SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER. KAMI AKAN MENYEDIAKAN BERITA DAN KONTEN ISLAMI TERUPDATE SETIAP MINGGUNYA
Post Yang Belum Di Upload

Peristiwa dan Amalan-Amalan di Bulan Sya’ban

Peristiwa dan Amalan-Amalan di Bulan Sya’ban


Bulan Sya’ban termasuk salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam. Banyak  riwayat menggambarkan kemuliaan-kemuliaan Bulan Sya’ban.
  1. Perubahan Arah Kiblat
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa peristiwa perubahan arah kiblat terjadi pada Bulan Sya`ban tepatnya pada tanggal ketiga belasnya. Abu Hatim Al-Bustiy berkata, kaum muslimin melaksanakan salat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih tiga hari, kemudian Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan Nabi untuk salat menghadap ke Ka`bah pada hari ketiga belas pertengahan Bulan Sya`ban
  1. Bulan Diangkatnya Amal Perbuatan Seorang Hamba
Imam Nasa`i meriwayatkan bahwa Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, mengapa aku melihat engkau berpuasa pada bulan Sya`ban tidak seperti yang engkau lakukan ketika berpuasa pada bulan-bulan yang lain?’ kemudian Rasul menjawab, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyadarinya yaitu bulan yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan, pada bulan itulah amal-amal dihaturkan dan dilaporkan kepada Tuhan alam semesta. Oleh karenanya, aku ingin agar ketika amalku dipersembahkan kepada-Nya aku sedang berpuasa.”
Dari riwayat tersebut, terdapat kandungan hikmah dan petunjuk kepada kita bahwa bulan Sya`ban adalah saatnya amal kita dilaporkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Secara psikologis ketika amal itu dilaporkan sementara kita dalam keadaan berpuasa, akan member pengaruh positif terhadap hasil laporan tersebut, atau bisa jadi semua amal kita akan dihitung sebagai amal baik. Karenanya, puasa di bulan ini sebagaimana anjuran pada riwayat di atas memiliki nilai psikologis yang tinggi, selain tentunya kita mengamalkan salah satu sunnah Nabi Muhamad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Adapun riwayat lain yang menerangkan bahwa amal seseorang dilaporkan pada setiap hari Senin dan Kamis, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud setoran setiap Senin dan Kamis adalah setoran khusus untuk menguji kualitas amal serta kelengkapan syarat dan rukunnya.
Sedangkan maksud sabda Nabi, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyadarinya,” adalah secara umum banyak umat yang memberikan perhatian lebih kepada bulan Rajab dengan segala kemuliaannya. Ketika bulan itu telah berlalu dan memasuki bulan Sya`ban, mereka menganggap tidak mendapatkan lagi kesempatan yang istimewa sehingga melalaikan ibadahnya karena bosan atau putus asa. Inilah yang diingatkan oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar kita tidak terlena dan kendor semangat dalam menyambut dan mengisi bulan Sya`ban, karena bulan ini tidak kalah istimewanya dengan bulan sebelumnya.
Sedangkan riwayat tentang setoran amal pada setiap hari adalah amal-amal kita disetorkan tanpa dipilih dan diukur kualitasnya, dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
  1. Melaksanakan Puasa Sunnah Bulan Sya`ban
Sayidah Aisyah ra. berkata, “Tidak pernah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa pada suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya`ban, karena pada bulan tersebut beliau berpuasa sebulan penuh. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Lakukanlah kebajikan sekuat yang kausanggupi, karena Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
Maksud sabda Nabi, “Sekuat yang kausanggupi,” adalah dalam melakukan ibadah hendaknya dilakukan dengan penuh semangat, motivasi tinggi, dan harapan kepada Allah, karena yang demikian akan menghilangkan kebosanan, kejemuan, dan keputusasaan. Semua sifat-sifat negatif itu jika menyertai ibadah seseorang akan menjadi benalu yang merusak pahalanya.
Berikutnya, maksud sabda Nabi, “karena Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri,” adalah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan lelah atau menghentikan dalam memberi pahala bagi hamba-Nya yang beribadah. Allah juga akan selalu melipatgandakan pahala, selama hamba-Nya tekun dan semangat beribadah. Sebaliknya, ketika kita dihinggapi rasa bosan, malas, dan putus asa dalam beribadah, maka Allah pun akan mengurangi atau bahkan menghentikan pahala-Nya. Karena, mereka telah menghilangkan kesinambungan dalam beribadah.
  1. Bulan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
Disebut demikian karena menurut sebagaian ulama, salah satunya, Imam Al-Qusthulani dalam kitab Al-Mawaahib Al-Ladunniyyah bahwa ayat yang berisi perintah kepada kaum beriman untuk membaca salawat, turun di Bulan Sya`ban. Karenanya, bulan Sya`ban dinamai pula dengan Syahrus Sholawaat (bulan bersholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam)
  1. Bulannya Al-Qur`an
Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al-Ma`aarif menyebut sebuah riwayat tentang apa yang dilakukan para salaf di bulan Sya`ban yang diantaranya adalah menekuni Al-Quran. Dia mengatakan, “Jika bulan Sya`ban telah tiba, umat Islam menekuni lembaran-lembaran Al-Qura`an, mereka membaca Al-Qur`an, dan sekaligus mengeluarkan zakat hartanya untuk memberi kekuatan kepada orang yang lemah dan miskin dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.”
Salamah bin Kuhail dan Hubaib bin Tsabit mengatakan dengan ungkapan yang senada bahwa, “Bulan Sya`ban adalah bulan orang-orang membaca Al-Qur`an. Adapun `Amr bin Qais jika ia memasuki Bulan Sya`ban, menutup tokonya dan fokus untuk membaca Al-Qur`an
  1. Memperbanyak Membaca Kalimat Tauhid dan Istighfar
Bulan Sya`ban merupakan waktu yang mulia dan dimuliakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Sudah sepatutnya jika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang senafas dengan kemulian bulan tersebut. Beberapa amalan berupa bacaan selain membaca salawat adalah memperbanyak membaca kalimat tauhid “Laa ilaaha Illallaah” dan membaca istighfar.
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Bakar ra dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallamyang berkata, “Hendaklah kalian membaca ‘Laa ilaaha Illallaah’ dan beristighfar (memohon ampun), sebab Iblis telah berkata, ‘Aku binasakan manusia dengan dosa-dosa namun mereka membinasakanku dengan Laa ilaaha Illallaah dan istighfar. Maka ketika aku melihat hal tersebut, aku binasakan mereka dengan bujukan dan godaan dan mereka mengira bahwa mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Ya`la)
  1. Menghidupkan Malam Pertengahan Bulan Sya`Ban dengan Kebaikan
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallambersabda, “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah malam Nishfu Sya`ban, dimana Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari neraka pada malam ini sebanyak bulu domba Bani Kilab, kecuali bagi orang musyrik, bercekcok, pemutus silaturrahim, anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan peminum minuman keras.”
Riwayat di atas memberi gambaran kemuliaan malam Nishfu Sya`ban yaitu malam pertengahan Bulan Sya`ban. Pada malam itu, rahmat Allah Subhanahu Wata’ala ditebarkan di atas bumi bagi manusia yang saat itu beribadah, bermunajat, dan bertafakkur kepada Sang Pencipta. Bagi hamba yang memohon ampun dari dosa-dosanya sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan, tak terhingga, maka ia akan diampuni semuanya, kecuali dosa-dosa yang disebutkan dalam riwayat tersebut. Wallahu A’lam bis Showaab.*/ Ali Akbar bin Aqil. Diambil dari Maadzaa fi Sya`baan karya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
SUMBER:https://www.hidayatullah.com

Peristiwa dan Amalan-Amalan di Bulan Sya’ban

Peristiwa dan Amalan-Amalan di Bulan Sya’ban

Peristiwa dan Amalan-Amalan di Bulan Sya’ban


Bulan Sya’ban termasuk salah satu bulan yang diagungkan dalam Islam. Banyak  riwayat menggambarkan kemuliaan-kemuliaan Bulan Sya’ban.
  1. Perubahan Arah Kiblat
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa peristiwa perubahan arah kiblat terjadi pada Bulan Sya`ban tepatnya pada tanggal ketiga belasnya. Abu Hatim Al-Bustiy berkata, kaum muslimin melaksanakan salat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih tiga hari, kemudian Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan Nabi untuk salat menghadap ke Ka`bah pada hari ketiga belas pertengahan Bulan Sya`ban
  1. Bulan Diangkatnya Amal Perbuatan Seorang Hamba
Imam Nasa`i meriwayatkan bahwa Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, mengapa aku melihat engkau berpuasa pada bulan Sya`ban tidak seperti yang engkau lakukan ketika berpuasa pada bulan-bulan yang lain?’ kemudian Rasul menjawab, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyadarinya yaitu bulan yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan, pada bulan itulah amal-amal dihaturkan dan dilaporkan kepada Tuhan alam semesta. Oleh karenanya, aku ingin agar ketika amalku dipersembahkan kepada-Nya aku sedang berpuasa.”
Dari riwayat tersebut, terdapat kandungan hikmah dan petunjuk kepada kita bahwa bulan Sya`ban adalah saatnya amal kita dilaporkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Secara psikologis ketika amal itu dilaporkan sementara kita dalam keadaan berpuasa, akan member pengaruh positif terhadap hasil laporan tersebut, atau bisa jadi semua amal kita akan dihitung sebagai amal baik. Karenanya, puasa di bulan ini sebagaimana anjuran pada riwayat di atas memiliki nilai psikologis yang tinggi, selain tentunya kita mengamalkan salah satu sunnah Nabi Muhamad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Adapun riwayat lain yang menerangkan bahwa amal seseorang dilaporkan pada setiap hari Senin dan Kamis, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud setoran setiap Senin dan Kamis adalah setoran khusus untuk menguji kualitas amal serta kelengkapan syarat dan rukunnya.
Sedangkan maksud sabda Nabi, “Pada bulan inilah, orang-orang banyak tidak menyadarinya,” adalah secara umum banyak umat yang memberikan perhatian lebih kepada bulan Rajab dengan segala kemuliaannya. Ketika bulan itu telah berlalu dan memasuki bulan Sya`ban, mereka menganggap tidak mendapatkan lagi kesempatan yang istimewa sehingga melalaikan ibadahnya karena bosan atau putus asa. Inilah yang diingatkan oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar kita tidak terlena dan kendor semangat dalam menyambut dan mengisi bulan Sya`ban, karena bulan ini tidak kalah istimewanya dengan bulan sebelumnya.
Sedangkan riwayat tentang setoran amal pada setiap hari adalah amal-amal kita disetorkan tanpa dipilih dan diukur kualitasnya, dan Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.
  1. Melaksanakan Puasa Sunnah Bulan Sya`ban
Sayidah Aisyah ra. berkata, “Tidak pernah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa pada suatu bulan lebih banyak dari bulan Sya`ban, karena pada bulan tersebut beliau berpuasa sebulan penuh. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Lakukanlah kebajikan sekuat yang kausanggupi, karena Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim).
Maksud sabda Nabi, “Sekuat yang kausanggupi,” adalah dalam melakukan ibadah hendaknya dilakukan dengan penuh semangat, motivasi tinggi, dan harapan kepada Allah, karena yang demikian akan menghilangkan kebosanan, kejemuan, dan keputusasaan. Semua sifat-sifat negatif itu jika menyertai ibadah seseorang akan menjadi benalu yang merusak pahalanya.
Berikutnya, maksud sabda Nabi, “karena Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan sendiri,” adalah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak akan lelah atau menghentikan dalam memberi pahala bagi hamba-Nya yang beribadah. Allah juga akan selalu melipatgandakan pahala, selama hamba-Nya tekun dan semangat beribadah. Sebaliknya, ketika kita dihinggapi rasa bosan, malas, dan putus asa dalam beribadah, maka Allah pun akan mengurangi atau bahkan menghentikan pahala-Nya. Karena, mereka telah menghilangkan kesinambungan dalam beribadah.
  1. Bulan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
Disebut demikian karena menurut sebagaian ulama, salah satunya, Imam Al-Qusthulani dalam kitab Al-Mawaahib Al-Ladunniyyah bahwa ayat yang berisi perintah kepada kaum beriman untuk membaca salawat, turun di Bulan Sya`ban. Karenanya, bulan Sya`ban dinamai pula dengan Syahrus Sholawaat (bulan bersholawat kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam)
  1. Bulannya Al-Qur`an
Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathoif Al-Ma`aarif menyebut sebuah riwayat tentang apa yang dilakukan para salaf di bulan Sya`ban yang diantaranya adalah menekuni Al-Quran. Dia mengatakan, “Jika bulan Sya`ban telah tiba, umat Islam menekuni lembaran-lembaran Al-Qura`an, mereka membaca Al-Qur`an, dan sekaligus mengeluarkan zakat hartanya untuk memberi kekuatan kepada orang yang lemah dan miskin dalam menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.”
Salamah bin Kuhail dan Hubaib bin Tsabit mengatakan dengan ungkapan yang senada bahwa, “Bulan Sya`ban adalah bulan orang-orang membaca Al-Qur`an. Adapun `Amr bin Qais jika ia memasuki Bulan Sya`ban, menutup tokonya dan fokus untuk membaca Al-Qur`an
  1. Memperbanyak Membaca Kalimat Tauhid dan Istighfar
Bulan Sya`ban merupakan waktu yang mulia dan dimuliakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Sudah sepatutnya jika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang senafas dengan kemulian bulan tersebut. Beberapa amalan berupa bacaan selain membaca salawat adalah memperbanyak membaca kalimat tauhid “Laa ilaaha Illallaah” dan membaca istighfar.
Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Abu Bakar ra dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallamyang berkata, “Hendaklah kalian membaca ‘Laa ilaaha Illallaah’ dan beristighfar (memohon ampun), sebab Iblis telah berkata, ‘Aku binasakan manusia dengan dosa-dosa namun mereka membinasakanku dengan Laa ilaaha Illallaah dan istighfar. Maka ketika aku melihat hal tersebut, aku binasakan mereka dengan bujukan dan godaan dan mereka mengira bahwa mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Ya`la)
  1. Menghidupkan Malam Pertengahan Bulan Sya`Ban dengan Kebaikan
Imam Baihaqi meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallambersabda, “Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah malam Nishfu Sya`ban, dimana Allah memerdekakan hamba-hambaNya dari neraka pada malam ini sebanyak bulu domba Bani Kilab, kecuali bagi orang musyrik, bercekcok, pemutus silaturrahim, anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan peminum minuman keras.”
Riwayat di atas memberi gambaran kemuliaan malam Nishfu Sya`ban yaitu malam pertengahan Bulan Sya`ban. Pada malam itu, rahmat Allah Subhanahu Wata’ala ditebarkan di atas bumi bagi manusia yang saat itu beribadah, bermunajat, dan bertafakkur kepada Sang Pencipta. Bagi hamba yang memohon ampun dari dosa-dosanya sekalipun dosanya sebanyak buih di lautan, tak terhingga, maka ia akan diampuni semuanya, kecuali dosa-dosa yang disebutkan dalam riwayat tersebut. Wallahu A’lam bis Showaab.*/ Ali Akbar bin Aqil. Diambil dari Maadzaa fi Sya`baan karya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki
SUMBER:https://www.hidayatullah.com

KISAH IBU BERMATA SATU

Wajar jika posisi ibu begitu tinggi dan mulia. Hingga taat padanya berada pada urutan ketiga setelah Allah dan Rasul-Nya. Itu lantaran kasih sayang dan pengorbanan sang ibu kadang jauh di luar nalar manusia. Walau harus dibayar dengan selembar nyawanya. Yah, kasih sayang itulah yang kemudian mengubah kita menjadi seorang manusia berguna. Olehnya, tidak heran jika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam memberi kemuliaan bagi ibu itu tiga kali lipat ketimbang bapak. Seorang bertanya kepada Nabi, kepada siapa aku harus berbakti?, beliau menjawab, “ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu… “.
Kisah-kisah heroik tentang kasih sayang seorang ibu begitu banyak berserakan dalam lipatan sejarah. Keluh lisan para pujangga mendendangkan syair-syair kasih ibu. Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang ibu miskin beserta dua orang putrinya. Masing-masing oleh Nabi diberi sebiji kurma. Layaknya anak-anak lainnya, kurma itu langsung dilahap oleh keduanya. Setelah itu, tatapan mereka tertuju pada satu arah. Kurma yang berada di tangan sang ibu. Menyaksikan tatapan kedua putrinya itu, ia tersenyum. Membelahnya menjadi dua bagian, lalu memberikan pada kedua putrinya. Padahal ia sangat lapar dan butuh. Sampai-sampai Rasulullah terharu. Lalu menyuruh memberikan kurma yang lain padanya…Masih banyak lagi. Termasuk kisah nyata ini. Kisah seorang ibu bermata satu. Semoga menjadi inspirasi bagi kita. Agar terus bersyukur atas nikmat keberadaan orang tua di sisi kita. Sebab ia akan disadari tatkala keduanya telah tiada..
***
Ibuku seorang wanita bermata satu. Entahlah, kadang dalam hati aku berontak dan protes. Mengapa Tuhan memberiku seorang ibu bermata satu. Tidak seperti teman-temanku. Ibu mereka begitu anggun dengan mata jelita. Lama kelamaan, aku begitu benci padanya. Karenanya hidupku dihimpit rasa malu dan cibiran teman-teman. Apalagi, ibuku hanya seorang tukang masak di sekolah tempat aku belajar. Memang sejak dulu aku tidak mengenal ayahku. Aku pun tidak tahu sebab musababnya. Ia dipanggil Sang Khalik saat aku masih kecil sekali. Jadi untuk menghidupiku, ibu harus bekerja sebagai tukang masak. Hmm, tukang masak yang sangat membuatku minder dan malu terhadap teman-teman. Ada satu peristiwa yang tidak dapat aku lupakan. Dan itu pula yang menyulut api kebencianku padanya. Suatu hari, saat aku masih duduk di madradah ibtidaiyyah, teman-teman sekelas mengejek diriku, hingga aku menangis. Tak kuasa menyaksikan anaknya menjadi bulan-bulanan ejekan, ibuku bergegas datang menghampiriku. Memelukku dan mengusir anak-anak yang mengerubutiku. Perbuatan ibuku itu justru membuatku semakin malu. Mengapa ia melakukan hal itu di hadapan teman-temanku? Mengapa ia harus muncul dan menjadikanku bahan tertawaan mereka?
Akan tetapi, aku berpura-pura tidak mengenalnya. Lalu menatap tajam ke arahnya dengan penuh kebencian! Namun ibuku hanya diam dan tidak menjawab. Yang aku khawatirkan pun terjadi. Keesokkan harinya salah seorang murid berseru lantang, “Ooh, itukah ibumu yang hanya memiliki satu mata!??”. Seruan itu pun disambut gelak tawa dan ejekan teman-temanku. Sungguh memalukan. Dendam kesumat terhadap ibu yang menjadi sebab aku diolok-olok semakin membara.Mulai saat itu aku sangat ingin mengubur ibuku hidup-hidup. Atau mengusirnya jauh dari kehidupanku.
Pernah suatu hari aku datang menghadapnya. Menatap tajam seraya membentak: “Engkau telah menjadikan aku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak segera mati saja??!! Akan tetapi, sekali lagi ia hanya diam dan tidak menjawab. Nampak pancaran kasih sayang dari keteduhan pandangannya. Saat itu aku tidak lagi berpikir sehat tentang apa yang aku katakan padanya. Aku tidak ragu akan keberanianku itu. Dan aku pun tidak mau tahu bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan, ingin sekali aku pergi sejauh-jauhnya agar tidak melihat wajah ibuku.Tahun bergulir bersama kebencian hatiku terhadap ibu. Tak terasa aku telah menyelesaikan tingkat aliyah, dan mendapat beasiswa kuliah di Singapura. Begitu girang hatiku menyambut hal itu. Aku bisa menjauh dari ibu yang membuatku selalu merasa malu dan minder. Karena ibuku hanya seorang wanita miskin bermata satu. Tidak ada yang dapat dibanggakan darinya. Segera aku pun bertolak menuju Singapura dibawah tatapan berat ibuku. Memulai hari-hari kuliah di sana. Tak ada lagi ejekan dan hinaan orang-orang terhadapku…
Setelah tamat kuliah dan bekerja, aku menikah dengan seorang wanita Singapura dan membeli rumah di sana. Dari hasil perkawinan kami, lahirlah anak-anak yang lucu. Sungguh kehidupanku kini begitu tenang dan bahagia. Suatu hari, tiba-tiba wanita bermata satu itu datang ke rumahku. Alasannya, ia begitu rindu terhadapku dan juga kepada cucu-cucunya. Sebab, jujur, sejak menginjak Singapura aku tidak pernah lagi pulang menjenguknya. Komunikasi kami hanya sebatas surat menyurat. Itu saja. Aku sengaja berdiri di depan pintu. Anak-anakku mulai tertawa dan mengejek wanita itu. “Mengapa engkau begitu berani datang dan membuat anak-anakku ketakutan??! Keluar dan pergi saat ini juga… “. Bentakku. Tenang ia menjawab: “Maaf, kayaknya saya salah alamat”. Lalu ia berpaling setelah sempat tersenyum padaku dan anak-anakku.
Beberapa hari berselang, datang undangan dari sekolah, untuk acara temu alumni madarsah aliyah tempatku belajar dahulu. Itu artinya, aku akan bertemu ibu juga. Aku pun harus berbohong pada istriku. Bahwa kepergianku ini untuk urusan pekerjaan. Bukan untuk menghadiri temu alumni tersebut. Setelah acara pertemuan selesai, aku bergegas menuju rumah ibuku, sekedar melihat dan mengetahui keadaannya. Rumah itu masih seperti dulu. Tidak ada perubahan. Cuma di sana sini nampak kayu-kayu usang dimakan rayap. Aku mendorong pintu dan masuk. Namun rumah tua itu kosong. Senyap. Tak ada siapa pun di dalamnya. Seluruh barang-barang milikku waktu kecil masih tertata rapi. Bahkan mainan hasil rautan tangan ibuku pun masih ada dipojok sana. Tapi aneh. Mengapa rumah ini sunyi? Dimanakah ibu? Setelah berkeliling sejenak, tiba-tiba seorang masuk. Ia adalah tetangga sebelah rumah. Lama ia menatapku. Setelah yakin apa yang dilihat, ia pun berujar, “Ibumu telah meninggal kemarin sore…”. Anehnya, tak ada setetes air mata pun yang menitik..!!
***
Tanah kuburan itu masih merah. Angin bertiup lembut mengelus lembut wajahku. Aku berdiri sejenak, hanya untuk “berpamitan” pulang. Walau sebenarnya ada secuil sedih kehilangan wanita itu. Sebuah tangan menyentuh pundakku dari belakang. Ternyata ia adalah tetangga sebelah rumah yang tadi mengabarkan kepergiaan ibuku. “Ibumu tidak meninggalkan apa-apa nak. Ia hanya berpesan, jika engkau datang agar diberikan surat ini padamu”. Ujar laki-laki paruh baya itu seraya menyodorkan sebuah surat lusuh.
Aku membuka dan membaca isinya: “Anakku tercinta, sungguh hati ini begitu berat menanggung rindu padamu. Pikiranku begitu kacau memikirkan keadaanmu. Ibu minta maaf atas kunjungan ibu dahulu ke Singapura yang membuat anak-anakmu takut. Yang ibu lakukan itu hanya lantaran begitu rindu padamu. Sungguh, ibu begitu bahagia mendengar bahwa engkau akan datang menghadiri reuni sekolah itu. Akan tetapi ibu minta maaf, ibu tidak bisa lagi bangkit dari tempat tidur untuk melihatmu wahai anakku. Oh ya, ibu juga ingin minta maaf sedalam-dalamnya jika selama ini ibu membuatmu malu dan minder. Sungguh, berjuta-juta maaf ibu haturkan padamu. Tahukah engkau wahai anakku… waktu engkau masih kecil dulu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu dan merampas salah satu matamu?? Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatmu besar hanya dengan satu mata. Karenanya, … ibu berikan engkau salah satu mata ibu. Sungguh ibu sangat bahagia dan bangga, sebab engkau tumbuh dewasa dengan mata normal dan dapat menyaksikan dunia ini dengan kedua matamu… Cintaku selalu untukmu…ibumu..!.
Secarik kertas yang telah basah dengan air mataku itu terasa berat. Berat sekali. Lututku goyah dan lemas. Aku jatuh berlutut di hadapan pusara yang masih merah itu. Seumur hidupku, baru kali ini aku menangis dan merasa kehilangan ibu. Dadaku sesak menanggung beban penyesalan yang sangat. Namun semua sudah terlambat. Penyesalanku ibarat buih yang hancur berkeping terbentur karang yang kokoh…
Kisah nyata ini diterjemahkan dari slide berbahasa Arab yang kami pungut dari dunia maya.
Makassar, 26 Mei 2010
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=404187628500

CERITA ISLAMI

KISAH IBU BERMATA SATU

Wajar jika posisi ibu begitu tinggi dan mulia. Hingga taat padanya berada pada urutan ketiga setelah Allah dan Rasul-Nya. Itu lantaran kasih sayang dan pengorbanan sang ibu kadang jauh di luar nalar manusia. Walau harus dibayar dengan selembar nyawanya. Yah, kasih sayang itulah yang kemudian mengubah kita menjadi seorang manusia berguna. Olehnya, tidak heran jika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam memberi kemuliaan bagi ibu itu tiga kali lipat ketimbang bapak. Seorang bertanya kepada Nabi, kepada siapa aku harus berbakti?, beliau menjawab, “ibumu, ibumu, ibumu, kemudian bapakmu… “.
Kisah-kisah heroik tentang kasih sayang seorang ibu begitu banyak berserakan dalam lipatan sejarah. Keluh lisan para pujangga mendendangkan syair-syair kasih ibu. Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi seorang ibu miskin beserta dua orang putrinya. Masing-masing oleh Nabi diberi sebiji kurma. Layaknya anak-anak lainnya, kurma itu langsung dilahap oleh keduanya. Setelah itu, tatapan mereka tertuju pada satu arah. Kurma yang berada di tangan sang ibu. Menyaksikan tatapan kedua putrinya itu, ia tersenyum. Membelahnya menjadi dua bagian, lalu memberikan pada kedua putrinya. Padahal ia sangat lapar dan butuh. Sampai-sampai Rasulullah terharu. Lalu menyuruh memberikan kurma yang lain padanya…Masih banyak lagi. Termasuk kisah nyata ini. Kisah seorang ibu bermata satu. Semoga menjadi inspirasi bagi kita. Agar terus bersyukur atas nikmat keberadaan orang tua di sisi kita. Sebab ia akan disadari tatkala keduanya telah tiada..
***
Ibuku seorang wanita bermata satu. Entahlah, kadang dalam hati aku berontak dan protes. Mengapa Tuhan memberiku seorang ibu bermata satu. Tidak seperti teman-temanku. Ibu mereka begitu anggun dengan mata jelita. Lama kelamaan, aku begitu benci padanya. Karenanya hidupku dihimpit rasa malu dan cibiran teman-teman. Apalagi, ibuku hanya seorang tukang masak di sekolah tempat aku belajar. Memang sejak dulu aku tidak mengenal ayahku. Aku pun tidak tahu sebab musababnya. Ia dipanggil Sang Khalik saat aku masih kecil sekali. Jadi untuk menghidupiku, ibu harus bekerja sebagai tukang masak. Hmm, tukang masak yang sangat membuatku minder dan malu terhadap teman-teman. Ada satu peristiwa yang tidak dapat aku lupakan. Dan itu pula yang menyulut api kebencianku padanya. Suatu hari, saat aku masih duduk di madradah ibtidaiyyah, teman-teman sekelas mengejek diriku, hingga aku menangis. Tak kuasa menyaksikan anaknya menjadi bulan-bulanan ejekan, ibuku bergegas datang menghampiriku. Memelukku dan mengusir anak-anak yang mengerubutiku. Perbuatan ibuku itu justru membuatku semakin malu. Mengapa ia melakukan hal itu di hadapan teman-temanku? Mengapa ia harus muncul dan menjadikanku bahan tertawaan mereka?
Akan tetapi, aku berpura-pura tidak mengenalnya. Lalu menatap tajam ke arahnya dengan penuh kebencian! Namun ibuku hanya diam dan tidak menjawab. Yang aku khawatirkan pun terjadi. Keesokkan harinya salah seorang murid berseru lantang, “Ooh, itukah ibumu yang hanya memiliki satu mata!??”. Seruan itu pun disambut gelak tawa dan ejekan teman-temanku. Sungguh memalukan. Dendam kesumat terhadap ibu yang menjadi sebab aku diolok-olok semakin membara.Mulai saat itu aku sangat ingin mengubur ibuku hidup-hidup. Atau mengusirnya jauh dari kehidupanku.
Pernah suatu hari aku datang menghadapnya. Menatap tajam seraya membentak: “Engkau telah menjadikan aku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak segera mati saja??!! Akan tetapi, sekali lagi ia hanya diam dan tidak menjawab. Nampak pancaran kasih sayang dari keteduhan pandangannya. Saat itu aku tidak lagi berpikir sehat tentang apa yang aku katakan padanya. Aku tidak ragu akan keberanianku itu. Dan aku pun tidak mau tahu bagaimana perasaannya saat itu. Bahkan, ingin sekali aku pergi sejauh-jauhnya agar tidak melihat wajah ibuku.Tahun bergulir bersama kebencian hatiku terhadap ibu. Tak terasa aku telah menyelesaikan tingkat aliyah, dan mendapat beasiswa kuliah di Singapura. Begitu girang hatiku menyambut hal itu. Aku bisa menjauh dari ibu yang membuatku selalu merasa malu dan minder. Karena ibuku hanya seorang wanita miskin bermata satu. Tidak ada yang dapat dibanggakan darinya. Segera aku pun bertolak menuju Singapura dibawah tatapan berat ibuku. Memulai hari-hari kuliah di sana. Tak ada lagi ejekan dan hinaan orang-orang terhadapku…
Setelah tamat kuliah dan bekerja, aku menikah dengan seorang wanita Singapura dan membeli rumah di sana. Dari hasil perkawinan kami, lahirlah anak-anak yang lucu. Sungguh kehidupanku kini begitu tenang dan bahagia. Suatu hari, tiba-tiba wanita bermata satu itu datang ke rumahku. Alasannya, ia begitu rindu terhadapku dan juga kepada cucu-cucunya. Sebab, jujur, sejak menginjak Singapura aku tidak pernah lagi pulang menjenguknya. Komunikasi kami hanya sebatas surat menyurat. Itu saja. Aku sengaja berdiri di depan pintu. Anak-anakku mulai tertawa dan mengejek wanita itu. “Mengapa engkau begitu berani datang dan membuat anak-anakku ketakutan??! Keluar dan pergi saat ini juga… “. Bentakku. Tenang ia menjawab: “Maaf, kayaknya saya salah alamat”. Lalu ia berpaling setelah sempat tersenyum padaku dan anak-anakku.
Beberapa hari berselang, datang undangan dari sekolah, untuk acara temu alumni madarsah aliyah tempatku belajar dahulu. Itu artinya, aku akan bertemu ibu juga. Aku pun harus berbohong pada istriku. Bahwa kepergianku ini untuk urusan pekerjaan. Bukan untuk menghadiri temu alumni tersebut. Setelah acara pertemuan selesai, aku bergegas menuju rumah ibuku, sekedar melihat dan mengetahui keadaannya. Rumah itu masih seperti dulu. Tidak ada perubahan. Cuma di sana sini nampak kayu-kayu usang dimakan rayap. Aku mendorong pintu dan masuk. Namun rumah tua itu kosong. Senyap. Tak ada siapa pun di dalamnya. Seluruh barang-barang milikku waktu kecil masih tertata rapi. Bahkan mainan hasil rautan tangan ibuku pun masih ada dipojok sana. Tapi aneh. Mengapa rumah ini sunyi? Dimanakah ibu? Setelah berkeliling sejenak, tiba-tiba seorang masuk. Ia adalah tetangga sebelah rumah. Lama ia menatapku. Setelah yakin apa yang dilihat, ia pun berujar, “Ibumu telah meninggal kemarin sore…”. Anehnya, tak ada setetes air mata pun yang menitik..!!
***
Tanah kuburan itu masih merah. Angin bertiup lembut mengelus lembut wajahku. Aku berdiri sejenak, hanya untuk “berpamitan” pulang. Walau sebenarnya ada secuil sedih kehilangan wanita itu. Sebuah tangan menyentuh pundakku dari belakang. Ternyata ia adalah tetangga sebelah rumah yang tadi mengabarkan kepergiaan ibuku. “Ibumu tidak meninggalkan apa-apa nak. Ia hanya berpesan, jika engkau datang agar diberikan surat ini padamu”. Ujar laki-laki paruh baya itu seraya menyodorkan sebuah surat lusuh.
Aku membuka dan membaca isinya: “Anakku tercinta, sungguh hati ini begitu berat menanggung rindu padamu. Pikiranku begitu kacau memikirkan keadaanmu. Ibu minta maaf atas kunjungan ibu dahulu ke Singapura yang membuat anak-anakmu takut. Yang ibu lakukan itu hanya lantaran begitu rindu padamu. Sungguh, ibu begitu bahagia mendengar bahwa engkau akan datang menghadiri reuni sekolah itu. Akan tetapi ibu minta maaf, ibu tidak bisa lagi bangkit dari tempat tidur untuk melihatmu wahai anakku. Oh ya, ibu juga ingin minta maaf sedalam-dalamnya jika selama ini ibu membuatmu malu dan minder. Sungguh, berjuta-juta maaf ibu haturkan padamu. Tahukah engkau wahai anakku… waktu engkau masih kecil dulu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu dan merampas salah satu matamu?? Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatmu besar hanya dengan satu mata. Karenanya, … ibu berikan engkau salah satu mata ibu. Sungguh ibu sangat bahagia dan bangga, sebab engkau tumbuh dewasa dengan mata normal dan dapat menyaksikan dunia ini dengan kedua matamu… Cintaku selalu untukmu…ibumu..!.
Secarik kertas yang telah basah dengan air mataku itu terasa berat. Berat sekali. Lututku goyah dan lemas. Aku jatuh berlutut di hadapan pusara yang masih merah itu. Seumur hidupku, baru kali ini aku menangis dan merasa kehilangan ibu. Dadaku sesak menanggung beban penyesalan yang sangat. Namun semua sudah terlambat. Penyesalanku ibarat buih yang hancur berkeping terbentur karang yang kokoh…
Kisah nyata ini diterjemahkan dari slide berbahasa Arab yang kami pungut dari dunia maya.
Makassar, 26 Mei 2010
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=404187628500

KETIKA MUSIBAH MEMBAWA HIDAYAH

Dari atas gedung apartemen yang ia tempati di Jakarta tatkala membawa puteranya berobat ke salah satu rumah sakit kanker, ia melihat ke bawah, sungguh pemandangan yang mengerikan seandainya ia lompat saja menyudahi segala cobaan dan ujian yang berat ini.Untuk apa rasanya hidup dengan segala gelimang kemewahan, jika puteranya sekarat diujung kematian. Untuk siapa hasil usaha travel yang ia bina seandainya kematian merenggut nyawa anak satu-satunya..?
Ya..bunuh diri, itulah perasaan yang menghantuinya setelah mendengar vonis dokter bahwa tipis sekali kemungkinan puteranya dapat disembuhkan dari kanker tulang yang telah menggerogoti seluruh tubuhnya.
Penyakit itu bermula tatkala puteranya yang berumur sepuluh tahun itu tergelincir jatuh yang membuat tulang pundaknya cidera. Karena masih anak-anak dan takut dimarahi orang tua, hal itu dia sembunyikan hingga lambat laun menjadi kanker ganas .
Ia telah melakukan berbagai usaha pengobatan untuk anaknya tercinta, bahkan tidak puas berobat di negerinya, dia juga membawa anaknya berobat ke manca negara, ke Singapore maupun Malaysia yang- konon kabarnya- memiliki peralatan medis dan para dokter yang handal.
Untuk berobat dia telah keluarkan puluhan bahkan ratusan juta demi kesembuhan puteranya. Tetapi hari kesembuhan puteranya tak kunjung datang, bahkan semangkin bertambah hari, kondisi puteranya itu semangkin bertambah parah dan kritis .
Berbagai tindakan medis telah dihadapi puteranya hingga harus berkali-kali di cammo therapy dengan segala efeknya yang dahsyat mulai denga merontokkan rambutnya, hingga melepaskan satu-demi satu kuku tangan.
Ia termenung dan berkata dalam hatinya..seandainya kesehatan puteranya itu adalah paket yang dapat dibeli… pastilah dia akan bayar dengan semua kekayaan yang dia miliki. Ternyata kekayaan bukanlah segalanya, toh ternyata tak mampu membeli kesehatan manusia.
Setelah upaya berobat berminggu bahkan berbulan, masa kritis itupun berakhir dengan kamatian yang telah menjemput puteranya.Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Bak kata pepatah” untung tak dapat di raih dan malang tak dapat di tolak” manusia berusaha dan Allah jua yang menentukan.Di salah satu rumah sakit tenar di negeri tetangga Malaysia, puteranya wafat.
Harapan membawa putera pulang dalam keadaan sehat pupuslah sudah berganti duka dan tangisan tatkala ia harus membawa jasad puteranya tercinta .La haula wala quwwata illa billahi.
Ingin dia hujat guratan-guratan takdir yang telah tertulis, ingin rasanya ia menjerit histeris protes atas ketentuan Allah yang dianggapnya tidak adil dan kejam. Kenapa harus puteranya yang diambil, apa salah dan dosanya hingga Allah tega menjatuhkan takdir ini padanya.
Terkenang dalam ingatannya masa lalu puteranya yang begitu rajin mengaji membaca Quran dan mengerjakan sholat. Sungguh bisnis telah melalaikannya untuk dapat menemani puteranya, mengajarkannya mengaji ataupun sholat.
Hari-harinya adalah kerja dan uang, tidak cukup hanya dirinya bahkan istrinya pun tak kalah sibuk. Tinggalah sang putera “semata wayang” di rumah dari pagi hingga sore bersama pembantu yang setia menemani hari-harinya yang sunyi dan kering dari kasih sayang kedua orang tua. Syukur juga tatkala sang pebantu berhasil mengajarinya mengaji dan sholat.
Usai acara pemakaman hidup terasa hambar baginya, alangkah kejam dunia di matanya, hilang darinya segala harapan hidup. Keputus asa-an bagaikan pisau yang menyayat-nyayat tubuh dan memporak-porandakan hidupnya.
Dengan segala kepiluan hati, dia tawarkan istrinya untuk pulang ke kampung halaman menyudahi tali pernikahan yang gagal ini. Dia pun berazam untuk pulang ke kampung halamannya.
Biarlah segala kenangan manis bersama putera dan istrinya dia kubur saja di Batam, biarlah dia menghabiskan usiannya dengan segala kekecewaan kepada Tuhan, yang tidak mencintainya bahkan membencinya.
Bias keputus asa-an telah menguasai dirinya, harapannya hancur dan semangat hidupnya pun pupus. Kalaulah bukan karena Rahmat Allah semata, niscaya lelaki ini akan menghabisi nyawanya.
Dalam acara berkabung itulah dia mendapatkan siraman rohani yang kembali menghidupkan semangat dirinya. Tersebutlah seorang ikhwan yang satu tempat perumahan dengannya bertakziyah menghiburnya dengan siraman kata-kata yang menyejukkan.
Dia sebutkan bahwa Allah mencintai puteranya lebih dari kecintaannya terhadap puteranya sendiri. Sungguh di balik segala kejadian ada hikmah yang tersirat jika hamba mau menjadikannya i’tibar. Boleh saja kelak puteranya yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah di hari kiamat. Ikhwan itu menuturkan padanya keutaman yang dimiliki orang tua dihari kiamat tatkala anaknya wafat kecil dan dia ridho dengan keputusan Allah.
Petuah demi petuah terasa indah di telinga yg jarang mendapatkan sentuhan rohani. sekaligus membuat hatinya terhibur dan menghidupkan kembali semangat hidupnya . Ia pun berupaya mengikhlaskan kepergian anaknya.
Begitu besar pengaruh kata-kata tetangganya itu, meruntuhkan segala bentuk ketidak ridhoan dirinya dari ketentuan takdir Allah. Ikhwan tersebut terus berupaya menasehatinya dan mengajaknya untuk kembali pada Allah, dan mengambil pelajaran dari kematian puteranya.
Sungguh laksana air sejuk yang diberikan pada seseorang yang dahaga, petuah dan nasehat itu dia terima dengan dada yang lapang. Sejak itu-atas saran ikhwan tersebut-dia mulai menyenangi salah satu radio dakwah yang konsisten mendakwahkan sunnah di negerinya.
tidak sampai di situ, bahkan dia juga termotifasi turut serta dalam dua hari penuh, mengikuti sesi demi sesi kajian dasar keislaman yang digagas Yayasan Dakwah Islam di negerinya melalui lembaga QSM nya,membuatnya semangkin yakin akan kebenaran dakwah sunnah. Meskipun hidayah baru secara perlahan-lahan dia amalkan.
Setelah mengadakan perjalan ritual umrah bersama para ikhwan salaf dan menyaksikan tata cara peribadatan yang sesuai sunnah yang dia pelajari dahulu di praktekkan dinegeri tersebut, barulalah hidayah menghujam kuat di dati sanubarinya. Sejak pulang umrah hingga kini, betapa rajinnya dia mengikuti kajian-kajian di halaqah-halaqah ilmu, bahkan sering turut serta mendampingi para asatidzah yang pergi berdakwah ke luar Batam.
Sungguh kematian putera tercintanya membawa kebaikan besar dalam hidupnya. Merubah haluannya untuk selalu berbekal menuju negeri akhirat. Seandainya puteranya tidak wafat, boleh jadi dia tidak akan pernah mengenal hidayat sunnah, dan tidak pula mengenal tujuan hidup. Tidak mustahil pula kelak kekayaannya akan menjadi penyebab kebinasaannya dan menenggelamkannya dalam lumpur azab Allah di hari kiamat kelak.
Ya Allah…ajarkan kami untuk senantiasa menerima dengan lapang dada segala ketentuan takdir yang telah kau gariskan. Ampuni diri kami yang lemah ini tatkala tergelincir menghujat ketentuanMu.
Batam 10 Muharram 1436 h/ 4 Nov 2014
Abu Fairuz
Dikutip dari Facebook Abu Abdurrahman Fawwaz

CERITA ISLAMI

KETIKA MUSIBAH MEMBAWA HIDAYAH

Dari atas gedung apartemen yang ia tempati di Jakarta tatkala membawa puteranya berobat ke salah satu rumah sakit kanker, ia melihat ke bawah, sungguh pemandangan yang mengerikan seandainya ia lompat saja menyudahi segala cobaan dan ujian yang berat ini.Untuk apa rasanya hidup dengan segala gelimang kemewahan, jika puteranya sekarat diujung kematian. Untuk siapa hasil usaha travel yang ia bina seandainya kematian merenggut nyawa anak satu-satunya..?
Ya..bunuh diri, itulah perasaan yang menghantuinya setelah mendengar vonis dokter bahwa tipis sekali kemungkinan puteranya dapat disembuhkan dari kanker tulang yang telah menggerogoti seluruh tubuhnya.
Penyakit itu bermula tatkala puteranya yang berumur sepuluh tahun itu tergelincir jatuh yang membuat tulang pundaknya cidera. Karena masih anak-anak dan takut dimarahi orang tua, hal itu dia sembunyikan hingga lambat laun menjadi kanker ganas .
Ia telah melakukan berbagai usaha pengobatan untuk anaknya tercinta, bahkan tidak puas berobat di negerinya, dia juga membawa anaknya berobat ke manca negara, ke Singapore maupun Malaysia yang- konon kabarnya- memiliki peralatan medis dan para dokter yang handal.
Untuk berobat dia telah keluarkan puluhan bahkan ratusan juta demi kesembuhan puteranya. Tetapi hari kesembuhan puteranya tak kunjung datang, bahkan semangkin bertambah hari, kondisi puteranya itu semangkin bertambah parah dan kritis .
Berbagai tindakan medis telah dihadapi puteranya hingga harus berkali-kali di cammo therapy dengan segala efeknya yang dahsyat mulai denga merontokkan rambutnya, hingga melepaskan satu-demi satu kuku tangan.
Ia termenung dan berkata dalam hatinya..seandainya kesehatan puteranya itu adalah paket yang dapat dibeli… pastilah dia akan bayar dengan semua kekayaan yang dia miliki. Ternyata kekayaan bukanlah segalanya, toh ternyata tak mampu membeli kesehatan manusia.
Setelah upaya berobat berminggu bahkan berbulan, masa kritis itupun berakhir dengan kamatian yang telah menjemput puteranya.Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Bak kata pepatah” untung tak dapat di raih dan malang tak dapat di tolak” manusia berusaha dan Allah jua yang menentukan.Di salah satu rumah sakit tenar di negeri tetangga Malaysia, puteranya wafat.
Harapan membawa putera pulang dalam keadaan sehat pupuslah sudah berganti duka dan tangisan tatkala ia harus membawa jasad puteranya tercinta .La haula wala quwwata illa billahi.
Ingin dia hujat guratan-guratan takdir yang telah tertulis, ingin rasanya ia menjerit histeris protes atas ketentuan Allah yang dianggapnya tidak adil dan kejam. Kenapa harus puteranya yang diambil, apa salah dan dosanya hingga Allah tega menjatuhkan takdir ini padanya.
Terkenang dalam ingatannya masa lalu puteranya yang begitu rajin mengaji membaca Quran dan mengerjakan sholat. Sungguh bisnis telah melalaikannya untuk dapat menemani puteranya, mengajarkannya mengaji ataupun sholat.
Hari-harinya adalah kerja dan uang, tidak cukup hanya dirinya bahkan istrinya pun tak kalah sibuk. Tinggalah sang putera “semata wayang” di rumah dari pagi hingga sore bersama pembantu yang setia menemani hari-harinya yang sunyi dan kering dari kasih sayang kedua orang tua. Syukur juga tatkala sang pebantu berhasil mengajarinya mengaji dan sholat.
Usai acara pemakaman hidup terasa hambar baginya, alangkah kejam dunia di matanya, hilang darinya segala harapan hidup. Keputus asa-an bagaikan pisau yang menyayat-nyayat tubuh dan memporak-porandakan hidupnya.
Dengan segala kepiluan hati, dia tawarkan istrinya untuk pulang ke kampung halaman menyudahi tali pernikahan yang gagal ini. Dia pun berazam untuk pulang ke kampung halamannya.
Biarlah segala kenangan manis bersama putera dan istrinya dia kubur saja di Batam, biarlah dia menghabiskan usiannya dengan segala kekecewaan kepada Tuhan, yang tidak mencintainya bahkan membencinya.
Bias keputus asa-an telah menguasai dirinya, harapannya hancur dan semangat hidupnya pun pupus. Kalaulah bukan karena Rahmat Allah semata, niscaya lelaki ini akan menghabisi nyawanya.
Dalam acara berkabung itulah dia mendapatkan siraman rohani yang kembali menghidupkan semangat dirinya. Tersebutlah seorang ikhwan yang satu tempat perumahan dengannya bertakziyah menghiburnya dengan siraman kata-kata yang menyejukkan.
Dia sebutkan bahwa Allah mencintai puteranya lebih dari kecintaannya terhadap puteranya sendiri. Sungguh di balik segala kejadian ada hikmah yang tersirat jika hamba mau menjadikannya i’tibar. Boleh saja kelak puteranya yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah di hari kiamat. Ikhwan itu menuturkan padanya keutaman yang dimiliki orang tua dihari kiamat tatkala anaknya wafat kecil dan dia ridho dengan keputusan Allah.
Petuah demi petuah terasa indah di telinga yg jarang mendapatkan sentuhan rohani. sekaligus membuat hatinya terhibur dan menghidupkan kembali semangat hidupnya . Ia pun berupaya mengikhlaskan kepergian anaknya.
Begitu besar pengaruh kata-kata tetangganya itu, meruntuhkan segala bentuk ketidak ridhoan dirinya dari ketentuan takdir Allah. Ikhwan tersebut terus berupaya menasehatinya dan mengajaknya untuk kembali pada Allah, dan mengambil pelajaran dari kematian puteranya.
Sungguh laksana air sejuk yang diberikan pada seseorang yang dahaga, petuah dan nasehat itu dia terima dengan dada yang lapang. Sejak itu-atas saran ikhwan tersebut-dia mulai menyenangi salah satu radio dakwah yang konsisten mendakwahkan sunnah di negerinya.
tidak sampai di situ, bahkan dia juga termotifasi turut serta dalam dua hari penuh, mengikuti sesi demi sesi kajian dasar keislaman yang digagas Yayasan Dakwah Islam di negerinya melalui lembaga QSM nya,membuatnya semangkin yakin akan kebenaran dakwah sunnah. Meskipun hidayah baru secara perlahan-lahan dia amalkan.
Setelah mengadakan perjalan ritual umrah bersama para ikhwan salaf dan menyaksikan tata cara peribadatan yang sesuai sunnah yang dia pelajari dahulu di praktekkan dinegeri tersebut, barulalah hidayah menghujam kuat di dati sanubarinya. Sejak pulang umrah hingga kini, betapa rajinnya dia mengikuti kajian-kajian di halaqah-halaqah ilmu, bahkan sering turut serta mendampingi para asatidzah yang pergi berdakwah ke luar Batam.
Sungguh kematian putera tercintanya membawa kebaikan besar dalam hidupnya. Merubah haluannya untuk selalu berbekal menuju negeri akhirat. Seandainya puteranya tidak wafat, boleh jadi dia tidak akan pernah mengenal hidayat sunnah, dan tidak pula mengenal tujuan hidup. Tidak mustahil pula kelak kekayaannya akan menjadi penyebab kebinasaannya dan menenggelamkannya dalam lumpur azab Allah di hari kiamat kelak.
Ya Allah…ajarkan kami untuk senantiasa menerima dengan lapang dada segala ketentuan takdir yang telah kau gariskan. Ampuni diri kami yang lemah ini tatkala tergelincir menghujat ketentuanMu.
Batam 10 Muharram 1436 h/ 4 Nov 2014
Abu Fairuz
Dikutip dari Facebook Abu Abdurrahman Fawwaz

Kisah Umar Bin Khattab


Biografi Umar bin Khattab

“Ya Allah, jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Rasulullah. Waktu itu Rasulullah membaca surat al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.”

Kepemimpinan Umar bin Khattab

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al Qur’an dan as Sunnah setelah Abu Bakar.

Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639 M, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637 M, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641 M, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun Hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan shalat sunah Tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, “Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, “Umar bin Khattab berkata, ‘Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah’.”

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak Samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya.

Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Allah dan Rasulullah. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka dengan berkata, “Aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.”

Wafatnya Umar bin Khattab

Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah (al Fairus dari Persia), budak milik al Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Diambil dari berbagai sumber.

KISAH UMAR BIN KHATTAB

Kisah Umar Bin Khattab


Biografi Umar bin Khattab

“Ya Allah, jadikanlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satu dari kedua orang ini. Amr bin Hisham atau Umar bin Khattab.” Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah. Doa itu segera dikabulkan oleh Allah. Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.

Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy. Beliau merupakan khalifah kedua di dalam Islam setelah Abu Bakar. Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin Razah bin ‘Adiy bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada kakeknya Ka’ab. Antara beliau dengan Rasulullah selisih 8 kakek. lbu beliau bernama Khatamah binti Hasyim bin al Mughirah al Makhzumiyah. Rasulullah memberi beliau kunyah Abu Hafsh (bapak Hafsh) karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua dan memberi laqab (julukan) al Faruq.

Umar bin Khattab Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum Jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri. Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam.

Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk mendengarkan bacaan shalat Rasulullah. Waktu itu Rasulullah membaca surat al Haqqah. Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri- “Demi Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy.” Kemudian beliau mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan syair), lantas beliau berkata, “Kalau begitu berarti dia itu dukun.” Kemudian beliau mendengar bacaan Rasulullah ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan perkataan dukun.) akhirnya beliau berkata, “Telah terbetik lslam di dalam hatiku.” Akan tetapi karena kuatnya adat jahiliyah, fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang, maka beliau tetap memusuhi Islam.

Kemudian pada suatu hari, beliau keluar dengan menghunus pedangnya bermaksud membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, “Mau kemana wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, “Aku ingin membunuh Muhammad.” Lelaki tadi berkata, “Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad?” Maka Umar menjawab, “Tidaklah aku melihatmu melainkan kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu.” Tetapi lelaki tadi menimpali, “Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar? Sesugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini.”

Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur’an, surat Thaha kepada Khabab bin al Arat. Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi. Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya. Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, “Kami tidak sedang membicarakan apa-apa.” Umar bin Khattab menimpali, “Sepertinya kalian telah keluar dari agama nenek moyang kalian.” Iparnya menjawab, “Wahai Umar, apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?” Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hingga terluka dan berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya, Umar bin Khattab berputus asa dan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.

Umar bin Khattab berkata, “Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku ingin membacanya.” Maka adik perempuannya berkata, “Kamu itu kotor. Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci. Mandilah terlebih dahulu!” Lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada pada adik perempuannya. Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan keberadaan Rasulullah.

Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab, dia muncul dari persembunyiannya dan berkata, “Aku akan beri kabar gembira kepadamu, wahai Umar! Aku berharap engkau adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, ‘Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.’ Waktu itu, Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.” Umar bin Khattab mengambil pedangnya dan menuju rumah tersebut, kemudian mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang terhunus dari celah pintu rumahnya, dikabarkannya kepada Rasulullah. Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya, “Ada apa kalian?” Mereka menjawab, “Umar datang!” Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, “Bukalah pintunya. Kalau dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan, maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya.” Kemudian Rasulullah menemui Umar bin Khattab dan berkata kepadanya, “Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab. Ya Allah, muliakan Islam dengan Umar bin Khattab.” Dan dalam riwayat lain, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar.”

Seketika itu pula Umar bin Khattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut bertakbir dengan keras. Menurut pengakuannya dia adalah orang yang ke-40 masuk Islam. Abdullah bin Mas’ud berkomentar, “Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak Umar bin Khattab masuk Islam.”

Kepemimpinan Umar bin Khattab

Keislaman beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu tentang al Qur’an dan as Sunnah setelah Abu Bakar.

Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Pada masa kepemimpinannya kekuasaan Islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir, Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan Kairo.

Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636 M), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641 M, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639 M, pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.

Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637 M, terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641 M, seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642 M), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644 M, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.

Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabat pun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf, menetapkan tahun Hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan shalat sunah Tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi peminum khamr (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.

Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang pemimpin yang zuhud dan wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, “Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, “Umar bin Khattab berkata, ‘Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah’.”

Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang. Beliau berjanji tidak akan makan minyak Samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya.

Tidak diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.

Kebijaksanaan dan keadilan Umar bin Khattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap rasa tanggung jawabnya kepada Allah. Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah mempersiapkan penggantinya jika kelak dia wafat. Sebelum wafat, Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah mendapat ridha Allah dan Rasulullah. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka dengan berkata, “Aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati. Kalau Allah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.”

Wafatnya Umar bin Khattab

Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat. Beliau ditikam ketika sedang melakukan shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah (al Fairus dari Persia), budak milik al Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi. Umar bin Khattab dimakamkan di samping Rasulullah dan Abu Bakar, beliau wafat dalam usia 63 tahun.

Diambil dari berbagai sumber.

Derita Sakaratul Maut Karena Mengutamakan Istri Lebih Dari Ibunya


Derita Sakaratul Maut Kerana Mengutamakan Isteri Lebih Dari Ibunya

Di zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam naza sakaratul maut. Apabila berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah. Apabila mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak dapat menyebutnya. 

Ketika para sahabat mendapati bahawa Alqomah pasti akan mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang keadaan Alqomah. Apabila Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal; "Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya". 

Maka apabila Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah; " Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Maka bertanya Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku". Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya; "Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya". Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya; "Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia patut mengutamakan aku dari isterinya, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku". 

Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Apabila ibu Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah, kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku Alqomah". 

Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka apabila Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalang Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah Alqomah pada waktu sebaik saja dia mengucap. 

Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya. 

CERITA ISLAMI

Derita Sakaratul Maut Karena Mengutamakan Istri Lebih Dari Ibunya


Derita Sakaratul Maut Kerana Mengutamakan Isteri Lebih Dari Ibunya

Di zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqomah, ia sangat rajin beribadat. Suatu hari ia tiba-tiba jatuh sakit yang sangat kuat, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah dan mengatakan suaminya sakit kuat dan dalam naza sakaratul maut. Apabila berita ini sampai kepada Rasulullah, maka Rasulullah menyuruh Bilal r.a, Ali r.a, Salamam r.a dan Ammar r.a supaya pergi melihat keadaan Alqomah. Apabila mereka sampai ke rumah Alqomah, mereka terus mendapatkan Alqomah sambil membantunya membacakan kalimah La-ilaa-ha-illallah, tetapi lidah Alqomah tidak dapat menyebutnya. 

Ketika para sahabat mendapati bahawa Alqomah pasti akan mati, maka mereka menyuruh Bilal r.a supaya memberitahu Rasulullah tentang keadaan Alqomah. Apabila Bilal sampai dirumah Rasulullah, maka bilal menceritakan segala hal yang berlaku kepada Alqomah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Bilal; "Wahai Bilal apakah ayah Alqomah masih hidup?" jawab Bilal r.a, " Tidak, ayahnya sudah meninggal, tetapi ibunya masih hidup dan sangat tua usianya". Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal; "Pergilah kamu kepada ibunya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya kalau dia dapat berjalan, suruh dia datang berjumpaku, kalau dia tidak dapat berjalan katakan aku akan kerumahnya". 

Maka apabila Bilal sampai kerumah ibu Alqomah, lalu ia berkata seperti yang Rasulullah kata kepadanya, maka berkata ibu Alqomah; " Aku lebih patut pergi berjumpa Rasulullah". Lalu ibu Alqomah mengangkat tongkat dan terus berjalan menuju ke rumah Rasulullah. Maka bertanya Nabi s.a.w. kepada ibu Alqomah; "Terangkan kepada ku perkara yang sebenar tentang Alqomah, jika kamu berdusta nescaya akan turun wahyu kepadaku". Berkata Nabi lagi; "Bagaimana keadaan Alqomah?", jawab ibunya; "Ia sangat rajin beribadat, ia sembahyang, berpuasa dan sangat suka bersedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui banyaknya". Bertanya Rasulullah; "Bagaimana hubungan kamu dengan dia?", jawab ibunya; " Aku murka kepadanya", lalu Rasulullah bertanya; "Mengapa", jawab ibunya; "Kerana ia patut mengutamakan aku dari isterinya, dan menurut kata-kata isterinya sehingga ia menentangku". 

Maka berkata Rasulullah; "Murka kamu itulah yang telah mengunci lidahnya dari mengucap La iilaa ha illallah", kemudian Nabi s.a.w menyuruh Bilal mencari kayu api untuk membakar Alqomah. Apabila ibu Alqomah mendengar perintah Rasulullah lalu ia bertanya; "Wahai Rasulullah, kamu hendak membakar putera ku didepan mataku?, bagaimana hatiku dapat menerimanya". Kemudian berkata Nabi s.a.w; "Wahai ibu Alqomah, siksa Allah itu lebih berat dan kekal, oleh itu jika kamu mahu Allah mengampunkan dosa anakmu itu, maka hendaklah kamu mengampuninya", demi Allah yang jiwaku ditangannya, tidak akan guna sembahyangnya, sedekahnya, selagi kamu murka kepadanya". Maka berkata ibu Alqomah sambil mengangkat kedua tangannya; "Ya Rasulullah, aku persaksikan kepada Allah dilangit dan kau Ya Rasulullah dan mereka-mereka yang hadir disini bahawa aku redha pada anakku Alqomah". 

Maka Rasulullah mengarahkan Bilal pergi melihat Alqomah sambil berkata; "Pergilah kamu wahai Bilal, lihat sama ada Alqomah dapat mengucapkan La iilaa ha illallah atau tidak". Berkata Rasulullah lagi kepada Bilal ; "Aku khuatir kalau kalau ibu Alqomah mengucapkan itu semata-mata kerana pada aku dan bukan dari hatinya". Maka apabila Bilal sampai di rumah Alqomah tiba-tiba terdengar suara Alqomah menyebut; "La iilaa ha illallah". Lalu Bilal masuk sambil berkata; "Wahai semua orang yang berada disini, ketahuilah sesungguhnya murka ibunya telah menghalang Alqomah dari dapat mengucapkan kalimah La iila ha illallah, kerana redha ibunyalah maka Alqomah dapat menyebut kalimah syahadat". Maka matilah Alqomah pada waktu sebaik saja dia mengucap. 

Maka Rasulullah s.a.w pun sampai di rumah Alqomah sambil berkata; "Segeralah mandi dan kafankan", lalu disembahyangkan oleh Nabi s.a.w. dan sesudah dikuburkan maka berkata Nabi s.a.w. sambil berdiri dekat kubur; "Hai sahabat Muhajirin dan Anshar, barang siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia adalah orang yang dilaknat oleh Allah s.w.t, dan tidak diterimanya daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya. 

Hikmah Dibalik Belum Terkabulnya Do'a


Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga.

Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran.

Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi.
Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.

Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana?
Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula. Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela.

Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz. Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah ketika melihat engkau, yang sholeh, datang menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu biar khusyuk, biar deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kamu bakal sedeket ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kamu minta. Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, dia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin biar bergelimang dosa aja dia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi.
Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gak Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak.

Sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Tersadarlah orang tadi. Ia pun beristighfar, sudah berprasangka buruk kepada Allah.
Padahal Allah betul-betul amat menyayanginya. Semoga kisah ini menjadi dapat pelajaran bagi kita semua... Aamiin ya rabb.

CERITA ISLAMI

Hikmah Dibalik Belum Terkabulnya Do'a


Ada seseorang yang rajin berdoa, minta sesuatu sama Allah. Orangnya sholeh. Ibadahnya baik. Tapi doa tak kunjung terkabul. Sebulan menunggu masih belum terkabul juga. Tetap dia berdoa. Tiga bulan juga belum. Tetap dia berdoa. Hingga hampir satu tahun doa yang ia panjatkan, belum terkabul juga.

Dia melihat teman kantornya. Orangnya biasa saja. Tak istimewa. Sholat masih bolong-bolong. Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran.

Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi.
Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.

Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana?
Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula. Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela.

Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz. Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah ketika melihat engkau, yang sholeh, datang menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu biar khusyuk, biar deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kamu bakal sedeket ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kamu minta. Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, dia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin biar bergelimang dosa aja dia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi.
Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gak Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak.

Sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Tersadarlah orang tadi. Ia pun beristighfar, sudah berprasangka buruk kepada Allah.
Padahal Allah betul-betul amat menyayanginya. Semoga kisah ini menjadi dapat pelajaran bagi kita semua... Aamiin ya rabb.

Keistimewaan Al-Akhfiya' (Orang Shalih yang Tersembunyi)




Imam Ibnul Mubarak (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah- menceritakan kisahnya, “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.

Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.

Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.

Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

Sumber: [PurWD/voa-islam.com]

CERITA ISLAMI

Keistimewaan Al-Akhfiya' (Orang Shalih yang Tersembunyi)




Imam Ibnul Mubarak (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah- menceritakan kisahnya, “Saya tiba di Mekkah ketika manusia ditimpa paceklik dan mereka sedang melaksanakan shalat istisqa’ di Masjid Al-Haram. Saya bergabung dengan manusia yang berada di dekat pintu Bani Syaibah. Tiba-tiba muncul seorang budak hitam yang membawa dua potong pakaian yang terbuat dari rami yang salah satunya dia jadikan sebagai sarung dan yang lainnya dia jadikan selendang di pundaknya.

Dia mencari tempat yang agak tersembunyi di samping saya. Maka saya mendengarnya berdoa, “Ya Allah, dosa-dosa yang banyak dan perbuatan-perbuatan yang buruk telah membuat wajah hamba-hamba-Mu menjadi suram, dan Engkau telah menahan hujan dari langit sebagai hukuman terhadap hamba-hamba-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu Wahai Yang Pemaaf yang tidak segera menimpakan adzab, Wahai Yang hamba-hamba-Nya tidak mengenalnya kecuali kebaikan, berilah mereka hujan sekarang.”

Dia terus mengatakan : “Berilah mereka hujan sekarang.”

Hingga langit pun penuh dengan awan dan hujan pun datang dari semua tempat. Dia masih duduk di tempatnya sambil terus bertasbih, sementara saya pun tidak mampu menahan air mata. Ketika dia bangkit meninggalkan tempatnya maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui di mana tempat tinggalnya.

Lalu saya pergi menemui Fudhail bin Iyyadh (Tabi'ut Tabi'in) -rahimahullah-. Ketika melihat saya maka dia pun bertanya, “Kenapa saya melihat dirimu nampak sangat sedih?”

Saya jawab, “Orang lain telah mendahului kita menuju Allah, maka Dia pun mencukupinya, sedangkan kita tidak.”

Dia bertanya, “Apa maksudnya?”

Maka saya pun menceritakan kejadian yang baru saja saya saksikan.

Mendengar cerita saya, Fudhail bin Iyyadh pun terjatuh karena tidak mampu menahan rasa haru.

Lalu dia pun berkata, “Celaka engkau wahai Ibnul Mubarak, bawalah saya menemuinya!”

Saya jawab, “Waktu tidak cukup lagi, biarlah saya sendiri yang akan mencari berita tentangnya.”

Maka keesokan harinya setelah shalat Shubuh saya pun menuju tempat tinggal budak yang saya lihat kemarin. Ternyata di depan pintu rumahnya sudah ada orang tua yang duduk di atas sebuah alas yang digelar. Ketika dia melihat saya maka dia pun langsung mengenali saya dan mengatakan, “marhaban (selamat datang –pent) wahai Abu Abdirrahman, apa keperluan Anda?”

Saya jawab, “Saya membutuhkan seorang budak hitam.”

Dia menjawab, “Saya memiliki beberapa budak, silahkan pilih mana yang Anda inginkan dari mereka?”

Lalu dia pun berteriak memanggil budak-budaknya. Maka keluarlah seorang budak yang kekar.

Tuannya tadi berkata, “Ini budak yang bagus, saya ridha untuk Anda.”

Saya jawab, “Ini bukan yang saya butuhkan.”

Maka dia memperlihatkan budaknya satu persatu kepada saya hingga keluarlah budak yang saya lihat kemarin. Ketika saya melihatnya maka saya pun tidak kuasa menahan air mata.

Tuannya bertanya kepada saya, “Diakah yang Anda inginkan?”

Saya jawab, “Ya.”

Tuannya berkata lagi, “Dia tidak mungkin dijual.”

Saya tanya, “Memangnya kenapa?”

Dia menjawab, “Saya mencari berkah dengan keberadaannya di rumah ini, di samping itu dia sama sekali tidak menjadi beban bagi saya.”

Saya tanyakan, “Lalu dari mana dia makan?”

Dia menjawab, “Dia mendapatkan setengah daniq (satu daniq=sepernam dirham –pent) atau kurang atau lebih dengan berjualan tali, itulah kebutuhan makan sehari-harinya. Kalau dia sedang tidak berjualan, maka pada hari itu dia gulung talinya. Budak-budak yang lain mengabarkan kepadaku bahwa pada malam hari dia tidak tidur kecuali sedikit. Dia pun tidak suka berbaur dengan budak-budak yang lain karena sibuk dengan dirinya. Hatiku pun telah mencintainya.”

Maka saya katakan kepada tuannya tersebut, “Saya akan pergi ke tempat Sufyan Ats-Tsaury dan Fudhail bin Iyyadh tanpa terpenuhi kebutuhan saya.”

Maka dia menjawab, “Kedatangan Anda kepada saya merupakan perkara yang besar, kalau begitu ambillah sesuai keinginan Anda!”

Maka saya pun membelinya dan saya membawanya menuju ke rumah Fudhail bin Iyyadh.

Setelah berjalan beberapa saat maka budak itu bertanya kepada saya, “Wahai tuanku!”

Saya jawab, “Labbaik.”

Dia berkata, “Jangan katakan kepada saya ‘labbaik’ karena seorang budak yang lebih pantas untuk mengatakan hal itu kepada tuannya.”

Saya katakan, “Apa keperluanmu wahai orang yang kucintai?”

Dia menjawab, “Saya orang yang fisiknya lemah, saya tidak mampu menjadi pelayan. Anda bisa mencari budak yang lain yang bisa melayani keperluan Anda. Bukankah telah ditunjukkan budak yang lebih kekar dibandingkan saya kepada Anda.”

Saya jawab, “Allah tidak akan melihatku menjadikanmu sebagai pelayan, tetapi saya akan membelikan rumah dan mencarikan istri untukmu dan justru saya sendiri yang akan menjadi pelayanmu.”

Dia pun menangis hingga saya pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?”

Dia menjawab, “Anda tidak akan melakukan semua ini kecuali Anda telah melihat sebagian hubunganku dengan Allah Ta’ala, kalau tidak maka kenapa Anda memilih saya dan bukan budak-budak yang lain ?!”

Saya jawab, “Engkau tidak perlu tahu hal ini.”

Dia pun berkata, “Saya meminta dengan nama Allah agar Anda memberitahukan kepada saya.”

Maka saya jawab, “Semua ini saya lakukan karena engkau orang yang terkabul doanya.”

Dia berkata kepada saya, “Sesungguhnya saya menilai –insya Allah– Anda adalah orang yang saleh. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hamba-hamba pilihan yang Dia tidak akan menyingkapkan keadaan mereka kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang Dia cintai, dan tidak akan menampakkan mereka kecuali kepada hamba yang Dia ridhai.”

Kemudian dia berkata lagi, “Bisakah Anda menunggu saya sebentar, karena masih ada beberapa rakaat shalat yang belum saya selesaikan tadi malam?”

Saya jawab, “Rumah Fudhail bin Iyyadh sudah dekat.”

Dia menjawab, “Tidak, di sini lebih saya sukai, lagi pula urusan Allah Azza wa Jalla tidak boleh ditunda-tunda.”

Maka dia pun masuk ke masjid melalui pintu halaman depan.

Dia terus mengerjakan shalat hingga selesai apa yang dia inginkan.

Setelah itu dia menoleh kepada saya seraya berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, apakah Anda memiliki keperluan?”

Saya jawab, “Kenapa engkau bertanya demikian?”

Dia menjawab, “Karena saya ingin pergi jauh.”

Saya bertanya, “Ke mana?”

Dia menjawab, “Ke Akhirat.”

Maka saya katakan, “Jangan engkau lakukan, biarkanlah saya merasa senang dengan keberadaanmu!”

Dia menjawab, “Hanyalah kehidupan ini terasa indah ketika hubungan antara saya dengan Allah Ta’ala tidak diketahui oleh seorang pun. Adapun setelah Anda mengetahuinya, maka orang lain akan ikut mengetahuinya juga, sehingga saya merasa tidak butuh lagi dengan semua yang Anda tawarkan tadi.”

Kemudian dia tersungkur sujud seraya berdoa, “Ya Allah, cabutlah nyawaku agar aku segera bertemu dengan-Mu sekarang juga!”

Maka saya pun mendekatinya, ternyata dia sudah meninggal dunia. Maka demi Allah, tidaklah saya mengingatnya kecuali saya merasakan kesedihan yang mendalam dan dunia ini tidak ada artinya lagi bagi saya.”

(Al-Muntazham Fii Taarikhil Umam, karya Ibnul Jauzy rahimahullah, 8/223-225)

Sumber: [PurWD/voa-islam.com]

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Kalender 2019

Kalender 2019
Perfect World Online Spear Thingy

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER SMKN 2 TEBING TINGGI.AYO SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENGAJI, DIJAMIN LANGSUNG LANCAR MEMBACA AL QUR'AN AYO BACA CERITA MENARIK HANYA DI BLOG INI SETIAP HARI KAMIS DAN SABTU PUKUL 19.00 WIB .
Islam Ornamental Art 2
SELAMAT DATANG DI BLOG MUSLIM CENTER. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT UNTUK ANDA DAN DAPATKAN SELURUH INFORMASI DISINI
AYO LIKE AND SUBSCRIBE DAKWAH STOP MOTION,TAQWA MEDIA DAN MUSLIM CENTER SMK 2 DI YOUTUBE KESAYANGAN ANDA.

back to top