SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER. KAMI AKAN MENYEDIAKAN BERITA DAN KONTEN ISLAMI TERUPDATE SETIAP MINGGUNYA
Post Yang Belum Di Upload
KISAH TA'ARUF (SAMBIL MENYELAM MENCARI MUTIARA)
DIKUTIP DARI: KUMPULAN CERITA DAN KISAH TELADAN



Kisah ini menceritakan tentang kisah Ta’aruf seseorang, unik dan menarik.

Akhir bulan maret lalu, Ali mendapat banyak ucapan “selamat ulang tahun”, “happy birthday” atau “met milad” dari kawan – kawannya di Facebook (FB). Hal itu dikarenakan profilnya disitus jejaring sosial tersebut menampilkan tanggal lahir sehingga otomatis ketika hari itu tiba, semua kawan – kawan mengetahuinya di Beranda/Home FB mereka.Biasanya, ucapan selamat selalu ditambahi “kata – kata bersayap” berupa do’a maupun harapan pada Ali ditahun mendatang.
Kata – kata bersayap tadi kebanyakan intinya sama yaitu mendo’akan Ali agar panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki dan … segera mendapat jodoh !
Harusnya hari ulang tahun jadi hari yang membahagiakan, namun bagi Ali tidak. Ba’da dzuhur ia masih menyendiri di masjid memegang tasbih sambil berdzikir menyebut asma Allah. Setelahnya ia berdo’a seraya bersyukur karena telah diberi umur panjang, badan yang sehat serta rezeki yang cukup. Ia juga memohon ampun pada Allah atas dosa maupun kesalahannya dimasa lalu.
Tiba – tiba ia teringat tulisan teman – temannya yang berharap ia segera mendapat jodoh. Ia pun lalu menambahi do’anya dengan ucapan,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Do’a yang diucapkan Ali tersebut merupakan ayat ke 74 dari surat Al – Furqon dalam Al Quran. Ia pernah mendengar dalam ceramah Aa Gym jika ingin segera mendapat jodoh, ucapkanlah ayat tersebut saat ba’da shalat wajib dan tahajud. Sudah berulang kali Ali berdo’a namun hingga usianya kini telah mendekati kepala tiga, belum ada tanda – tanda akan datangnya “bidadari” pendamping hidupnya.
Tiba – tiba dari sebelah Ali terdengar suara orang mengucapkan salam,“assalammu’alaikum”, katanya. Ali pun segera membalikkan badan dan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan sambil menjawab,”wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”.
Ternyata yang menghampiri Ali adalah sahabatnya yang bernama Rahmat Solihin, namun biasa dipanggil Mamat.
Ia membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Ali sambil berkata,”Li, ada undangan pengajian bulanan dari Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan. Kamu mau ikut, nggak ?”. Sejenak Ali membaca surat undangan pengajian bulanan tersebut lalu menjawab,”Ustadz Soefyan yang sering mengisi pengajian rutin dimasjid ini mengajak kita ke Pesantrennya ya.wah aku harus ikut nih, lagipula aku pengen banget merasakan suasana pengajian di Pesantren”, jawab Ali penuh semangat.
“kalau kamu mau ikut, nanti sore kita berangkat bersama Ustadz Yayat”, kata Rahmat.
”wah … kalau Ustadz Yayat ikut, aku tambah semangat nih pengen segera pergi ke Kota Hujan. Mat, tolong antar aku kerumah Ustadz Yayat sekarang ya”, kata Ali dengan semangat membara.
“mau ngapain ke rumah Ustadz Yayat sekarang ?”, Tanya Rahmat yang penasaran melihat tingkah Ali .”aku mau membicarakan sesuatu yang penting bersama beliau … hehe”, kata Ali lagi.
Setelah mengendarai Jupiter MX biru selama sepuluh menit, mereka berdua tiba dirumah Ustadz Yayat. Tuan rumah segera mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya yang sederhana lalu mereka berbicara enam mata diruang tamu.
Ali menceritakan keinginannya untuk ikut menghadiri pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan sambil meminta bantuan Ustadz Yayat membantunya mencarikan jodoh disana.
“jadi tujuan utama kamu kesini pengen minta dicarikan jodoh disana, Li ?”,tanya Ustadz Yayat.
“iya Pak Ustadz. Hari ini tak terasa usia saya sudah mendekati kepala tiga dan ingin segera punya istri”, jawab Ali.
Ia pun mulai menceritakan masa lalunya yang suka memendam perasaan cinta jika menyukai lawan jenisnya. Hingga akhirnya wanita yang dicintainya itu pun menikah dengan laki – laki lain. Ali sedih dan sering menyalahkan dirinya yang kurang berani namun disatu sisi yang lain ia pun sadar mungkin sudah takdirnya harus begitu.
Ustadz Yayat pun berkata bahwa ia punya seorang teman yang merupakan pengurus di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan. Temannya itu memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah dan masih menunggu laki – laki yang hendak meminangnya. Nama temannya itu adalah Ustadz Arifin, ia memiliki 8 anak dan anak keenamnya lah yang akan coba dikenalkan pada Ali.
Ali pun merasa beruntung.
Keinginannya dicarikan jodoh bisa terlaksana berkat bantuan Ustadz Yayat.
“Li, walaupun kamu hendak mencari jodoh atau taaruf disana, tetap tujuan utama adalah mengikuti pengajian bulanan Ustadz Soefyan. jangan lupa itu ya”, pinta Ustadz Yayat.
“iya Pak. Ibaratnya sambil menyelam, minum air … pengajiannya diikuti, sekalian cari jodoh.hehe”, jawab Ali sambil tersenyum lebar.
“Dasar, kamu ini. Kalau begini caranya sih bukan menyelam sambil minum air. Tapi lebih tepatnya sambil menyelam, cari mutiara ! hehehe … “, kata Ustadz Yayat sambil tertawa. Ali dan Rahmat pun ikut tertawa mendengar ucapan beliau tersebut.
Ba’da ashar mereka bertiga berangkat ke Kota Hujan dengan mengendarai motor. Karena Ali tidak memiliki motor, ia pun dibonceng Rahmat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan menjelang shalat magrib. Setelah mengikuti shalat berjamaah, mereka bertiga diajak keliling Pesantren oleh Ustadz Arifin. Secara pribadi Ali merasa kagum dengan suasana Pesantren tersebut. Dimana – mana terdengar lantunan ayat suci Al quran yang sedang dibaca para santri dan santriwati.
Ba’da isya mereka mengikuti pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan. Subhanallah jemaahnya banyak sekali, rupanya selain santri dan santriwati yang belajar di Pesantren tersebut, ikut hadir pula masyarakat setempat serta para alumni lulusan Pesantren yang telah menyebar ke berbagai kota.
Selesai pengajian bulanan, mereka bertiga dipersilahkan Ustadz Arifin untuk beristirahat diruang khusus tamu Pesantren.
Sebelum pamit pulang, Ustadz Arifin berkata pada Ustadz Yayat,”Pak Ustadz, besok sekitar jam 10 pagi ada orang yang akan mengantar kalian ke rumah saya. Tolong datang ya, kita silaturahim sekalian menjalankan proses taaruf saudara Ali”, katanya.
“insya Allah”, jawab Ustadz Yayat.
Keesokan harinya, diruang khusus tamu Pesantren nampak Ali beserta Rahmat dan Ustadz Yayat sedang menikmati kopi panas ditemani roti kukus yang disediakan pengurus Pesantren untuk mereka.
Tak lama kemudian datanglah lelaki seumuran Ali datang menjemput mereka bertiga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Arifin, Ali tak henti – hentinya berdo’a agar proses taaruf yang akan dilaksanakan hari ini berjalan lancar.
“Yaa Allah, lancarkanlah hari ini … jangan sampai gagal karena aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu dengan jodohku … amin”, bisik Ali dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Setelah melewati areal persawahan yang hijau kekuningan serta jalan yang berkelak – kelok naik turun, akhirnya mereka sampai di depan rumah Ustadz Arifin yang asri nan rindang. Ketika melihat rumah Ustadz Arifin, Ali jadi teringat kondisi rumah kakek dan neneknya di Kota Intan yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah tersebut. Rumah bercat hijau dikelilingi pagar bambu berlantaikan keramik putih dan memiliki halaman luas yang ditanami aneka pepohonan pasti membuat penghuni rumah betah mendiaminya.
Sesaat Ali menghirup sejuknya udara pagi itu, lalu tiba – tiba Ustadz Yayat menepuk pundaknya seraya berkata,”sudah siap bertemu calon bidadarinya ?”, Tanya sang Ustadz. “insya Allah siap Pak”, jawab Ali dengan mantap.
Dag … dig … dug …
Begitu memasuki gerbang rumah Pak Arifin, detak jantung didada Ali makin berdegup kencang. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
“kamu kenapa, Li ? tanya Rahmat.
“nggak Mat. Tapi kok aneh ya tubuhku tiba – tiba gemeteran seperti ini”, jawab Ali.
“nyantai saja … kamu kan nggak akan masuk kedalam kandang singa … cuma masuk kerumah camer alias calon mertua … hihihi ,” kata Rahmat sambil tertawa melihat kegugupan Ali.
“wajar kalau gugup, itu biasa. Niatkan saja kedatangan kita kesini untuk ibadah, silaturahim. pasti langkah kakimu akan jadi ringan”, seru Ustadz Yayat sambil memegang pundak Ali.
“iya Pak. Sudah aku putuskan untuk terus maju. Sekarang atau tidak sama sekali !”, jawab Ali dengan serius.
“nah gitu dong, baru itu Ali yang saya kenal”, balas Ustadz Yayat sambil tersenyum.
Dalam hati Ali berbisik,”semoga saja Allah nanti melancarkan lidahku saat berhadapan dengan Pak Ustadz Arifin … amin”.
“Assalammu’alaikum”, seru Ustadz Yayat sambil mengetuk pintu rumah.
“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, balas seorang laki – laki kira – kira usianya 30 tahunan. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk duduk diruang tamu.
“mungkin yang tadi membukakan pintu adalah kakaknya calonmu, Li”, bisik Rahmat.
“iya”, jawab Ali pendek.
Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan berjilbab warna biru menyuguhkan teh manis dan kue kering pada mereka bertiga.
Ali menatapnya dan hatinya berbisik lagi,”biasanya kalau taarufan, calonnya suka disuruh membawakan minuman pada tamu. Apa mungkin perempuan tadi, ya ? ah, kayaknya bukan. Kalau dilihat secara kasat mata, usia perempuan tadi mungkin sekitar 28 tahunan. Sedangkan kata Ustadz Yayat usia calonku antara 20 – 22 tahun”.
Saat yang mendebarkan pun dimulai.
Pak Ustadz Arifin datang menemui mereka dan duduk dikursi panjang bersama istrinya.
Dengan ramah beliau mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang baru saja disuguhkan.
Ustadz Yayat pun lalu memperkenalkan dua orang yang dibawanya saat itu, yaitu Ali dan sahabatnya, Rahmat.
“nak Ali sudah berapa kali ke Kota Hujan ? kata Ustadz Arifin membuka percakapan.
“sudah dua kali dengan sekarang, Pak”, jawab Ali.
Dulu, Ali pernah ke Kota Hujan mengantar pamannya yang menikah dengan santriwati dari Pesantren yang sama. Namun itu sudah lama sekali, waktu Ali masih duduk dibangku kelas 2 SMP.
Lalu percakapan pun berlanjut dengan saling memberi informasi tentang keadaan pribadi dan kedua keluarga.
Awalnya Ali merasa minder juga mengetahui keluarga Pak Arifin ternyata keluarga besar yang kental agamanya. Bahkan Pak Ustadz Arifin dan istrinya sudah menunaikan ibadah haji tahun lalu. Bandingkan dengan keadaan keluarga Ali yang biasa – biasa saja. Ayahnya hanya buruh bangunan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Jika Pak Ustadz Arifin seorang kyai, ayah Ali jauh dari itu.
Namun kemudian ia berpikir, mungkin ada hikmah dibalik semua ini.
“nak Ali kerja dimana ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya kerja di restoran bu”
“Sudah lama ?”
“iya bu, kurang lebih 2,5 tahun”
“wah, berarti nak Ali pintar masak dong ?”
“nggak juga bu, soalnya saya bukan koki … tapi … ah, saya malu menyebutkannya”, jawab Ali sambil memerah wajahnya.
“lantas sebagai apa ?” tanya istri Pak Ustadz Arifin makin penasaran.
“kalau kata teman – teman sih bu, kerjaan saya ini mirip seorang DJ (disc Jockey) di diskotik … tapi … sebenarnya bukan itu, bu”
“astagfirullahaladzim … jadi nak Ali tukang nyetel musik itu ya ?” tanya bu Arifin makin penasaran.
“bukan bu … saya bilang tadi cuma mirip … kalau di restoran itu, saya kerja sebagai tukang cuci piring. Kerjaannya kan mirip DJ, Cuma kalo DJ yang diputarnya piringan hitam musik, sedangkan saya memutar piring kotor yang belepotan bumbu dan sisa makanan … hehe”, kata Ali sambil tertawa kecil dan menundukkan kepalanya.
“oh begitu ya … kira ibu DJ yang suka nyetel musik di diskotik. nak Ali, ada – ada aja nih”, kata ibu sambil senyum melirik Ustadz Arifin.
Pak Ustadz pun berkata,”nak Ali nggak usah malu mengakui kerja seperti itu. kalau kerja keras terus, insya Allah nanti bakal naik jabatan jadi tukang masak di dapur. Bapak punya saudara yang kerja di Kota Kembang. Dulu ia kerja sebagai cleaning service di restoran, sekarang ia jadi koki karena rajin belajar masak pada koki disana kalau lagi ada waktu istirahat. Bapak tidak mempermasalahkan kerja nak Ali sebagai apa di Kota Kembang, asalkan bersumber dari yang halal dan dibelanjakan untuk tujuan halal, bapak ridha nak Ali jadi calon menantu bapak”.
Ali merasa lega mendengar ucapan Ustadz Arifin seperti itu. Di Kota Kembang banyak wanita yang memandang sebelah mata padanya karena ia kerja sebagai tukang cuci piring bergaji kecil.
“insya Allah Li, kalau kamu sudah menikah rezekimu pasti akan berlipat ganda. Bukan begitu Pak Ustadz “, tanya Ustadz Yayat pada Ustadz Arifin.
“Betul sekali. Dengan menikah, rezeki tidak hanya datang melalui kamu sendiri, tapi bisa juga datang dari istri, keluarganya bahkan banyak rezeki yang tak disangka – sangka akan menghampirimu. Hal itu sudah dijamin Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 32 yang artinya,” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Ah, kegugupan Ali semakin hilang mendengar Pak Ustadz Arifin berkata seperti itu. Tak jarang seorang pemuda yang siap menikah gagal mewujudkan pernikahannya karena saat taaruf keluarga sang istri materialistis. Mereka ingin memiliki calon menantu yang kaya, kerja mapan dan berkendaraan bagus, minimal punya motor.
“nak Ali sendiri punya kriteria calon istrinya seperti apa ?”, tanya Ustadz Arifin.
Ali terdiam cukup lama, kemudian berkata,”saya tidak punya kriteria calon istri harus seperti apa, namun saya ingin mengikuti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menyarankan kita untuk memilih calon pasangan hidup dari agamanya yang baik”, jawab Ali setengah diplomatis.
“namun dalam hati, saya juga punya keinginan bahwa seorang istri saya nanti haruslah berjilbab panjang, taat pada suaminya dan siap hidup sederhana. Begitu saja Pak”, sambung Ali.
“oh begitu. Nak Ali nggak pingin punya istri yang cantik ?”, tanya Ustadz Arifin hendak menguji Ali.
“bagi saya cantik akhlak lebih penting daripada sekedar cantik fisik. Di Kota Kembang banyak perempuan yang cantik fisiknya, namun saya kesulitan mencari yang cantik agama dan akhlaknya”, jawab Ali dengan mantap.
“jadi Ali rela jauh – jauh datang kemari demi mencari wanita shalehah ya ? subhanallah. Semoga Allah meridhai niat sucimu,nak”. Kata Ustadz Arifin terharu.
Dikaca jendela, Ali melihat sekumpulan wanita berjilbab berwarna biru yang duduk dibangku panjang. Ada yang sedang memegang bayi, balita dan seorang sedang membaca buku. Ali jadi penasaran, kira – kira calon istrinya yang mana, ya ?
Rupanya tingkah Ali yang sedang menengok jendela terlihat Pak Ustadz Arifin, beliau lalu bertanya,”nak Ali sudah tak sabar ya ingin bertemu anak bapak yang nantinya insya Allah jadi calon istrimu ?”
“iya Pak, kalau boleh saya ingin bertemu dengannya walau sebentar”, jawab Ali sambil tersipu malu.
“hehehe … ia tidak ada diantara perempuan yang duduk diluar itu, mereka itu kakak – kakaknya. Bapak kan punya 8 anak, 6 perempuan dan 2 laki – laki. Calonmu itu anak yang keenam”, katanya.
“lalu kalau calon saya ada dimana,Pak ?”, tanya Ali yang jadi penasaran.
“sebelumnya, memang nak Ali kenapa penasaran sekali ingin melihat calonnya ? takut anak bapak tidak cantik ya ? atau takut ia benjol atau gepeng gitu ya ? hahaha”, katanya sambil tertawa.
Ali tak bisa berkata apa – apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiba – tiba istri Pak Ustadz Arifin beranjak dari kursi lalu masuk ke ruang tengah rumah, tak lama kemudian ia datang lagi bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang warna putih dan bergamis pink alias merah jambu.
“ini anak bapak yang nantinya jadi calon istri nak Ali, coba lihat sekarang”, kata Pak Ustadz Arifin.
Ali yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebelah kiri. Dilihatnya sesosok perempuan anggun dan berparas ayu. Saat matanya beradu pandang dengan mata perempuan tersebut, keduanya langsung menundukkan kepalanya.
Desir – desir halus menyusup kedalam relung hati Ali, rasanya damai sekali.
“Yaa Allah, begitu indah perempuan ciptaanMu itu”, bisik hatinya.
“bagaimana nak Ali, sudah puas melihat anak bapak ? taarufnya mau berlanjut atau tidak ?”, Tanya Ustadz Arifin membuyarkan ketenangan hatinya.
“iya Pak, lanjutkan saja”, jawab Ali pendek namun tegas.
“Alhamdulillah”, seru hadirin yang ada diruangan tersebut.
Ali pun diberi tahu bahwa calonnya itu bernama Siti Aminah, usianya baru 22 tahun dan November nanti usianya beranjak jadi 23 tahun. Kesehariannya mengajar di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan.
“nak Ali sudah punya rencana mau menikah kapan ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya sih sudah punya rencana ingin menikah tanggal 10 – 10 – 2010”, jawab Ali
“alhamdulillah waktunya sebentar lagi. kalau boleh tahu kenapa ingin tanggal itu ? apa nak Ali ada perhitungan khusus “, tanyanya lagi.
“tidak bu. Saya tidak percaya pada penanggalan orang tua dulu yang menyebutkan ada anggapan hari baik atau hari buruk. saya memilih tanggal itu karena merasa unik saja, angkanya serba 10”, jawab Ali lagi.
“oh begitu. Syukurlah, ibu tidak mau jika nak Ali memiliki kepercayaan pada hari baik atau hari buruk seperti orang tua dulu. namun jika alasannya karena unik tadi, ibu bisa memahaminya.”
Selesai acara ngobrol perkenalan, mereka pun lantas mengajak Ali dan yang lainnya makan siang bersama. Usai makan, mereka berkumpul lagi diruang tamu.
“Bapak dan ibu, boleh saya memberi sesuatu untuk calon saya ?”, tanya Ali pada Pak Ustadz Arifin bersama istrinya.
“mau memberi apa nak Ali ? tak usah merepotkan nak Ali yang sudah jauh – jauh datang kesini”, jawabnya.
“nggak merepotkan Pak. Ini saya mau memberikan sebuah cerpen atau cerita pendek karya saya yang berjudul “Ustadz kupu – kupu” pada calon istri saya dan sebuah VCD yang didalamnya ada foto – foto saya waktu kecil hingga sekarang termasuk foto saya bersama keluarga di Kota Kembang. Hal ini saya lakukan agar kelak ia bisa lebih mengenal saya lewat karya – karya saya, maklum lah Pak saya punya hobi menulis cerpen dan memotret”, kata Ali sambil mnyerahkan sebuah cerpen dan VCD pada Pak Ustadz Arifin.
“saya terima dengan baik sesuatu dari nak Ali ini, mudah – mudahan bermanfaat dan bisa membuat kalian semakin saling mengenal satu sama lain”, katanya.
“syukurlah kalau nak Ali punya hobi positif menulis, jadikan tulisannya sebagai ladang dakwah lewat media massa. Bapak mendukung dakwah lewat tulisan yang sekarang jadi kegemaran nak Ali”, sambung Pak Ustadz lagi.
“alhamdulillah.terima kasih banyak Pak”.
Adzan dzuhur telah berkumandang, mereka pun segera shalat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sang Ustadz. Usai shalat, Ali dan rahmat yang diwakili Ustadz Yayat berpamitan untuk pulang. Insya Allah mereka akan kembali lagi dilain hari untuk melanjutkan ke tahap khitbah lalu walimah.
Suasana sangat cerah saat itu, secerah hati Ali.
“Alhamdulillah Yaa Rabb … Engkau telah melancarkan pertemuan hari ini”, do’a yang terlantun dari hati Ali yang tulus.
Diperjalanan pulang menuju Kota Kembang, Ustadz Yayat bertanya Pada Ali,”Bagaimana Li, ? puas dengan acara taarufannya ?”
“alhamdulillah, puas banget Pak. Benar – benar ibarat sambil menyelam, cari mutiara. Alhamdulillah keduanya lancar … pengajian bulanan diikuti, cari jodoh berhasil ! hehehe”, jawab Ali sambil tertawa.

Semoga Kita bisa memetik sesuatu yang bermanfaat dari cerita diatas.
Allahu A’lam

CERITA PAGI INI

KISAH TA'ARUF (SAMBIL MENYELAM MENCARI MUTIARA)
DIKUTIP DARI: KUMPULAN CERITA DAN KISAH TELADAN



Kisah ini menceritakan tentang kisah Ta’aruf seseorang, unik dan menarik.

Akhir bulan maret lalu, Ali mendapat banyak ucapan “selamat ulang tahun”, “happy birthday” atau “met milad” dari kawan – kawannya di Facebook (FB). Hal itu dikarenakan profilnya disitus jejaring sosial tersebut menampilkan tanggal lahir sehingga otomatis ketika hari itu tiba, semua kawan – kawan mengetahuinya di Beranda/Home FB mereka.Biasanya, ucapan selamat selalu ditambahi “kata – kata bersayap” berupa do’a maupun harapan pada Ali ditahun mendatang.
Kata – kata bersayap tadi kebanyakan intinya sama yaitu mendo’akan Ali agar panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki dan … segera mendapat jodoh !
Harusnya hari ulang tahun jadi hari yang membahagiakan, namun bagi Ali tidak. Ba’da dzuhur ia masih menyendiri di masjid memegang tasbih sambil berdzikir menyebut asma Allah. Setelahnya ia berdo’a seraya bersyukur karena telah diberi umur panjang, badan yang sehat serta rezeki yang cukup. Ia juga memohon ampun pada Allah atas dosa maupun kesalahannya dimasa lalu.
Tiba – tiba ia teringat tulisan teman – temannya yang berharap ia segera mendapat jodoh. Ia pun lalu menambahi do’anya dengan ucapan,”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.
Do’a yang diucapkan Ali tersebut merupakan ayat ke 74 dari surat Al – Furqon dalam Al Quran. Ia pernah mendengar dalam ceramah Aa Gym jika ingin segera mendapat jodoh, ucapkanlah ayat tersebut saat ba’da shalat wajib dan tahajud. Sudah berulang kali Ali berdo’a namun hingga usianya kini telah mendekati kepala tiga, belum ada tanda – tanda akan datangnya “bidadari” pendamping hidupnya.
Tiba – tiba dari sebelah Ali terdengar suara orang mengucapkan salam,“assalammu’alaikum”, katanya. Ali pun segera membalikkan badan dan menolehkan wajahnya ke sebelah kanan sambil menjawab,”wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”.
Ternyata yang menghampiri Ali adalah sahabatnya yang bernama Rahmat Solihin, namun biasa dipanggil Mamat.
Ia membawa secarik kertas lalu menyerahkannya pada Ali sambil berkata,”Li, ada undangan pengajian bulanan dari Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan. Kamu mau ikut, nggak ?”. Sejenak Ali membaca surat undangan pengajian bulanan tersebut lalu menjawab,”Ustadz Soefyan yang sering mengisi pengajian rutin dimasjid ini mengajak kita ke Pesantrennya ya.wah aku harus ikut nih, lagipula aku pengen banget merasakan suasana pengajian di Pesantren”, jawab Ali penuh semangat.
“kalau kamu mau ikut, nanti sore kita berangkat bersama Ustadz Yayat”, kata Rahmat.
”wah … kalau Ustadz Yayat ikut, aku tambah semangat nih pengen segera pergi ke Kota Hujan. Mat, tolong antar aku kerumah Ustadz Yayat sekarang ya”, kata Ali dengan semangat membara.
“mau ngapain ke rumah Ustadz Yayat sekarang ?”, Tanya Rahmat yang penasaran melihat tingkah Ali .”aku mau membicarakan sesuatu yang penting bersama beliau … hehe”, kata Ali lagi.
Setelah mengendarai Jupiter MX biru selama sepuluh menit, mereka berdua tiba dirumah Ustadz Yayat. Tuan rumah segera mempersilahkan mereka masuk kedalam rumahnya yang sederhana lalu mereka berbicara enam mata diruang tamu.
Ali menceritakan keinginannya untuk ikut menghadiri pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan di Pesantrennya di Kota Hujan sambil meminta bantuan Ustadz Yayat membantunya mencarikan jodoh disana.
“jadi tujuan utama kamu kesini pengen minta dicarikan jodoh disana, Li ?”,tanya Ustadz Yayat.
“iya Pak Ustadz. Hari ini tak terasa usia saya sudah mendekati kepala tiga dan ingin segera punya istri”, jawab Ali.
Ia pun mulai menceritakan masa lalunya yang suka memendam perasaan cinta jika menyukai lawan jenisnya. Hingga akhirnya wanita yang dicintainya itu pun menikah dengan laki – laki lain. Ali sedih dan sering menyalahkan dirinya yang kurang berani namun disatu sisi yang lain ia pun sadar mungkin sudah takdirnya harus begitu.
Ustadz Yayat pun berkata bahwa ia punya seorang teman yang merupakan pengurus di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan. Temannya itu memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah dan masih menunggu laki – laki yang hendak meminangnya. Nama temannya itu adalah Ustadz Arifin, ia memiliki 8 anak dan anak keenamnya lah yang akan coba dikenalkan pada Ali.
Ali pun merasa beruntung.
Keinginannya dicarikan jodoh bisa terlaksana berkat bantuan Ustadz Yayat.
“Li, walaupun kamu hendak mencari jodoh atau taaruf disana, tetap tujuan utama adalah mengikuti pengajian bulanan Ustadz Soefyan. jangan lupa itu ya”, pinta Ustadz Yayat.
“iya Pak. Ibaratnya sambil menyelam, minum air … pengajiannya diikuti, sekalian cari jodoh.hehe”, jawab Ali sambil tersenyum lebar.
“Dasar, kamu ini. Kalau begini caranya sih bukan menyelam sambil minum air. Tapi lebih tepatnya sambil menyelam, cari mutiara ! hehehe … “, kata Ustadz Yayat sambil tertawa. Ali dan Rahmat pun ikut tertawa mendengar ucapan beliau tersebut.
Ba’da ashar mereka bertiga berangkat ke Kota Hujan dengan mengendarai motor. Karena Ali tidak memiliki motor, ia pun dibonceng Rahmat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya mereka sampai di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan menjelang shalat magrib. Setelah mengikuti shalat berjamaah, mereka bertiga diajak keliling Pesantren oleh Ustadz Arifin. Secara pribadi Ali merasa kagum dengan suasana Pesantren tersebut. Dimana – mana terdengar lantunan ayat suci Al quran yang sedang dibaca para santri dan santriwati.
Ba’da isya mereka mengikuti pengajian bulanan yang diadakan Ustadz Soefyan. Subhanallah jemaahnya banyak sekali, rupanya selain santri dan santriwati yang belajar di Pesantren tersebut, ikut hadir pula masyarakat setempat serta para alumni lulusan Pesantren yang telah menyebar ke berbagai kota.
Selesai pengajian bulanan, mereka bertiga dipersilahkan Ustadz Arifin untuk beristirahat diruang khusus tamu Pesantren.
Sebelum pamit pulang, Ustadz Arifin berkata pada Ustadz Yayat,”Pak Ustadz, besok sekitar jam 10 pagi ada orang yang akan mengantar kalian ke rumah saya. Tolong datang ya, kita silaturahim sekalian menjalankan proses taaruf saudara Ali”, katanya.
“insya Allah”, jawab Ustadz Yayat.
Keesokan harinya, diruang khusus tamu Pesantren nampak Ali beserta Rahmat dan Ustadz Yayat sedang menikmati kopi panas ditemani roti kukus yang disediakan pengurus Pesantren untuk mereka.
Tak lama kemudian datanglah lelaki seumuran Ali datang menjemput mereka bertiga. Sepanjang perjalanan menuju rumah Ustadz Arifin, Ali tak henti – hentinya berdo’a agar proses taaruf yang akan dilaksanakan hari ini berjalan lancar.
“Yaa Allah, lancarkanlah hari ini … jangan sampai gagal karena aku tidak mau menunggu waktu lebih lama lagi untuk bertemu dengan jodohku … amin”, bisik Ali dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Setelah melewati areal persawahan yang hijau kekuningan serta jalan yang berkelak – kelok naik turun, akhirnya mereka sampai di depan rumah Ustadz Arifin yang asri nan rindang. Ketika melihat rumah Ustadz Arifin, Ali jadi teringat kondisi rumah kakek dan neneknya di Kota Intan yang keadaannya tak jauh berbeda dengan rumah tersebut. Rumah bercat hijau dikelilingi pagar bambu berlantaikan keramik putih dan memiliki halaman luas yang ditanami aneka pepohonan pasti membuat penghuni rumah betah mendiaminya.
Sesaat Ali menghirup sejuknya udara pagi itu, lalu tiba – tiba Ustadz Yayat menepuk pundaknya seraya berkata,”sudah siap bertemu calon bidadarinya ?”, Tanya sang Ustadz. “insya Allah siap Pak”, jawab Ali dengan mantap.
Dag … dig … dug …
Begitu memasuki gerbang rumah Pak Arifin, detak jantung didada Ali makin berdegup kencang. Ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
“kamu kenapa, Li ? tanya Rahmat.
“nggak Mat. Tapi kok aneh ya tubuhku tiba – tiba gemeteran seperti ini”, jawab Ali.
“nyantai saja … kamu kan nggak akan masuk kedalam kandang singa … cuma masuk kerumah camer alias calon mertua … hihihi ,” kata Rahmat sambil tertawa melihat kegugupan Ali.
“wajar kalau gugup, itu biasa. Niatkan saja kedatangan kita kesini untuk ibadah, silaturahim. pasti langkah kakimu akan jadi ringan”, seru Ustadz Yayat sambil memegang pundak Ali.
“iya Pak. Sudah aku putuskan untuk terus maju. Sekarang atau tidak sama sekali !”, jawab Ali dengan serius.
“nah gitu dong, baru itu Ali yang saya kenal”, balas Ustadz Yayat sambil tersenyum.
Dalam hati Ali berbisik,”semoga saja Allah nanti melancarkan lidahku saat berhadapan dengan Pak Ustadz Arifin … amin”.
“Assalammu’alaikum”, seru Ustadz Yayat sambil mengetuk pintu rumah.
“wa’alaikumussalaam warahmatullahi wabarakatuh”, balas seorang laki – laki kira – kira usianya 30 tahunan. Ia membukakan pintu dan mempersilahkan semuanya untuk duduk diruang tamu.
“mungkin yang tadi membukakan pintu adalah kakaknya calonmu, Li”, bisik Rahmat.
“iya”, jawab Ali pendek.
Tak lama kemudian datanglah seorang perempuan berjilbab warna biru menyuguhkan teh manis dan kue kering pada mereka bertiga.
Ali menatapnya dan hatinya berbisik lagi,”biasanya kalau taarufan, calonnya suka disuruh membawakan minuman pada tamu. Apa mungkin perempuan tadi, ya ? ah, kayaknya bukan. Kalau dilihat secara kasat mata, usia perempuan tadi mungkin sekitar 28 tahunan. Sedangkan kata Ustadz Yayat usia calonku antara 20 – 22 tahun”.
Saat yang mendebarkan pun dimulai.
Pak Ustadz Arifin datang menemui mereka dan duduk dikursi panjang bersama istrinya.
Dengan ramah beliau mempersilahkan kami memakan makanan ringan yang baru saja disuguhkan.
Ustadz Yayat pun lalu memperkenalkan dua orang yang dibawanya saat itu, yaitu Ali dan sahabatnya, Rahmat.
“nak Ali sudah berapa kali ke Kota Hujan ? kata Ustadz Arifin membuka percakapan.
“sudah dua kali dengan sekarang, Pak”, jawab Ali.
Dulu, Ali pernah ke Kota Hujan mengantar pamannya yang menikah dengan santriwati dari Pesantren yang sama. Namun itu sudah lama sekali, waktu Ali masih duduk dibangku kelas 2 SMP.
Lalu percakapan pun berlanjut dengan saling memberi informasi tentang keadaan pribadi dan kedua keluarga.
Awalnya Ali merasa minder juga mengetahui keluarga Pak Arifin ternyata keluarga besar yang kental agamanya. Bahkan Pak Ustadz Arifin dan istrinya sudah menunaikan ibadah haji tahun lalu. Bandingkan dengan keadaan keluarga Ali yang biasa – biasa saja. Ayahnya hanya buruh bangunan sedangkan ibunya ibu rumah tangga. Jika Pak Ustadz Arifin seorang kyai, ayah Ali jauh dari itu.
Namun kemudian ia berpikir, mungkin ada hikmah dibalik semua ini.
“nak Ali kerja dimana ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya kerja di restoran bu”
“Sudah lama ?”
“iya bu, kurang lebih 2,5 tahun”
“wah, berarti nak Ali pintar masak dong ?”
“nggak juga bu, soalnya saya bukan koki … tapi … ah, saya malu menyebutkannya”, jawab Ali sambil memerah wajahnya.
“lantas sebagai apa ?” tanya istri Pak Ustadz Arifin makin penasaran.
“kalau kata teman – teman sih bu, kerjaan saya ini mirip seorang DJ (disc Jockey) di diskotik … tapi … sebenarnya bukan itu, bu”
“astagfirullahaladzim … jadi nak Ali tukang nyetel musik itu ya ?” tanya bu Arifin makin penasaran.
“bukan bu … saya bilang tadi cuma mirip … kalau di restoran itu, saya kerja sebagai tukang cuci piring. Kerjaannya kan mirip DJ, Cuma kalo DJ yang diputarnya piringan hitam musik, sedangkan saya memutar piring kotor yang belepotan bumbu dan sisa makanan … hehe”, kata Ali sambil tertawa kecil dan menundukkan kepalanya.
“oh begitu ya … kira ibu DJ yang suka nyetel musik di diskotik. nak Ali, ada – ada aja nih”, kata ibu sambil senyum melirik Ustadz Arifin.
Pak Ustadz pun berkata,”nak Ali nggak usah malu mengakui kerja seperti itu. kalau kerja keras terus, insya Allah nanti bakal naik jabatan jadi tukang masak di dapur. Bapak punya saudara yang kerja di Kota Kembang. Dulu ia kerja sebagai cleaning service di restoran, sekarang ia jadi koki karena rajin belajar masak pada koki disana kalau lagi ada waktu istirahat. Bapak tidak mempermasalahkan kerja nak Ali sebagai apa di Kota Kembang, asalkan bersumber dari yang halal dan dibelanjakan untuk tujuan halal, bapak ridha nak Ali jadi calon menantu bapak”.
Ali merasa lega mendengar ucapan Ustadz Arifin seperti itu. Di Kota Kembang banyak wanita yang memandang sebelah mata padanya karena ia kerja sebagai tukang cuci piring bergaji kecil.
“insya Allah Li, kalau kamu sudah menikah rezekimu pasti akan berlipat ganda. Bukan begitu Pak Ustadz “, tanya Ustadz Yayat pada Ustadz Arifin.
“Betul sekali. Dengan menikah, rezeki tidak hanya datang melalui kamu sendiri, tapi bisa juga datang dari istri, keluarganya bahkan banyak rezeki yang tak disangka – sangka akan menghampirimu. Hal itu sudah dijamin Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 32 yang artinya,” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”.
Ah, kegugupan Ali semakin hilang mendengar Pak Ustadz Arifin berkata seperti itu. Tak jarang seorang pemuda yang siap menikah gagal mewujudkan pernikahannya karena saat taaruf keluarga sang istri materialistis. Mereka ingin memiliki calon menantu yang kaya, kerja mapan dan berkendaraan bagus, minimal punya motor.
“nak Ali sendiri punya kriteria calon istrinya seperti apa ?”, tanya Ustadz Arifin.
Ali terdiam cukup lama, kemudian berkata,”saya tidak punya kriteria calon istri harus seperti apa, namun saya ingin mengikuti sabda Rasulullah Muhammad SAW yang menyarankan kita untuk memilih calon pasangan hidup dari agamanya yang baik”, jawab Ali setengah diplomatis.
“namun dalam hati, saya juga punya keinginan bahwa seorang istri saya nanti haruslah berjilbab panjang, taat pada suaminya dan siap hidup sederhana. Begitu saja Pak”, sambung Ali.
“oh begitu. Nak Ali nggak pingin punya istri yang cantik ?”, tanya Ustadz Arifin hendak menguji Ali.
“bagi saya cantik akhlak lebih penting daripada sekedar cantik fisik. Di Kota Kembang banyak perempuan yang cantik fisiknya, namun saya kesulitan mencari yang cantik agama dan akhlaknya”, jawab Ali dengan mantap.
“jadi Ali rela jauh – jauh datang kemari demi mencari wanita shalehah ya ? subhanallah. Semoga Allah meridhai niat sucimu,nak”. Kata Ustadz Arifin terharu.
Dikaca jendela, Ali melihat sekumpulan wanita berjilbab berwarna biru yang duduk dibangku panjang. Ada yang sedang memegang bayi, balita dan seorang sedang membaca buku. Ali jadi penasaran, kira – kira calon istrinya yang mana, ya ?
Rupanya tingkah Ali yang sedang menengok jendela terlihat Pak Ustadz Arifin, beliau lalu bertanya,”nak Ali sudah tak sabar ya ingin bertemu anak bapak yang nantinya insya Allah jadi calon istrimu ?”
“iya Pak, kalau boleh saya ingin bertemu dengannya walau sebentar”, jawab Ali sambil tersipu malu.
“hehehe … ia tidak ada diantara perempuan yang duduk diluar itu, mereka itu kakak – kakaknya. Bapak kan punya 8 anak, 6 perempuan dan 2 laki – laki. Calonmu itu anak yang keenam”, katanya.
“lalu kalau calon saya ada dimana,Pak ?”, tanya Ali yang jadi penasaran.
“sebelumnya, memang nak Ali kenapa penasaran sekali ingin melihat calonnya ? takut anak bapak tidak cantik ya ? atau takut ia benjol atau gepeng gitu ya ? hahaha”, katanya sambil tertawa.
Ali tak bisa berkata apa – apa, ia hanya bisa menundukkan kepalanya.
Tiba – tiba istri Pak Ustadz Arifin beranjak dari kursi lalu masuk ke ruang tengah rumah, tak lama kemudian ia datang lagi bersama seorang perempuan muda berjilbab panjang warna putih dan bergamis pink alias merah jambu.
“ini anak bapak yang nantinya jadi calon istri nak Ali, coba lihat sekarang”, kata Pak Ustadz Arifin.
Ali yang tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke sebelah kiri. Dilihatnya sesosok perempuan anggun dan berparas ayu. Saat matanya beradu pandang dengan mata perempuan tersebut, keduanya langsung menundukkan kepalanya.
Desir – desir halus menyusup kedalam relung hati Ali, rasanya damai sekali.
“Yaa Allah, begitu indah perempuan ciptaanMu itu”, bisik hatinya.
“bagaimana nak Ali, sudah puas melihat anak bapak ? taarufnya mau berlanjut atau tidak ?”, Tanya Ustadz Arifin membuyarkan ketenangan hatinya.
“iya Pak, lanjutkan saja”, jawab Ali pendek namun tegas.
“Alhamdulillah”, seru hadirin yang ada diruangan tersebut.
Ali pun diberi tahu bahwa calonnya itu bernama Siti Aminah, usianya baru 22 tahun dan November nanti usianya beranjak jadi 23 tahun. Kesehariannya mengajar di Pesantren yang diasuh Ustadz Soefyan.
“nak Ali sudah punya rencana mau menikah kapan ?”, tanya istri Pak Ustadz Arifin.
“saya sih sudah punya rencana ingin menikah tanggal 10 – 10 – 2010”, jawab Ali
“alhamdulillah waktunya sebentar lagi. kalau boleh tahu kenapa ingin tanggal itu ? apa nak Ali ada perhitungan khusus “, tanyanya lagi.
“tidak bu. Saya tidak percaya pada penanggalan orang tua dulu yang menyebutkan ada anggapan hari baik atau hari buruk. saya memilih tanggal itu karena merasa unik saja, angkanya serba 10”, jawab Ali lagi.
“oh begitu. Syukurlah, ibu tidak mau jika nak Ali memiliki kepercayaan pada hari baik atau hari buruk seperti orang tua dulu. namun jika alasannya karena unik tadi, ibu bisa memahaminya.”
Selesai acara ngobrol perkenalan, mereka pun lantas mengajak Ali dan yang lainnya makan siang bersama. Usai makan, mereka berkumpul lagi diruang tamu.
“Bapak dan ibu, boleh saya memberi sesuatu untuk calon saya ?”, tanya Ali pada Pak Ustadz Arifin bersama istrinya.
“mau memberi apa nak Ali ? tak usah merepotkan nak Ali yang sudah jauh – jauh datang kesini”, jawabnya.
“nggak merepotkan Pak. Ini saya mau memberikan sebuah cerpen atau cerita pendek karya saya yang berjudul “Ustadz kupu – kupu” pada calon istri saya dan sebuah VCD yang didalamnya ada foto – foto saya waktu kecil hingga sekarang termasuk foto saya bersama keluarga di Kota Kembang. Hal ini saya lakukan agar kelak ia bisa lebih mengenal saya lewat karya – karya saya, maklum lah Pak saya punya hobi menulis cerpen dan memotret”, kata Ali sambil mnyerahkan sebuah cerpen dan VCD pada Pak Ustadz Arifin.
“saya terima dengan baik sesuatu dari nak Ali ini, mudah – mudahan bermanfaat dan bisa membuat kalian semakin saling mengenal satu sama lain”, katanya.
“syukurlah kalau nak Ali punya hobi positif menulis, jadikan tulisannya sebagai ladang dakwah lewat media massa. Bapak mendukung dakwah lewat tulisan yang sekarang jadi kegemaran nak Ali”, sambung Pak Ustadz lagi.
“alhamdulillah.terima kasih banyak Pak”.
Adzan dzuhur telah berkumandang, mereka pun segera shalat berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumah sang Ustadz. Usai shalat, Ali dan rahmat yang diwakili Ustadz Yayat berpamitan untuk pulang. Insya Allah mereka akan kembali lagi dilain hari untuk melanjutkan ke tahap khitbah lalu walimah.
Suasana sangat cerah saat itu, secerah hati Ali.
“Alhamdulillah Yaa Rabb … Engkau telah melancarkan pertemuan hari ini”, do’a yang terlantun dari hati Ali yang tulus.
Diperjalanan pulang menuju Kota Kembang, Ustadz Yayat bertanya Pada Ali,”Bagaimana Li, ? puas dengan acara taarufannya ?”
“alhamdulillah, puas banget Pak. Benar – benar ibarat sambil menyelam, cari mutiara. Alhamdulillah keduanya lancar … pengajian bulanan diikuti, cari jodoh berhasil ! hehehe”, jawab Ali sambil tertawa.

Semoga Kita bisa memetik sesuatu yang bermanfaat dari cerita diatas.
Allahu A’lam

MENGAPA PACARAN HARAM?, DISINI PENJELASANNYA...







Mengapa pacaran haram? Bukankah tidak ada dalil qoth’i yang melarang pacaran, yang dimaksud dalam Al-Quran itu adalah dilarang mendekati zina, bukan dilarang pacaran. Jadi jika pacaran tetapi tidak bermaksud untuk mendekati zina, tidak apa-apa kan??

Mungkin itulah pertanyaan bagi kaum muda yang mulai terjangkiti virus merah jambu. Penulis tahu banget koq kalau cinta itu fitrah (baca : Duh... Cinta!), tapi yang penting bagaimana kita mengarahkannya pada yang lebih positif (Baca : Menyikapi Rasa Cinta Pada Lawan Jenis). “Tapi mengapa pacaran haram?” Berbagai alasan pun muncul untuk menghalalkan perbuatan mereka, mulai dari pacaran islami(pacaran koq islami?), HTS (hubungan tanpa status) hingga label kakak adik.

Pacaran Islami ? Apa maksud dari pacaran islami ? Apakah pacaran dengan saling mendakwahi? SMSan riya saling memberi tausiyah ? (baca: Hukum SMS chatting telepon dengan lawan jenis bukan mahram)  Pacaran di pelataran masjid ? Pacaran dengan bahasa akhi ukhti ? Tidak ada istilah pacaran islami sebagaimana tidak ada istilah babi halal hanya karena baca bismillah. (Baca: 10 Logika penangkal pacaran Islami)

HTS, inilah yang juga banyak menjangkiti remaja muslim zaman sekarang. Gak mau pacaran tapi juga gak bisa nahan hasrat untuk dekat dengan lawan jenis. Naudzubillah !! Kalau ada istilah hubungan tanpa status, lebih baik tidak perlu berhubungan sekalian karena gak jelas kan statusnya? Beramal jangan setengah-setengah jika gak mau masuk surga setengah-setengah. Hehehe :D

“Kakak adik” Duh apa lagi nih !! Aneh melihat fenomena tersebut, berkhalwat dengan label “kakak adik”. Bentuk barus dari HTS tapi esensinya sama dengan pacaran. Kedekatan yang tidak seharusnya antara ikhwan akhwat bukan mahram. Bermanja-manja di facebook saling curhat seperti tidak ada hijab. Bukankah sebenarnya kita ini memang sudah sebagai saudara? Bukankah Allah telah berfirman, innamal mukmiunuuna ikhwah (sesungguhnya antara orang Islam itu bersaudara). Jadi, memang sudah seharusnya kita memposisikan sesama muslim itu sebagai saudara tanpa perlu melakukan upacara bahwa antum kakak ana dan ana adik antum. Betul??

Ada saja akal-akalan setan untuk menjerumuskan manusia. Selain 3 istilah di atas, saya yakin masih banyak istilah lain dan alasan lain bagi para pelaku pemuja hawa nafsu demi dilegalkannya perbuatan mereka. Lalu sebagai umat muslim yang mengaku bertaqwa, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja kembali pada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai titik tolak kebenaran.

Dalil-dalil dan penyebab haramnya esensi dari kedekatan khusus ikhwan akhwat bukan mahram :

Mengawali zina

Para pelaku pacaran bisa saja tak mengaku bahwa walaupun pacaran mereka tidak akan melakukan perzinaan. Asal tahu saja, semua orang yang berzina juga pada awalnya berkata hanya bermesraan... hanya smsan... hanya telpon-telponan. Ujung-ujungnya zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32).


Yang disuruh oleh Allah bukanlah berzina. Tapi dilarang mendekati zina. Jika mendekati zinanya saja sudah berdosa apalagi berzina. Syaikh 'Abdurrahman As Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan, "Larangan dalam ayat ini adalah larangan untuk mendekati zina. Larangan mendekati saja tidak dibolehkan apalagi sampai melakukan zina itu sendiri. Larangan mendekati zina ini meliputi larangan melakukan berbagai pendahuluan dan perantara menuju zina."

Dengan penuh kerendahan hati saya bertanya: Apalagi pintu zina yang paling lebar kalau bukan pacaran (dengan berbagai istilah)?

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Dalam hadits lain ketika beliau berkhotbah sholat gerhana matahari, beliau bersabda: “Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Dengan penuh kerendahan hati pula saya katakan, kita adalah manusia biasa. Tidak lepas dari nafsu syahwat, dan mudah tergoda oleh setan, tidak puas, lemah dan hatinya mudah terbolak-balik. Jadi tak patutlah jika kita menjamin bahwa pacaran yang kita lakukan tidak mendekati perzinaan. Pacaran pada hakikatnya adalah gerbang perzinaan tanpa perlu ditambah-tambah.

Berduaan dengan lawan jenis


Berduaan dengan lawan jenis merupakan salah satu pelanggaran yang tak bisa dipungkiri. Berduaan di tempat sepi, di tempat gelap, dll. Para pelaku pacaran Islami akan berkata bahwa mereka boleh jadi tidak berduaan di satu tempat sepi dan gelap, tapi berduaan dengan lawan jenis lewat sms, telpon, chatting, facebook dll hukumnya tetaplah berkhalwat. Baca : Hukum SMS chatting telepon dengan lawan jenis bukan mahram


Pada realitanya, aktivis dakwah (ikhwah) yang janjian ketemuan pun pada awalnya adalah khalwat lewat sms, telpon maupun dunia maya. Setan pun ujung-ujungnya takkan menyerah hingga terjadi apa yang mereka inginkan terjadi.

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih dilihat dari jalur lain)

Tidak menundukkan pandangan

Salah satu penyebab penyakit hati adalah mengumbar pandangan, padahal sudah jelas dalam surat An-Nur ayat 30-31 bahwa muslim dan muslimah diharuskan untuk menjaga pandangan mereka dari lawan jenis yang bukan mahram.

“Katakanlah (Muhammad) kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…” (An-Nur ayat 30-31)

Akibat dari tidak menundukkan pandangan adalah : Rusaknya hati, terancam jatuh pada zina, lupa ilmu, turunnya bala, merusak sebagian amal, melalaikan diri dari mengingat Allah dan hari akhirat, dan merendahnya mata.

Untuk lebih jelas tentang Ghadul Bashar (Menundukkan Pandangan) Baca tulisan saya : The Power of Ghadul Bashar (Menundukkan Pandangan)
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى      
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770).

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.”(HR. Ahmad)

Tidak menjaga aurat

Jika 3 point di atas adalah penyebab dari haramnya pacaran Islami, maka point selanjutnya ini adalah pacaran yang ada di pikiran orang zaman sekarang. Biasanya pihak prialah yang ingin menikmati keindahan tubuh dari sang pacar (Naudzubillah!) Padahal menutup aurat dengan berhijab adalah wajib.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 59).

Ibnu Abbas r.a. berkata, “ayat ini terkait dengan seorang laki-laki yang duduk pada suatu kaum. Lalu lewatlah seorang wanita. Namun bila teman-temannya melihat dirinya, dia menundukkan pandangannya. Sungguh Allah SWT mengetahui keinginan dirinya. Ia ingin andai dapat melihat aurat si wanita.” (Al Jami’li Ahkamil Qur’an, 15/198)

Bersentuhan dengan lawan jenis

Menyentuh lawan jenis dengan sengaja dalam keadaan tidak darurat hukumnya haram. Ini juga adalah salah satu pelanggaran berat dalam pacaran.  Rasululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda: “ Sungguh, kepala salah seorang diantara kamu ditikam dengan jarum besi lebih baginya daripada ia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya “. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi dengan Sanad Hasan Shahih).

Dari Asy-Syabi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat (baca: menyentuh) tangan dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marassi)

Jika 5 point di atas adalah penyebab pacaran haram menurut Al-Quran dan AlHadits, Di bawah ini saya akan mengulas Dampak dan Kerugian Pacaran :

Jelas berdosa
Bokek gara – gara keluar banyak duit buat SMS, nelpon, beliin coklat, kencan dll.
Membuang – buang waktu produktif
Bikin diri sendiri jadi bekasan buat jodoh yang sesungguhnya
Rentan untuk sakit hati
Setiap urusannya dipersulit
Murka Allah SWT
Rentan untuk melakukan seks bebas
Melawan perintah orang tua jika tidak direstui
Penyebab utama kasus bunuh diri
Lupa akan mengingat Allah. Contoh: saat sholat mikirin pacar
Kebangkrutan dunia akhirat
Kedua orang tuanya takkan diharamkan masuk surga
Akan saling memusuhi dengn pacarnya di akhirat kelak
Dijamin kehilangan privasi
Bikin gelisah pada hal-hal yang gak pasti
Merusaknya amal

Untuk dalil-dalilnya lihat di Dalam Islam Pacaran Itu Haram

Buat kamu-kamu kawan santri menulis yang masih pacaran... apa yang akan kamu lakukan sekarang? Jawabannya lebih baik putusin aja!! Belilah masa depanmu dengan menjadikannya masa lalumu! Bagaimana mau melangkah lebih jauh sementara kau tak memulai satu langkah kecil pun??

CERITA PAGI INI

MENGAPA PACARAN HARAM?, DISINI PENJELASANNYA...







Mengapa pacaran haram? Bukankah tidak ada dalil qoth’i yang melarang pacaran, yang dimaksud dalam Al-Quran itu adalah dilarang mendekati zina, bukan dilarang pacaran. Jadi jika pacaran tetapi tidak bermaksud untuk mendekati zina, tidak apa-apa kan??

Mungkin itulah pertanyaan bagi kaum muda yang mulai terjangkiti virus merah jambu. Penulis tahu banget koq kalau cinta itu fitrah (baca : Duh... Cinta!), tapi yang penting bagaimana kita mengarahkannya pada yang lebih positif (Baca : Menyikapi Rasa Cinta Pada Lawan Jenis). “Tapi mengapa pacaran haram?” Berbagai alasan pun muncul untuk menghalalkan perbuatan mereka, mulai dari pacaran islami(pacaran koq islami?), HTS (hubungan tanpa status) hingga label kakak adik.

Pacaran Islami ? Apa maksud dari pacaran islami ? Apakah pacaran dengan saling mendakwahi? SMSan riya saling memberi tausiyah ? (baca: Hukum SMS chatting telepon dengan lawan jenis bukan mahram)  Pacaran di pelataran masjid ? Pacaran dengan bahasa akhi ukhti ? Tidak ada istilah pacaran islami sebagaimana tidak ada istilah babi halal hanya karena baca bismillah. (Baca: 10 Logika penangkal pacaran Islami)

HTS, inilah yang juga banyak menjangkiti remaja muslim zaman sekarang. Gak mau pacaran tapi juga gak bisa nahan hasrat untuk dekat dengan lawan jenis. Naudzubillah !! Kalau ada istilah hubungan tanpa status, lebih baik tidak perlu berhubungan sekalian karena gak jelas kan statusnya? Beramal jangan setengah-setengah jika gak mau masuk surga setengah-setengah. Hehehe :D

“Kakak adik” Duh apa lagi nih !! Aneh melihat fenomena tersebut, berkhalwat dengan label “kakak adik”. Bentuk barus dari HTS tapi esensinya sama dengan pacaran. Kedekatan yang tidak seharusnya antara ikhwan akhwat bukan mahram. Bermanja-manja di facebook saling curhat seperti tidak ada hijab. Bukankah sebenarnya kita ini memang sudah sebagai saudara? Bukankah Allah telah berfirman, innamal mukmiunuuna ikhwah (sesungguhnya antara orang Islam itu bersaudara). Jadi, memang sudah seharusnya kita memposisikan sesama muslim itu sebagai saudara tanpa perlu melakukan upacara bahwa antum kakak ana dan ana adik antum. Betul??

Ada saja akal-akalan setan untuk menjerumuskan manusia. Selain 3 istilah di atas, saya yakin masih banyak istilah lain dan alasan lain bagi para pelaku pemuja hawa nafsu demi dilegalkannya perbuatan mereka. Lalu sebagai umat muslim yang mengaku bertaqwa, apa yang harus kita lakukan? Tentu saja kembali pada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai titik tolak kebenaran.

Dalil-dalil dan penyebab haramnya esensi dari kedekatan khusus ikhwan akhwat bukan mahram :

Mengawali zina

Para pelaku pacaran bisa saja tak mengaku bahwa walaupun pacaran mereka tidak akan melakukan perzinaan. Asal tahu saja, semua orang yang berzina juga pada awalnya berkata hanya bermesraan... hanya smsan... hanya telpon-telponan. Ujung-ujungnya zina.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32).


Yang disuruh oleh Allah bukanlah berzina. Tapi dilarang mendekati zina. Jika mendekati zinanya saja sudah berdosa apalagi berzina. Syaikh 'Abdurrahman As Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan, "Larangan dalam ayat ini adalah larangan untuk mendekati zina. Larangan mendekati saja tidak dibolehkan apalagi sampai melakukan zina itu sendiri. Larangan mendekati zina ini meliputi larangan melakukan berbagai pendahuluan dan perantara menuju zina."

Dengan penuh kerendahan hati saya bertanya: Apalagi pintu zina yang paling lebar kalau bukan pacaran (dengan berbagai istilah)?

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Dalam hadits lain ketika beliau berkhotbah sholat gerhana matahari, beliau bersabda: “Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Dengan penuh kerendahan hati pula saya katakan, kita adalah manusia biasa. Tidak lepas dari nafsu syahwat, dan mudah tergoda oleh setan, tidak puas, lemah dan hatinya mudah terbolak-balik. Jadi tak patutlah jika kita menjamin bahwa pacaran yang kita lakukan tidak mendekati perzinaan. Pacaran pada hakikatnya adalah gerbang perzinaan tanpa perlu ditambah-tambah.

Berduaan dengan lawan jenis


Berduaan dengan lawan jenis merupakan salah satu pelanggaran yang tak bisa dipungkiri. Berduaan di tempat sepi, di tempat gelap, dll. Para pelaku pacaran Islami akan berkata bahwa mereka boleh jadi tidak berduaan di satu tempat sepi dan gelap, tapi berduaan dengan lawan jenis lewat sms, telpon, chatting, facebook dll hukumnya tetaplah berkhalwat. Baca : Hukum SMS chatting telepon dengan lawan jenis bukan mahram


Pada realitanya, aktivis dakwah (ikhwah) yang janjian ketemuan pun pada awalnya adalah khalwat lewat sms, telpon maupun dunia maya. Setan pun ujung-ujungnya takkan menyerah hingga terjadi apa yang mereka inginkan terjadi.

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih dilihat dari jalur lain)

Tidak menundukkan pandangan

Salah satu penyebab penyakit hati adalah mengumbar pandangan, padahal sudah jelas dalam surat An-Nur ayat 30-31 bahwa muslim dan muslimah diharuskan untuk menjaga pandangan mereka dari lawan jenis yang bukan mahram.

“Katakanlah (Muhammad) kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…” (An-Nur ayat 30-31)

Akibat dari tidak menundukkan pandangan adalah : Rusaknya hati, terancam jatuh pada zina, lupa ilmu, turunnya bala, merusak sebagian amal, melalaikan diri dari mengingat Allah dan hari akhirat, dan merendahnya mata.

Untuk lebih jelas tentang Ghadul Bashar (Menundukkan Pandangan) Baca tulisan saya : The Power of Ghadul Bashar (Menundukkan Pandangan)
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى      
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770).

“Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangannya dari kecantikan seorang wanita, ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan di hatinya kelezatan sampai pada hari? Kiamat.”(HR. Ahmad)

Tidak menjaga aurat

Jika 3 point di atas adalah penyebab dari haramnya pacaran Islami, maka point selanjutnya ini adalah pacaran yang ada di pikiran orang zaman sekarang. Biasanya pihak prialah yang ingin menikmati keindahan tubuh dari sang pacar (Naudzubillah!) Padahal menutup aurat dengan berhijab adalah wajib.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Ahzab: 59).

Ibnu Abbas r.a. berkata, “ayat ini terkait dengan seorang laki-laki yang duduk pada suatu kaum. Lalu lewatlah seorang wanita. Namun bila teman-temannya melihat dirinya, dia menundukkan pandangannya. Sungguh Allah SWT mengetahui keinginan dirinya. Ia ingin andai dapat melihat aurat si wanita.” (Al Jami’li Ahkamil Qur’an, 15/198)

Bersentuhan dengan lawan jenis

Menyentuh lawan jenis dengan sengaja dalam keadaan tidak darurat hukumnya haram. Ini juga adalah salah satu pelanggaran berat dalam pacaran.  Rasululloh Shallallahu’ Alaihi Wa Sallam bersabda: “ Sungguh, kepala salah seorang diantara kamu ditikam dengan jarum besi lebih baginya daripada ia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya “. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi dengan Sanad Hasan Shahih).

Dari Asy-Syabi bahwa Nabi saw. ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu beliau meletakkannya di atas tangan beliau, seraya berkata, “Aku tidak berjabat (baca: menyentuh) tangan dengan wanita.” (HR Abu Daud dalam al-Marassi)

Jika 5 point di atas adalah penyebab pacaran haram menurut Al-Quran dan AlHadits, Di bawah ini saya akan mengulas Dampak dan Kerugian Pacaran :

Jelas berdosa
Bokek gara – gara keluar banyak duit buat SMS, nelpon, beliin coklat, kencan dll.
Membuang – buang waktu produktif
Bikin diri sendiri jadi bekasan buat jodoh yang sesungguhnya
Rentan untuk sakit hati
Setiap urusannya dipersulit
Murka Allah SWT
Rentan untuk melakukan seks bebas
Melawan perintah orang tua jika tidak direstui
Penyebab utama kasus bunuh diri
Lupa akan mengingat Allah. Contoh: saat sholat mikirin pacar
Kebangkrutan dunia akhirat
Kedua orang tuanya takkan diharamkan masuk surga
Akan saling memusuhi dengn pacarnya di akhirat kelak
Dijamin kehilangan privasi
Bikin gelisah pada hal-hal yang gak pasti
Merusaknya amal

Untuk dalil-dalilnya lihat di Dalam Islam Pacaran Itu Haram

Buat kamu-kamu kawan santri menulis yang masih pacaran... apa yang akan kamu lakukan sekarang? Jawabannya lebih baik putusin aja!! Belilah masa depanmu dengan menjadikannya masa lalumu! Bagaimana mau melangkah lebih jauh sementara kau tak memulai satu langkah kecil pun??

PENGUMUMAN

Assalamualaikum wr.wb

Diberitahukan kepada seluruh anak rohis bahwasanya kita akan mengadakan sebuah gotong royong yaitu membersihkan mushola,membersihkan taman taman sekitar mushola serta mentata taman taman dan lingkungan mushola agar terlihat bersih indah, dan asri. Adapun kegiatan gotong royong akan dilaksanakan pada:


Tanggal                    : 3 November 2017
Hari                           : Jum’at
Tempat                     : Mushola Darul Ulum
Pukul                        : 14.00 wib s/d selesai



Demikian pengumuman ini dapat disampaikan, semoga kegiatan gotong royong nanti dapat berjalan dengan lancar dan dapat dilaksanakan dengan baik... wassalamualaikum wr.wb





PENGUMUMAN

PENGUMUMAN

Assalamualaikum wr.wb

Diberitahukan kepada seluruh anak rohis bahwasanya kita akan mengadakan sebuah gotong royong yaitu membersihkan mushola,membersihkan taman taman sekitar mushola serta mentata taman taman dan lingkungan mushola agar terlihat bersih indah, dan asri. Adapun kegiatan gotong royong akan dilaksanakan pada:


Tanggal                    : 3 November 2017
Hari                           : Jum’at
Tempat                     : Mushola Darul Ulum
Pukul                        : 14.00 wib s/d selesai



Demikian pengumuman ini dapat disampaikan, semoga kegiatan gotong royong nanti dapat berjalan dengan lancar dan dapat dilaksanakan dengan baik... wassalamualaikum wr.wb





KISAH MENGHARUKAN DARI TANAH ARAB


Saya hendak share cerita yang dikirimkan oleh teman melalui email, insya Allah sangat bermanfaat untuk kita semua. Silahkan disimak dan dibaca.
… KISAH NYATA DARI TANAH ARAB …
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.
Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.
Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.
Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.
Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
“Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.
“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.
Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
Saya mendengarkan dengan seksama.
Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.
Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.
Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.
Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.
Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..
Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang.
Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.
Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
Adzan dzuhur bergema .. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.
Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.
Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.
Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.
Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil .. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya. Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.
Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.
Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Ammar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.
Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
Tubuh Ammar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,
Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”
Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.
Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap!
Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.
Nothing Imposible for Allah,
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah, ..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.
Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah…
Seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)
Allahuakbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya …
Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah …
— Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini … Itu hanyalah dari kami … dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala ., kami mohon ampunan … —-
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …

CERITA ISLAMI MASA KINI

KISAH MENGHARUKAN DARI TANAH ARAB


Saya hendak share cerita yang dikirimkan oleh teman melalui email, insya Allah sangat bermanfaat untuk kita semua. Silahkan disimak dan dibaca.
… KISAH NYATA DARI TANAH ARAB …
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan banyak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.
Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga kerja di Hotel ini.
Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.
Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah dikulit saya.
Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
“Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.
“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.
Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
Saya mendengarkan dengan seksama.
Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu.
Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.
Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.
Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.
Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir..
Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang.
Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya.
Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.
Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
Adzan dzuhur bergema .. Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu.. memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air.
Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.
Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana. Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara, Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.
Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak anaknya.
Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.
Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.
Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil .. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya. Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke Negerinya.
Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.
Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Ammar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji dinegeri ini.
Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Amar.
Tubuh Ammar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,
Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”
Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.
Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap!
Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.
Nothing Imposible for Allah,
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah, ..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan Nya.
Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah…
Seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Al Fushilat 35)
Allahuakbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya …
Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …
~ o ~
Salam santun dan keep istiqomah …
— Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini … Itu hanyalah dari kami … dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala ., kami mohon ampunan … —-
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …

KISAH BAKTI SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA YANG MEMILIKI KETERBELAKANGAN MENTAL

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy
Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :
“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…
Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Pemuda itu menjawab :
“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”
Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”
Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..
Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”
Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”
Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”
Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”
Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”
Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.
Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”
Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”
Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”
Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”
Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”
Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…
Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”
Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.
Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.
Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…
Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…
Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.
Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….
seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???.

CERITA ISLAMI MASA KINI

KISAH BAKTI SEORANG ANAK KEPADA IBUNYA YANG MEMILIKI KETERBELAKANGAN MENTAL

Oleh : Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairy
Salah seorang dokter bercerita tentang kisah sangat menyentuh yang pernah dialaminya…
Hingga aku tidak dapat menahan diri saat mendengarnya…
Aku pun menangis karena tersentuh kisah tersebut…
Dokter itu memulai ceritanya dengan mengatakan :
“Suatu hari, masuklah seorang wanita lanjut usia ke ruang praktek saya di sebuah Rumah Sakit. Wanita itu ditemani seorang pemuda yang usianya sekitar 30 tahun. Saya perhatikan pemuda itu memberikan perhatian yang lebih kepada wanita tersebut dengan memegang tangannya, memperbaiki pakaiannya, dan memberikan makanan serta minuman padanya…
Setelah saya menanyainya seputar masalah kesehatan dan memintanya untuk diperiksa, saya bertanya pada pemuda itu tentang kondisi akalnya, karena saya dapati bahwa perilaku dan jawaban wanita tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan yang ku ajukan.
Pemuda itu menjawab :
“Dia ibuku, dan memiliki keterbelakangan mental sejak aku lahir”
Keingintahuanku mendorongku untuk bertanya lagi : “Siapa yang merawatnya?”
Ia menjawab : “Aku”
Aku bertanya lagi : “Lalu siapa yang memandikan dan mencuci pakaiannya?”
Ia menjawab : “Aku suruh ia masuk ke kamar mandi dan membawakan baju untuknya serta menantinya hingga ia selesai. Aku yang melipat dan menyusun bajunya di lemari. Aku masukkan pakaiannya yang kotor ke dalam mesin cuci dan membelikannya pakaian yang dibutuhkannya”
Aku bertanya : “Mengapa engkau tidak mencarikan untuknya pembantu?”
Ia menjawab : “Karena ibuku tidak bisa melakukan apa-apa dan seperti anak kecil, aku khawatir pembantu tidak memperhatikannya dengan baik dan tidak dapat memahaminya, sementara aku sangat paham dengan ibuku”
Aku terperangah dengan jawabannya dan baktinya yang begitu besar..
Aku pun bertanya : “Apakah engkau sudah beristri?”
Ia menjawab : “Alhamdulillah, aku sudah beristri dan punya beberapa anak”
Aku berkomentar : “Kalau begitu berarti istrimu juga ikut merawat ibumu?”
Ia menjawab : “Istriku membantu semampunya, dia yang memasak dan menyuguhkannya kepada ibuku. Aku telah mendatangkan pembantu untuk istriku agar dapat membantu pekerjaannya. Akan tetapi aku berusaha selalu untuk makan bersama ibuku supaya dapat mengontrol kadar gulanya”
Aku Tanya : “Memangnya ibumu juga terkena penyakit Gula?”
Ia menjawab : “Ya, (tapi tetap saja) Alhamdulillah atas segalanya”
Aku semakin takjub dengan pemuda ini dan aku berusaha menahan air mataku…
Aku mencuri pandang pada kuku tangan wanita itu, dan aku dapati kukunya pendek dan bersih.
Aku bertanya lagi : “Siapa yang memotong kuku-kukunya?”
Ia menjawab : “Aku. Dokter, ibuku tidak dapat melakukan apa-apa”
Tiba-tiba sang ibu memandang putranya dan bertanya seperti anak kecil : “Kapan engkau akan membelikan untukku kentang?”
Ia menjawab : “Tenanglah ibu, sekarang kita akan pergi ke kedai”
Ibunya meloncat-loncat karena kegirangan dan berkata : “Sekarang…sekarang!”
Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata : “Demi Allah, kebahagiaanku melihat ibuku gembira lebih besar dari kebahagiaanku melihat anak-anakku gembira…”
Aku sangat tersentuh dengan kata-katanya…dan aku pun pura-pura melihat ke lembaran data ibunya.
Lalu aku bertanya lagi : “Apakah Anda punya saudara?”
Ia menjawab : “Aku putranya semata wayang, karena ayahku menceraikannya sebulan setelah pernikahan mereka”
Aku bertanya : “Jadi Anda dirawat ayah?”
Ia menjawab : “Tidak, tapi nenek yang merawatku dan ibuku. Nenek telah meninggal – semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya – saat aku berusia 10 tahun”
Aku bertanya : “Apakah ibumu merawatmu saat Anda sakit, atau ingatkah Anda bahwa ibu pernah memperhatikan Anda? Atau dia ikut bahagia atas kebahagiaan Anda, atau sedih karena kesedihan Anda?”
Ia menjawab : “Dokter…sejak aku lahir ibu tidak mengerti apa-apa…kasihan dia…dan aku sudah merawatnya sejak usiaku 10 tahun”
Aku pun menuliskan resep serta menjelaskannya…
Ia memegang tangan ibunya dan berkata : “Mari kita ke kedai..”
Ibunya menjawab : “Tidak, aku sekarang mau ke Makkah saja!”
Aku heran mendengar ucapan ibu tersebut…
Maka aku bertanya padanya : “Mengapa ibu ingin pergi ke Makkah?”
Ibu itu menjawab dengan girang : “Agar aku bisa naik pesawat!”
Aku pun bertanya pada putranya : “Apakah Anda akan benar-benar membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Tentu…aku akan mengusahakan berangkat kesana akhir pekan ini”
Aku katakan pada pemuda itu : “Tidak ada kewajiban umrah bagi ibu Anda…lalu mengapa Anda membawanya ke Makkah?”
Ia menjawab : “Mungkin saja kebahagiaan yang ia rasakan saat aku membawanya ke Makkah akan membuat pahalaku lebih besar daripada aku pergi umrah tanpa membawanya”.
Lalu pemuda dan ibunya itu meninggalkan tempat praktekku.
Aku pun segera meminta pada perawat agar keluar dari ruanganku dengan alasan aku ingin istirahat…
Padahal sebenarnya aku tidak tahan lagi menahan tangis haru…
Aku pun menangis sejadi-jadinya menumpahkan seluruh yang ada dalam hatiku…
Aku berkata dalam diriku : “Begitu berbaktinya pemuda itu, padahal ibunya tidak pernah menjadi ibu sepenuhnya…
Ia hanya mengandung dan melahirkan pemuda itu…
Ibunya tidak pernah merawatnya…
Tidak pernah mendekap dan membelainya penuh kasih sayang…
Tidak pernah menyuapinya ketika masih kecil…
Tidak pernah begadang malam…
Tidak pernah mengajarinya…
Tidak pernah sedih karenanya…
Tidak pernah menangis untuknya…
Tidak pernah tertawa melihat kelucuannya…
Tidak pernah terganggu tidurnya disebabkan khawatir pada putranya…
Tidak pernah….dan tidak pernah…!
Walaupun demikian…pemuda itu berbakti sepenuhnya pada sang ibu”.
Apakah kita akan berbakti pada ibu-ibu kita yang kondisinya sehat….
seperti bakti pemuda itu pada ibunya yang memiliki keterbelakangan mental???.

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Kalender 2019

Kalender 2019
Perfect World Online Spear Thingy

Masehi HijriyahPerhitungan pada sistem konversi Masehi – Hijriah ini memungkinkan terjadi selisih H-1 atau H+1 dari tanggal seharusnya untuk tanggal Hijriyah

SELAMAT BERGABUNG DI MUSLIM CENTER SMKN 2 TEBING TINGGI.AYO SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA UNTUK MENGAJI, DIJAMIN LANGSUNG LANCAR MEMBACA AL QUR'AN AYO BACA CERITA MENARIK HANYA DI BLOG INI SETIAP HARI KAMIS DAN SABTU PUKUL 19.00 WIB .
Islam Ornamental Art 2
SELAMAT DATANG DI BLOG MUSLIM CENTER. SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT UNTUK ANDA DAN DAPATKAN SELURUH INFORMASI DISINI
AYO LIKE AND SUBSCRIBE DAKWAH STOP MOTION,TAQWA MEDIA DAN MUSLIM CENTER SMK 2 DI YOUTUBE KESAYANGAN ANDA.

back to top