ، وَلَا تَشْرَبَنَّ الْخَمْرَ؛ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دنياك؛ فاخرج لهما، ولاتُنَازِعَنَّ وُلَاةَ الْأَمْرِ، وَإِنْ رَأَيْتَ أَنَّكَ أَنْتَ ، وَلَا تفرِر مِنَ الزَّحْفِ؛ وَإِنْ هَلَكْتَ وَفَرَّ أَصْحَابُكَ، وَأَنْفِقْ مِنْ طَولك عَلَى أَهْلِكَ، وَلَا تَرْفَعْ عَصَاكَ عَنْ أَهْلِكَ، وَأَخِفْهُمْ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan aku sembilan perkara : 


[1] Janganlah engkau berbuat syirik terhadap Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. 


[2] Jangan sekali-kali engkau meninggalkan shalat wajib dengan sengaja, barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, maka Allah berlepas diri darinya. 


[3] Jangan engkau minum khamr, karena khamr adalah kunci segala kejelekan.


[4] Taatilah kedua orang tuamu. Bahkan apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh hartamu, maka serahkanlah kepada keduanya. 


[5] Janganlah memberontak pada ulil amri, walaupun engkau tahu bahwa engkaulah yang benar. 


[6] Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. 


[7] Nafkahkanlah keluargamu dari sebagian harta yang engkau miliki. 


[8] Jangan angkat tongkatmu dari keluargamu (jangan biarkan keluargamu melakukan hal yang dilarang agama)


[9] Ajarkanlah keluargamu untuk takut kepada Allah 'azza wa jalla" (HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no.8, dihasankan oleh Al Albani)


✍🏻Ustadz Yulian Purnama

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Kalender 2019

Kalender 2019
Perfect World Online Spear Thingy

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER SMKN 2 TEBING TINGGI.AYO SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENGAJI, DIJAMIN LANGSUNG LANCAR MEMBACA AL QUR'AN AYO BACA CERITA MENARIK HANYA DI BLOG INI SETIAP HARI KAMIS DAN SABTU PUKUL 19.00 WIB .
Islam Ornamental Art 2
SELAMAT DATANG DI BLOG MUSLIM CENTER. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT UNTUK ANDA DAN DAPATKAN SELURUH INFORMASI DISINI
AYO LIKE AND SUBSCRIBE DAKWAH STOP MOTION,TAQWA MEDIA DAN MUSLIM CENTER SMK 2 DI YOUTUBE KESAYANGAN ANDA.

back to top